Amnesia Bahasa Indonesia dan Kritik Diri

Bandung Mawardi*
http://www.lampungpost.com/

Negeri ini tak terbiasa dengan imajinasi, metafora, permainan bahasa, atau nalar bahasa. Pelbagai polemik dalam ranah politik, ekonomi, pendidikan, sosial, agama, dan kultural kerap disebabkan dari kenihilan pengetahuan atas bahasa.

Presiden pun repot dengan produksi bahasa dalam lakon politik. Orang-orang di parlemen tampak cerewet tapi susah membuat pertanyaan apik dan mengandung nalar kritis. Demonstrasi digelar dengan orasi dan spanduk tanpa kekuatan bahasa. Deskripsi kecil ini mungkin mengandung curiga akut bahwa orang-orang di negeri ini sudah melupakan sejarah bahasa Indonesia dan kekuatan dalam sekian praktek kehidupan.

Sumber dari amnesia ini mungkin bisa dilacak melalui penurunan kualitas materi dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia. Produksi buku pelajaran Bahasa Indonesia memang melimpah tapi kurang memberi porsi besar untuk siswa merawat dan menyemaikan nalar dan imajinasi melalui bahasa. Materi kebahasaan memang mendominasi tapi tidak melahirkan gairah untuk memandang dan memakai bahasa dalam jagat pikir dan tindakan produktif. Kritik kecil ini mungkin cenderung membuka aib dalam sejarah perkembangan dan kemandekan bahasa Indonesia melalui institusi pendidikan atas restu negara.

Situasi pembelajaran memang berubah drastis bebarengan dengan kepentingan negara dan pasar menciptakan pekerja dan pendistribusian pengetahuan praktis-pragmatis. Aib ini sudah lazim terjadi di negara berkembang karena menuruti impian menjadi negara besar dan bermartabat tapi tidak sadar dengan modal dan prosedur. Refleksi atas aib ini pantas kita kembalikan pada pruduksi buku pelajaran dan bacaan untuk siswa pada periode akhir tahun 1940-an dan 1960-an. Ajakan ini memang agak naif tapi bisa menjadi pengingat atas keteledoran sejarah dalam persemaian nalar dan imajinasi melalui bahasa Indonesia.

K.St. Pamoentjak dan M.J. Halim menulis buku Tjendrawasih: Kitab Batjaan untuk Sekolah Rendah (1949). Buku bacaan dalam dua jilid untuk siswa kelas II itu melulu berisi materi cerita, syair, percakapan, dan teka-teki. Murid-murid zaman dulu sibuk mengurusi bahasa dan realitas melalui bentuk-bentuk pengisahan yang imajinatif. Usia bocah merupakan momentum subur untuk pertumbuhan bahasa dalam konstruksi nalar dan imajinasi. Buku ini tentu memiliki efek besar pada siswa untuk memandang dunia dengan permainan tafsir dan keterbukaan terhadap potensi bahasa meski sadar itu masuk dalam bagian pembelajaran di sekolah.

B.M. Nur dan W.J.S. Poerwadarminta menulis buku berjudul Bahasaku: Kitab Peladjaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Rakjat untuk murid kelas III. Buku ini tidak mencantumkan tahun cetakan pertama tapi pada tahun 1957 telah mengalami pencetakan ke-10. Menakjubkan! Materi buku ini menyuguhkan materi: bacaan, pertanyaan bacaan, ceritakan kembali bacaan itu dengan kata-katamu sendiri, latihan menatap, latihan menyimak, ejaan, bercakap-cakap, menyusun kalimat, mengisi, menyempurnakan kalimat, merangkaikan kalimat, mengarang. Suguhan materi ini tampak memberi stimulus pada murid untuk memiliki kebebasan dan kepuasan dalam mengurusi bahasa dan imajinasi.

Dua buku di atas sekadar contoh mengenai makna bahasa bagi murid dalam sistem pembelajaran dan afirmasi atas potensi bahasa. Dominasi cerita, syair, atau percakapan memungkinkan murid sadar dengan kekuatan imajinasi untuk membuat bahasa menjadi hidup dan produktif dalam membaca-menilai realitas. Kisah masa lalu ini lekas terkubur oleh kebijakan Orde Baru dengan proyek bahasa ala militeristik untuk membentuk dan mengontrol nalar publik dengan mengabaikan jagat imajinasi. Sastra dimatikan atau sekarat dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia. Guru enggan mengajarkan dan murid kelimpungan masuk dalam hutan ketidaktahuan.

Produksi bahasa dalam sekian lakon di negeri ini kerap menjadi polemik pelik gara-gara dalam sejarah pembelajaran orang telah terjauhkan dari persemaian bahasa dalam spirit pembebasan. Negara melalui pelbagai peraturan dan sistem telah membentuk manusia-manusia alpa tafsir atas bahasa dan miskin imajinasi. Bahasa menjadi medium untuk penjinakan publik. Risiko dari pola kaku ini adalah kerepotan memahami bahasa dan pemaknaan secara cerdas, inklusif, produktif, dan konstruktif. Produksi bahasa dalam wacana publik justru dijadikan momok untuk pertarungan wagu atas nama kepentingan politik atau modal. Bahasa telah dipecundangi dengan ulah pragmatis.

Pembacaan terhadap sejarah bahasa Indonesia memungkinkan kelahiran kesadaran mengenai peran bahasa dalam pelbagai komunikasi di ranah publik dan individual. Pola homogen dalam kontrol bahasa telanjur membuat orang mengidap ketakutan untuk membahasakan diri atau memproduksi bahasa dalam penghindaran klise. Kemiskinan imajinasi membuat orang repot menafsirkan realitas dan reaksioner tanpa sadar ada jalan refleksi untuk menjadikan bahasa sebagai representasi dari realitas. Amnesia (sejarah) bahasa Indonesia memang sistemik karena terjadi lama dalam dunia pendidikan dan ditambah oleh faktor-faktor politik, sosial, ekonomi, dan kultural.

Kritik pedas dari Taufik Ismail mengenai buta sastra untuk negeri ini memang ironi memalukan. Pemberian mata pelajaran dan mata kuliah bahasa Indonesia di sekolah dan universitas hampir tak memberi gairah bahasa, gairah nalar, dan gairah imajinasi. Bahasa Indonesia seperti jadi momok dan dituruti sekadar untuk mendapati nilai dan lulus. Pemberlakuan pelajaran Bahasa Indonesia sebagai materi ujian kerap tak menentukan pembentukan kualitas pembelajar karena sesak dengan soal-soal sepele.

Perbandingan buku pelajaran Bahasa Indonesia pada masa lalu dan masa sekarang mungkin patut dilakukan untuk mengetahui perbedaan tipologi pemikiran dan imajinasi siswa dalam perbedaan zaman. Ikhtiar membuka kembali lembaran sejarah mengenai bahasa Indonesia mungkin memberi tanda tanya dan tanda seru untuk melakukan perubahan progresif atau kritik diri tanpa harus sibuk menginventarisasi kesalahan dan dosa. Kealpaan mesti lekas tamat dengan mengurusi bahasa Indonesia dengan pembukaan jalan nalar dan imajinasi untuk memberi modal pada murid sanggup membaca dan menilai realitas tanpa dinodai oleh kepicikan politik dan dunia hiburan. Begitu.

*) Peneliti Kabut Institut Solo dan Pemimpin Redaksi Jurnal Tempe Bosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *