Kegagalan Replikasi Budaya Gajah Mada

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Monumen Hitler

Dachau adalah sebuah kota kecil di Negara bagian Bavaria Jerman yang letaknya tidak jauh dari kota Muenchen. Di Dachau inilah dibangun monumen utama yang didirikan setelah Perang Dunia ke dua. Dachau ini disinyalir sebagai kamp konsentrasi Hitler saat melancarkan aksi keberingasannya membasmi ribuan nyawa manusia. Hitler dan Robot Eskapator Raksasa NAZI yang kejam menyayat, mengiris, menghunus, mengalirkan darah, mencekik nafas, bahkan mengakhiri denyut jantung manusia. Hitler memosisikan dirinya sebagai saingan Tuhan yang berhak membabat harkat dan martabat kemanusiaan, sebagai manusia.

Ada dua titik poin mendasar dari gerakan Hitler tersebut: 1. Harus ada (diperlukan) tumbal kemanusiaan untuk menguatkan eksistensi misinya. 2. Kebuntuan atas kekerdilannya yang tidak menemukan cara radikal yang lebih proporsional demi menyelamatkan?nyawa?sesama manusia.

Hitler tidak menyangka bahwa generasi sebubar Perang Dunia II adalah generasi yang menyadari bahwa sistem kekerasan dan penghancuran massal bukanlah cara yang tepat dan prospektif dalam menata peradaban mendatang. Generasi yang memahami bahwa kegagalan peradaban diawali dari peletakan batu pertama-kekerasan-sebagai dasar pondasi. Sedangkan, seri berikutnya dari kekerasan pastilah ?dendam? yang menggelembungkan traumatisasi dari masa lampau. Tidak heran jika kemudian pada monumen Dachau, disematkan ?pemeo? ujaran ?Never Again? (jangan terulang lagi). Diharapkan kata ?Never Again? dapat dibaca berulang-ulang kali oleh generasi masa depan, sebagai tanda penghentian pembunuhan masal sesama manusia.

Tentu saja kata ?Never Again? tersebut tidak sekedar dipahami artifisial deskriptif atas normalitas faktual, tetapi lebih ke pemahaman espektasi yang menyimpan voltase masa depan.

Gelombang yang sama dengan volume padatan Hitler, terus terulang-ulang di Indonesia. Kasus kerusuhan Makasar, Periok, dan Mojokerto adalah penanda terbaru dari gelombang anarkisme Hitler.

Dalam skub wilayah kecil, yang barangkali kalibernya hanya setaraf ?RT? Mojokerto dan ?RT? Jombang, jika dipandang dari eskalasi perpolitikan Indonesia, ternyata tidak mampu membaca wacana ?budaya arus balik? dari tonggak Never Againnya monumen Dachau. Budaya anarkisme masih menjadi pilihan utama dalam menyelesaikan masalah.

Mengamati kasuistik ?Jum?at Membara?, kerusuhan Mojokerto tanggal 21 Mei lalu, yang berhubungan dengan pilkada Senin 7 Juni 2010 kemarin, sebagai manifestasi replikasi budaya Hitler. Meski tak jatuh korban, namun tayangan yang menghadirkan berbagai lintasan peristiwa pembakaran mobil, bangunan porak-poranda, dan amuk massa adalah cermin kegagalan awal terbangunnya peradaban.

Tentu kita tidak mengecam ?apa? dan ?siapa? dibalik aktor kebrutalan massa tersebut. Namun di antara beberapa kepentingan pasti menghalalkan segala cara untuk menjegal lawan.

Ribuan kali sesungguhnya kita menonton adegan film yang sama ketika berita dekadansi moral diputar ulang dalam tayangan berita televisi. Alhasil, kerusakan yang ditargetkan, adalah tagihan kausalitas dari sistem perekonomian yang tidak barokah. Sedangkan penerapan sistem yang tidak barokah pasti mempunyai ending cerita yang memusnahkan harta, benda, nyawa, atau sekedar keharmonisan peradaban yang kita bangun.

Kegagalan Replikasi Gajah Mada

Secara kultur historis, Mojokerto, Jombang adalah satu rumpun budaya yang sama. Di tanah inilah lahir pemimpin bangsa Majapahit yang kekondangannya mercusuar hampir mencapai duapertiga belahan bumi. Ironi sekali jika pada titik awal milenium kedua sekarang, Mojokerto yang dipandang sebagai ?Empu Nusantara?, (per-empu-an) yang melahirkan anak bangsa dari rahim kebesaran dan kebijakan Sumpah Palapa Gajah Mada, tidak mampu atau gagal menjadi referensi bagi kemuliaan umat manusia. Sedangkan bagi Majapahit, Indonesia adalah salah satu anak bangsa yang dilahirkannya tahun 1945 kemarin sore. Ibarat ?Sang Kakek?, tentu wilayah yang dituakan ini mampu mengajari dan memberi contoh bagi peradapan Indonesia kedepan. Dan bukan sebaliknya. Betapa memalukan sebagai empu, Mojokerto – Jombang masih memilih praktek kerusuhan massal sebagai alternatif penyelesaian masalah. Padahal anarkisme massa, siapapun yang terlibat tidak lebih dari serendah-rendahnya derajat dan seremeh-recehnya cara bersikap. Meskipun jika dirunut, tentu rujukan awalnya adalah sifat ?kefakirmiskinan? para pejabat yang tak sanggup melumpuhkan ambisi dirinya.

Kapan di area kecil Mojokerto – Jombang ini akan dibangun monumen ?Never Again? oleh semua pihak terkait, dari pajabat, aparat, seniman, budayawan dan rakyat jelata? Penghadiran suasana entitas baru yang diperlukan penghuni ruangnya, serta menanggalkan keterulangan peristiwa negatif.

Yang negatif dari hal yang negatif adalah: kematian, bukan kematian itu sendiri, tetapi ?mati?. Mati sudah pasti adanya sebagai suatu takdir, yang tidak dijemput pun sudah pasti datang waktunya. Tetapi kematian adalah proses sulit menuju mati. Betapa tolol jika ?kedudukan kita? hanya kita gunakan untuk meninggalkan traumatisasi pada setiap lembar peralihan sejarah.

Kekondangan Majapahit yang sampai ke semenanjung Madagaskar, dirambah oleh Gajah Mada dengan sistem politik kemitraannya. Dengan semboyan ?menang tanpo ngasorake, ngluruk tanpo bolo, sekti tanpo aji-aji?, membuktikan betapa Gajah Mada adalah ?sosok embahmu? yang berjiwa bukan sekedar baik dan benar, melainkan mulia.

Sejauh ini kita hanya mampu melahirkan kegagalan sejarah umat manusia dalam mereplikasikan kebaikan, kebersahajan, ketertataan ke-peradabannya. Sehingga yang sanggup kita bangun hanyalah: kehidupan cacat, masyarakat cacat, Negara cacat, pemerintahan cacat, hati cacat, akal cacat, mental cacat, dan moral cacat.

Sebagaimana generasi pasca Perang Dunia II, kita adalah generasi pasca kegagalan reformasi, yang ?muak? dengan cara berfikir orang tua yang terus mengajari perilaku buruk bagi sejarah masa depannya. Dengan memahami konsep kegagalan replikasi yang diguratkan pada gapura Never Again, percayalah! Kami adalah generasi yang sedang mempersiapkan cara bersikap baru yang tidak mampu dan atau belum mampu dirumuskan oleh para pejabat sekarang dalam menciptakan peradaban damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *