Embun di Mata Wie

Syaiful Irba Tanpaka
http://www.lampungpost.com/

Setiap menjelang pagi mata Wie dibasahi butiran embun. Seperti di atas daun, butiran embun itu tampak bulat bening dan segar. Dan bila matahari muncul menyinarinya; butiran embun itu berkilau-kilauan bak permata sehingga membuat mata Wie bercahaya. Dan bila itu terjadi, maka setiap orang akan terpukau memandang kecantikan Wie yang berubah seperti bidadari.

“Sungguh, sebetulnya aku tidak suka butiran embun itu bersila di mataku,” ungkap Wie suatu kali kepadaku. “Tapi bagaimana aku bisa menolaknya? Ia begitu saja muncul di mataku setiap menjelang pagi ketika aku bangun dari tidur.”

Wajah Wie sendu.

“Bukankah seharusnya engkau bersuka cita dengan butiran embun yang tergenang di matamu? Karena ia telah menambah kecantikanmu. Dan orang-orang terpukau memandang keelokan parasmu?”

“Justru itulah masalahnya. Karena ada butiran embun di mataku. Karena butiran embun itu telah mengubah kecantikanku. Aku merasa bukan menjadi diriku lagi.”

“Apakah kau tidak suka menjadi bertambah cantik?”

“Setiap perempuan-seperti kita-pasti ingin menjadi cantik, tapi kalau kecantikan itu membuat diri kita menjadi imitasi, tidakkah itu suatu malapetaka!”

Aneh! Mungkin lebih tepatnya unik. Ya! Buatku Wie adalah seorang gadis yang unik. Karena baru kutemukan gadis seperti dia. Sementara gadis-gadis yang lain– termasuk aku–ingin menjadi lebih cantik dengan berbagai cara, justru Wie merasa masygul dengan kecantikannya yang berkilauan seperti bidadari karena butiran embun yang muncul di matanya setiap menjelang pagi ketika ia bangun dari tidur.

Wie pernah mencoba pergi ke dokter mata untuk mengonsultasikan perihal embun yang tiba-tiba muncul di matanya. Setelah beberapa waktu diperiksa, dokter memberinya obat. Tapi hingga beberapa kali kedatangannya secara berkala ke dokter mata, embun itu tetap tidak bisa dicegah kehadirannya.

Setiap menjelang pagi ketika Wie bangun dari tidur, embun itu selalu muncul di matanya. Seperti di atas daun, butiran embun itu tampak bulat bening dan segar. Dan bila matahari muncul menyinarinya; butiran embun itu berkilau-kilauan bak permata sehingga membuat mata Wie bercahaya. Dan bila itu terjadi, setiap orang akan terpukau memandang kecantikan Wie yang berubah seperti bidadari.

Aku membayangkan seandainya saja embun itu muncul di mataku. Ach! Betapa menyenangkan menjadi bertambah cantik seperti bidadari. Aku akan menjadi pusat perhatian di mana-mana. Semua orang akan terpesona. Ya! Mungkin serupa cerita nabi Yusuf yang digilai banyak wanita. Aku akan digandrungi banyak laki-laki. Betapa aku akan bersuka cita. Aku bisa membalas rasa dendam kepada laki-laki. Karena aku bisa memilih pasanganku seenaknya. Bahkan mungkin gonta-ganti pacar. Dan bila aku merasa bosan, aku bisa menendang dan meninggalkannya semauku. Kapan dan di mana saja.

Maaf! Imajinasiku memang sering ekstrem terhadap laki-laki. Karena terus terang, tiga kali sudah aku dikecewakan laki-laki; sakit hati bahkan mendekati frustasi. Mereka cuma mau enak sendiri, egois, dan cenderung diktator. Wajar kalau ada ujar-ujar yang mengatakan ?cuma mau enak tapi ga mau anak?. Meskipun seorang kawan lelakiku membela kaumnya dengan mengetengahkan lagu Basofi Sudirman, “Tidak Semua Laki-laki”. Tapi persetanlah! Mana mungkin kepedihan hatiku bisa terhapuskan dengan alasan yang absurd seperti itu. Lagian aku sampai sekarang belum menemukan laki-laki yang pinjam istilah iklan sebuah deodoran; setia setiap saat.

Rasa sakit hatiku kepada lelaki menumbuhkan semacam tombak amarah. Jika saja ada kesempatan untuk membalas, tentu tombak itu akan kutusukan dalam-dalam. Dan pada luka yang terjadi akibat tusukan itu, akan kusiram air cuka. Bisa kubayangkan ketika ia menjerit-jerit kesakitan, aku akan memaki dan menyumpah serapah dengan tawa kemenangan.

Bahkan, lebih gila lagi, aku pernah membayangkan seandainya saja Tuhan memberi pasangan untuk perempuan dari jenis selain lelaki. Mungkin beberapa jenis dan apalah namanya. Dan untuk mengembangkan keturunan, dengan melakukan persetubuhan dengan cara yang lain. Walaupun untuk hal ini aku kadang geli sendiri.

Tapi sayang aku cuma bisa berkhayal. Embun itu tidak muncul di mataku. Embun itu cuma muncul dimata Wie. Mahabesar Tuhan. Kadang yang kita harapkan tidak datang, dan yang datang tidak kita harapkan. Begitu misteri kehidupan dari Yang Mahaagung.

“Atau mungkin kamu datangi orang pintar saja, Wie,” saranku suatu kali di suatu pagi yang cerah. “Siapa tahu keinginanmu bisa terwujud. Embun itu tidak lagi datang kepadamu.”

“Maaf, Aku tidak suka pada hal yang berbau klenik.”

“Ya, mungkin ini suatu pengecualian. Namanya juga usaha.”

Wie hanya terdiam. Aku memandanginya dalam-dalam. Wie betul-betul terlihat cantik memesona. Butiran embun di matanya berkilau-kilauan. Bagaikan kilauan batu permata yang tak ternilai. Wajah Wie terlihat begitu segar. Ada semacam aura yang membetot pandangan untuk selalu menatapnya. Namun, mengapa hal ini justru membuatnya gundah. Aku sering tidak habis pikir. Di saat semua perempuan mendambakan hal serupa itu bisa terjadi pada dirinya.

“Kenapa denganmu, Wie?” suaraku memecah kebisuan

Wie mendesah. Ia meluruskan tatapannya padaku. Subhanallah! Tiba-tiba Wie terasa asing buatku. Aku seperti melihat seseorang yang sama sekali belum pernah kukenal. Mungkin benar ia bidadari dari kayangan. Selama ini aku belum pernah beradu pandang serupa ini. Kepalaku menjadi pusing. Aku seakan memasuki sebuah lorong cahaya yang gemerlapan. Dan aku tersedot dalam pusarannya yang tanpa batas. Melayang dan terus melayang, melayang dan terus melayang, menempuh jarak jutaan kilometer.

“Wiiiiiiieeeeeee…..!” aku menjerit.

Aku tersadar ketika Wie menyodorkan segelas air minum di mulutku. Aku terbaring lemas di atas tempat tidurnya.

“Kau tidak apa-apa, Lesli?” Wie menyapa dengan lembut.

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Wie mencoba mengajakku tersenyum.

Peristiwa itu telah mengubah pikiranku tentang embun di mata Wie. Barangkali itu satu hal yang telah membuat Wie merasa masygul.

“Aku hanya ingin hidup sebagai perempuan sewajarnya,” ungkap Wie ketika kami kembali bertemu.

“Aku hanya ingin menjalani kehidupan dengan damai, dan bukan sebagai sumber petaka.”

“Tapi semua yang terjadi bukankah di luar keinginanmu, Wie?”

“Karena itulah aku lebih senang menyendiri. Kamu bisa bayangkan, seandainya ada sejuta lelaki yang terpesona menatapku, maka sebanyak itulah yang akan menjadi korban.”

Aku membatin. Seandainya saja embun itu muncul di mataku. Akan kubuat habis seluruh laki-laki di dunia ini. Sayang, embun itu hanya muncul di mata Wie – seorang gadis yang lugu. Gadis dengan impian yang sederhana.

Wie pernah bercerita kepadaku. Bila ia menemukan lelaki yang menyintai dan dicintainya, dia akan membina rumah tangga. Ia ingin tinggal di sebuah desa yang asri sebagai petani.

“Kenapa harus jadi petani, Wie, bila kamu bisa menjadi lebih baik dari itu?”

“Tidak ada yang lebih baik dari petani, Lesli,” ujarnya.

“Kalau kau jadi pedagang, kau takkan bisa luput dari kebohongan. Dan bila kau jadi buruh, karyawan atau pejabat, kau takkan bisa luput dari korupsi.”

“Lantas apa baiknya petani?” tanyaku penasaran.

Wie tersenyum.

“Petani? Setelah menggarap sawah atau ladangnya, selebihnya ia serahkan kepada Allah Swt. Ia cuma berdoa semoga mendapat panen yang berlimpah. Tapi ia tidak pernah bisa tahu apakah musim berpihak atau tidak kepadanya. Jika tiba-tiba hama wereng atau tikus atau bencana alam melanda. Kau mengerti itu, Lesli?”

Aku tersenyum getir mendengarnya. Wie memang pantas disebut bidadari. Hatinya, prilakunya. Dan kini keelokannya. Aku mulai menduga-duga; jangan-jangan embun itu muncul dari hatinya sehingga tidak akan bisa dicegah oleh siapa pun, bahkan oleh orang pintar yang memiliki kesaktian canggih mandraguna.

“Kalau begitu, segeralah kau menikah,” saranku.

“Ya! Betapa aku menginginkannya. Tapi dengan siapa? Kau tahu, selama ini aku selalu menghindar dari keramaian. Aku menghindar dari lelaki.”

“Bukankah kau bisa keluar sebentar. Memasuki keramaian. Berjalan-jalan di pusat kota atau mal, kafe, restoran, taman rekreasi, dan tempat manalah yang kau inginkan untuk mencari dan menemukan jodohmu.”

Wie tertawa. Suaranya terdengar begitu renyah.

“Kenapa kau tertawa?”

“Andai saja itu dapat kulakukan dengan mudah.”

“Bukankah kau seorang bidadari? Dengan aura embun di matamu, lelaki mana yang tidak akan bertekuk lutut.”

“Kau salah mengerti, Lesli. Itulah yang menjadi kekhawatiranku. Mungkinkah aku bisa melakukan hal itu padahal aku tidak menginginkan lelaki yang jatuh hati kepadaku karena ia semaput dengan kecantikanku.”

“Kau membuatku jadi bingung…”

“Aku sendiri juga bingung, Lesli…”

Kami berdua tertawa. Aku tidak tahu, apakah ini merupakan keriangan atau keprihatinan buat Wie. Buat seorang gadis dengan pendirian yang permata. Gadis dengan embun di matanya. Di mana aku menduga-duga; jangan-jangan embun itu muncul dari hatinya sehingga tidak akan bisa dicegah oleh siapa pun, bahkan oleh orang pintar yang memiliki kesaktian canggih mandraguna.

***

Lebih dari setahun sudah aku tidak berjumpa dengan Wie. Karena kepindahanku ke luar daerah. Karena aku diterima bekerja pada sebuah perusahaan. Karena kesibukan-kesibukanku sebagai karyawan. Tapi sesekali aku masih menjalin komunikasi dengan Wie lewat hape. Menanyakan kabarnya. Menanyakan embun di matanya. Menanyakan kehidupannya. Sampai suatu hari Wie mengabarkan berita yang mengejutkan buatku. Wie akan menikah.

“Kamu ga becanda, kan?”

“Serius! Kamu datang, ya?” suaranya terdengar ceria.

Aku bersyukur. Wie akhirnya menemukan lelaki sejatinya. Lelaki dambaannya seperti yang sering diceritakannya padaku. Lelaki yang tidak hanya melihat perempuan secara lahiriah. Aku bisa membayangkan betapa bahagianya Wie.

Sayangnya aku tidak bisa menghadiri pesta pernikahannya. Karena pada saat yang sama aku harus menjalani tes promosi jabatan di tempatku bekerja. Karena itu kukatakan aku akan mengunjunginya setelah aku memiliki waktu luang.

“Gapapa kok, aku bisa maklum. Tapi jangan lupa janjimu ya, Lesli!”

“Ya, ya, ya…”

Sebulan kemudian aku membuktikan ucapanku. Aku datang ke tempat Wie. Dengan perasaan berbunga-bunga aku membayangkan pertemuan dengannya. Rumahnya tampak sepi. Pembantu rumahnya mengatakan ayah ibu Wie sedang keluar kota, dan suaminya sedang bekerja. Wie sendiri berada di taman belakang. Karena aku terbiasa main di rumahnya, maka aku tidak kesulitan untuk sampai di taman belakang tempat Wie berada.

Kulihat Wie sedang duduk sambil memainkan gitar mengalunkan lagu cinta. Karena aku berada di belakangnya Wie sama sekali tidak tahu kehadiranku. Pelan-pelan aku melangkah mendekatinya. Dan setelah dirinya dalam jangkauanku mendadak kupegang pundaknya sambil aku berteriak: “Surprise….!”

Di luar dugaan, doronganku terlalu keras hingga membuat Wie terjatuh.

“Aduuhh…!” Wie menjerit spontan. Lalu ia mencoba bangkit. Tangannya meraba-raba ke sana kemari. Aku terkesiap menyaksikannya.

“Lesli…! Lesli….! Apakah itu kamu?”

Aku mencari-cari butiran embun di mata Wie. Butiran embun yang bulat bening dan segar. Dan bila matahari muncul menyinarinya; butiran embun itu berkilau-kilauan bak permata sehingga membuat mata Wie bercahaya. Dan, bila itu terjadi, setiap orang akan terpukau memandang kecantikan Wie yang berubah seperti bidadari…

Bandar Lampung, Maret 2009–2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *