Hanung Bramantyo Buat Film Kolosal Sang Pencerah

Biaya Rp 12 Milyar, Didanai Seorang Hindu
balipost.co.id

SOSOK pahlawan nasional kita sudah banyak diangkat ke layar putih, seperti Bung Karno, Soeharto, Jendral Sudirman, Tjoet Nyak Dhien, Mohamad Toha (Toha Pahlawan Bandung Selatan), Diponegoro (Pahlawan Gua Selarong) dan masih banyak lagi. Sebentar lagi, seorang pahlawan nasional yang juga pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan bakal difilmkan oleh sutradara Hanung Bramantyo dengan judul Sang Pencerah. Awal syuting telah ditetapkan pada 21 Mei 2010 di sekitar Kauman, Yogyakarta. Film produksi MVP Pictures yang bakal jadi film kolosal dan berbiaya cukup besar (sekitar Rp 10 milyar sampai Rp 12 milyar) ini dibintangi sederet bintang senior dan junior seperti Lukman Sardi, Zaskia Adya Mecca, Giring Ganesa (vokalis Nidji), Iksan Idol, Slamet Rahardjo, Ikranagara, Yatti Surachman, Dewi Irawan, Dennis Adhiswara, Joshua Suherman, Sujiwo Tedjo, Pangky Suwito, Rifat Sungkar, Sitok Srengenge (penyair) serta sejumlah figuran dari kelompok teater dan ketoprak juga akan melengkapi kehidupan kota Yogyakarta masa itu.

Melayarlebarkan tokoh seperti KH Ahmad Dahlan ternyata tidak mudah. Banyak fakta dan realita ditemukan selama riset film berjalan. Begitu banyak cerita dari sisi humanis hingga kehidupan pribadi yang tidak diketahui dan dipahami bahkan oleh orang-orang dekat beliau. Belum lagi menyangkut pemikiran-pemikiran beliau yang luar biasa besar bagi toleransi kehidupan beragama. Dan jelas, KH Ahmad Dahlan telah meletakkan dasar-dasar kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut, lontar Hanung Bramantyo dalam acara selamatan di sekretariat PP Muhammadiyah, Jakarta, belum lama ini.

Ini murni ide saya. Sewaktu saya SMA di Yogyakarta, saya sudah memikirkan tentang membuat film ini. Dan rumah orangtua saya di Kauman bertetangga dengan rumah keluarga dan ahli waris KH Ahmad Dahlan. Rumah beliau sekarang memang sudah tidak asli lagi dan waktu itu, saya sering main bola di lapangan yang dulu di abad 18 adalah langgar (tempat beribadah) milik keluarga beliau, jelas Hanung yang sukses membuat film reliji Ayat Ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban.

Lebih jauh, Hanung merasa tertantang untuk bisa mempertanggungjawabkan karya besarnya ini, tidak saja kepada warga Muhammadiyah tapi juga buat bangsa ini. Ketika saya tawarkan skenario film ini ke banyak ormas dan pengusaha Islam di negara ini, semuanya menolak dengan alasan biayanya terlalu besar. Dan anehnya, seorang India bernama Raam Punjabi yang non-muslim malah langsung tertarik mendanai film ini. Waktu itu, saya bilang ke pak Raam, film yang saya buat ini bakal ditonton oleh sekitar 25 juta orang warga Muhammadiyah di Indonesia. Ini saya jelaskan tidak dengan maksud mengecilkan peran Muhammadiyah, walau bagaimanapun Muhammadiyah tetap punya kontribusi yang sangat besar demi terlaksananya film ini, timpal Hanung.

Dari sisi lokal syuting saja, Hanung sudah dituntut harus sanggup menghidupkan nuansa dan lanskap Yogyakarta akhir 1800-an. Mengembalikan dan mereka ulang bangunan Masjid Agung Kauman, Kota Gede, Bintaran dan wilayah Kraton seratus tahun silam lalu dengan bangunan set lokasi serealistis merupakan pekerjaan luar biasa besar. Akhirnya, disepakati lokasi-lokasi syuting yaitu di Yogyakarta, Museum Kereta Api Ambarawa, Kompleks Kebun Raya Bogor yang disulap menjadi jalanan Malioboro dan Tugu Yogyakarta.

Demikian pula halnya ketika harus kembali menghidupkan karakter dan sosok yang pernah dekat dengan KH Ahmad Dahlan. Tokoh-tokoh seperti Nyai Ahmad Dahlan atau Ibu Walidah, Sudja (murid pertama KH Ahmad Dahlan), KH Jisab, Nyai Abu Bakar, Kyai Penghulu, Syeh Kausar, Sultan Hamengkubuwono VII dan sederet tokoh lain merupakan kerumitan yang siap dihadapi Hanung. Pemilihan terhadap Lukman Sardi yang berperan sebagai tokoh utama KH Ahmad Dahlan selain wajahnya yang mirip ketika KH Ahmad Dahlan berusia 21 tahun, Lukman juga pandai bermain biola yang juga hobi KH Ahmad Dahlan. Ini sebagai bukti bahwa KH Ahmad Dahlan tidak mengharamkan seni dan musik, terang Hanung.

Ditegaskannya, film ini hanya sampai ormas Muhammadiyah berdiri yang terus terang, sebagai pendirinya, KH Ahmad Dahlan mengaku bahwa pendirian Muhammadiyah disemangati pendirian Boedi Oetomo di Jakarta. Ada tiga hal khusus di film ini yang saya hindarkan visualisasinya dengan tujuan tidak akan mencuatkan kontroversi, yaitu masalah poligami, bersinggungan dengan NU dan bersinggungan dengan komunisme. Namun, sepulang dari Mekah, KH Ahmad Dahlan membawa ide-ide pencerahan berupa memiringkan arah kiblat di Masjid Agung Kauman dan ini yang menyebabkan perdebatan dengan orang-orang muslim puritan di kampungnya, Kauman. Saya menekankan, penggambaran ihwal semangat KH Ahmad Dahlan sebagai kaum muda yang ingin mengubah kampungnya menjadi berkembang di dunia internasional dengan hal dan tindakan yang lebih rasional dan bisa diterima akal sehat, jelas Hanung.

Di sisi lain, Hanung berharap film Sang Pencerah bisa menghidupkan kembali kebesaran tokoh KH Ahmad Dahlan dengan pemikiran-pemikirannya yang juga mampu menginspirasi generasi muda untuk berbuat sesuatu bagi negeri ini. Dijadwalkan, film ini bakal menjadi kado istimewa dan diputar pada Milad ke-100 warga Muhammadiyah di seluruh dunia, Juni tahun ini. Tapi, kayaknya tidak mungkin. Kalau pun mungkin bisa diputar saat Lebaran September tahun ini atau Tahun Baru Islam atau Lebaran Haji. (pik)
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *