Tuhan, Beri Aku Hudan!

Maya Wulan
http://www.sinarharapan.co.id/

/1/
Malam itu Anne tampak sangat terburu-buru. Dimasukkannya semua barang miliknya yang selama ini menjadi sahabat setianya sehari-hari. Mulai dari perlengkapan make-up, baju-baju seksi, sampai kondom impor yang tersisa.
?Kau mau pergi?? tanya seorang temannya.
Ya, aku akan pergi. Sahut Anne dalam hati. Aku sudah memutuskannya, dan tidak ada lagi yang bisa menghalangi niatku untuk meninggalkan tempat terkutuk ini. Semua akan berakhir sejak malam ini, saat aku melangkahkan kaki keluar. Tidak ada lagi menoleh ke belakang, atau sekedar mendengarkan panggilan teman-teman lama. Aku mau pergi, untuk selamanya.
Anne memperhatikan tasnya, kemudian menatap ke arah temannya yang masih berdiri di pintu. ?Kau bekerja malam ini?? tanyanya.
?Seperti biasa. Bapak pejabat langganan tetapku.? Perempuan cantik itu melirik arlojinya, ?Mungkin sebentar lagi.?
Anne merogoh ke dalam salah satu kantung tasnya, dan mengambil beberapa bungkus kondom impor miliknya. Diberikannya kondom-kondom mahal itu pada temannya. ?Ini, untukmu saja.?
?Pelangganku jarang yang mau pakai beginian.?
?Anggap saja kenang-kenangan dariku.? timpal Anne asal-asalan.
?Kenapa tiba-tiba kau mau berhenti??
?Dua hari lagi masuk bulan puasa.?
Perempuan yang masih memperhatikan Anne mengemasi barang-barangnya itu menjadi sangat terkejut. ?Anne, jadi kau ini Islam juga??
Sialan, batin Anne. Apa tempat ini juga bisa membuat agama seseorang jadi tidak terlihat sama sekali? ?Memang kau pikir aku apa??
?Bukan begitu. Kukira kau memang Islam. Tapi, kita sudah bekerja di sini hampir tujuh tahun. Sekarang, tiba-tiba kau mau pergi karena dua hari lagi bulan puasa. Anne, rasanya aneh sekali.?

/2/
?Jadi begitu ceritanya anak bisa sampai kemari.?
Anne duduk diam di depan Pak Haji, di sebuah masjid. Ia katakan kalau ia bersungguh-sungguh ingin meninggalkan dunia lamanya. Ia ungkapkan rasa ingin tahunya pada apa yang pernah didengarnya dari ibunya puluhan tahun lalu.
?Apa yang ibumu katakan??
?Ia membicarakan sebuah taman yang tak pernah menemu musim kering. Tentang penghuni di dalamnya yang senantiasa merasa teduh dan nyaman. Dengan lingkaran cahaya putih mengitari tubuh-tubuh mereka, membuat setiapnya terjauhkan dari kesusahan dan bahaya yang mengintai. Juga awan-awan dan hujan yang membasahi kelopak-kelopak jiwa yang gersang. Atau sinar matahari yang terus memancar menerangi pelupuk-pelupuk mata yang redup.? Anne membetulkan posisi duduknya. ?Tapi ibuku tak pernah mengatakan taman apakah itu.?
?Semoga ini menjadi awal di mana anak mendapatkan hudan. Berangkat dan mulailah bicara dengan hati.?
Anne masih ingin bertanya, tetapi laki-laki di depannya itu sudah menyuruhnya untuk segera pulang. ?Sudah larut, pulanglah dulu.?
Di rumah barunya, Anne tak bisa memejamkan matanya. Ia teringat pada perkataan Pak Haji tentang hudan dan hati. Perempuan itu benar-benar tidak mengerti mengapa laki-laki itu menyebut-nyebut hudan. Bagaimana Pak Haji bisa tahu tentang Hudan? pikir Anne. Apa Pak Haji juga mengenal Hudan seperti Anne mengenalnya? Apa ini suatu kebetulan, atau bagaimana? Tidak mungkin Pak Haji kenal dengan Hudan, laki-laki yang pernah menjadi orang terdekat Anne, saat masih bekerja sebagai perempuan malam. Hudan memang langganan tetap Anne yang pernah menjadi sangat istimewa dalam hati Anne, tapi Anne tak pernah berpikir bisa mendapatkan laki-laki itu. Lalu kenapa Pak Haji berharap ini menjadi awal di mana Anne mendapatkan Hudan, laki-laki di masa lalunya? Sementara Anne sudah bertekad untuk tidak menoleh ke belakang lagi.
Belum lagi Anne sempat berpikir tentang kata-kata Pak Haji soal bicara dengan hati, kelelahan sudah lebih dulu merebut kesadaran perempuan itu.
Esoknya Anne kembali menemui Pak Haji di masjid dekat rumah barunya. Ia tak sabar untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya. Ia bertanya tentang hudan yang disebut Pak Haji, juga perihal berbicara dengan hati. Pak Haji seraya tersenyum menjelaskan bahwa hudan yang dimaksudkannya tidak lain adalah petunjuk dari-Nya. Mendengar itu Anne hanya bisa memasang wajah setengah memerah.
?Lalu apa maksud bicara dengan hati??
?Kalau anak ingin kembali ke jalan-Nya, kembalilah dengan hati. Dengan keikhlasan penuh dan keyakinan yang kuat. Tidak sekedar mengatakannya dengan mulut semata.?
Anne mengerti, namun perasaannya mendadak goyah. Dalam jiwanya timbul rentetan pertanyaan, sanggupkah ia? Mampukah ia? Aku pasti bisa! Serunya. Tapi bagaimana dengan hatinya?

/3/
Malam ini di rumahnya, Anne merenungkan perasaannya. Namun semakin lama ia justru semakin tak yakin dengan dirinya sendiri. Terutama hatinya. Ia biarkan jiwanya terbang mengikuti buaian angin malam yang merasuk masuk lewat jendela kamarnya yang terbuka lebar. Sesekali matanya terkatup ditingkahi semilir hembusan dingin itu.
Dalam pandangannya, tiba-tiba Anne melihat bayangan seseorang berdiri tepat di hadapannya. Suara laki-laki perlahan sampai di telinganya. ?Katakan keinginanmu, kalau kau mau melihat hatimu.?
?Siapa kau??
?Bukan laki-laki dari masa lalumu. Katakan saja apa yang kau mau. Kau akan lihat seperti apa hatimu.?
Anne mulai bisa melihat kehadiran sosok itu sedikit lebih jelas. Tampak cahaya terang mengelilingi tubuh laki-laki itu. Ketika Anne mencoba ingin menatap wajahnya, sinar yang menyilaukan mengalahkan kekuatan mata Anne.
?Katakan.?
?Seperti apa?? sahut Anne.
?Apa saja.?
?Aku ingin membeli tasbih, tapi tak sempat. Berikan aku tasbih.?
Seketika di pangkuan Anne muncul seuntai butiran-butiran yang terjalin rapi. Tapi betapa terkejutnya Anne ketika memegang dan melihat untaian itu. ?Ini bukan tasbih, ini kalung mutiara.? Suara Anne terasa tercekat di tenggorokannya sendiri.
?Itu yang terlukis di hatimu. Katakan lagi keinginanmu.?
?Aku ingin tinggal di lingkungan para santri.? pinta Anne.
Dalam sekedipan mata, Anne bisa melihat lingkungan yang berbeda dari sebelumnya. Ia merasa sangat mengenal daerah ini. Serentak Anne menyadari kalau lingkungan itu adalah areal lokalisasi tempat di mana ia tinggal dulu. Dari balik sebuah pintu muncul teman lama Anne. ?Anne? Kau kembali?? katanya. Perempuan itu mendadak berubah histeris. ?Apa-apaan ini? Bawa aku pergi dari tempat ini.? seru Anne setengah berteriak.
?Tempat itu yang kau inginkan. Hatimu mengatakannya.?
Anne tak menyahut. Ia merasa takut untuk berpikir siapakah laki-laki yang ada di depannya saat ini. Diputuskannya untuk mengucapkan satu lagi keinginan lainnya. ?Berikan aku pakaian seorang muslimah.?
?Sesuai hatimu.? Sosok laki-laki itu mengangkat tangannya dan kemudian muncul setumpuk pakaian berukuran ketat dan terbuka.
Anne sudah tak bisa berpikir lagi. Inikah yang tergambar di hatiku sebenarnya? Sungguhkah aku masih menginginkan semua ini? Gagalkah aku bicara dengan hatiku? Haruskah aku kembali ke duniaku yang lama?
?Tidak. Kau belum gagal. Bersihkah hatimu. Katakan satu hal.? Suara sosok itu terasa menggelegar di telinga Anne.
Anne menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Titik-titik air dirasakannya menetesi tulang pipi kirinya. Masih bisakah aku? Ia menatap sosok bercahaya itu dengan lekat. Lalu ditengadahkannya kepalanya. Anne menantang langit dan sosok itu bergerak mendekat ke sisi kanan tubuh Anne. Perempuan itu berkata dengan menutup matanya, ?Tuhan, beri aku hudan!?
Masih dengan rasa takut, Anne membuka matanya. Dan dengan jelas didapatinya Hudan, laki-laki istimewa di masa lalunya, tengah berdiri di hadapannya. ?Kau?? Anne tak dapat melanjutkan kata-katanya.
?Sesuai hatimu?? Suara laki-laki bercahaya ini terdengar sangat pelan. Dan sosok itu pun lenyap dari pandangan Anne diikuti hilangnya sinar terang yang memenuhi ruangan kamar Anne.
Perempuan itu membiarkan wajahnya banjir oleh air bening dari matanya. Tangannya bergerak menuju dadanya, dan merogoh hatinya hingga tercabutlah sepotong hati miliknya. Tatapannya nanar melihat hatinya yang tak berwarna merah, melainkan kelam.

Sidoarjo, 13 Oktober 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *