Narasi Politisi di Tengah Ambiguitas

Judul Buku : Ciuman di Bawah Hujan
Pengarang : Lan Fang
Penerbit : GPU Jakarta
Cetakan : I, Maret 2010
Tebal : 360 halaman
Peresensi : Chabib Musthofa*
http://www.jawapos.com/

Politik hanya akan mewujudkan kehancuran bagi kemanusiaan, sedangkan ilmu pengetahuan akan mampu membawa manusia lebih mulia. Peribahasa itu agaknya mendekati kebenaran ketika dunia politik telah me?nampilkan wajah bengisnya dalam pergulatan umat manusia di tiap zaman, bangsa, level kekuasaan, isu peradaban, dan bahkan cinta.

”Makhluk” yang bernama ”kepentingan” melalui politik terbukti telah mampu memanipulasi dan memutarbalikkan sekian banyak fakta tentang keindahan, ketaatan, kesalehan, kemiskinan, kekayaan, kesengsaraan, kesejahteraan, moralitas, dan berbagai tema kemanusiaan lain. Bahkan, politik juga berhasil mengalir dalam batasan normatif nilai-nilai ketuhanan yang bersifat profan dan sakral.

Di tangan politisi, standar baku tentang baik-buruk, benar-salah, dan mulia-hina yang telah digariskan Tuhan secara universal bisa berubah 180 derajat. Standar kebaikan, kebenaran, kemuliaan, keindahan, dan ketaatan bukanlah standar objektif dari semua itu, melainkan bergantung pada kepentingan apa dan siapa yang menggunakannya.

Nilai universal menjadi tidak penting sehingga manusia terjebak pada ukuran formal-sektarian yang cenderung mendeterminasi ”the others”. Sekali lagi, determinasi itu tidak tumbuh dari semangat menyelamatkan manusia secara umum, namun lebih bersandar pada -meminjam istilah Marxisme klasik- kepentingan pemenuhan syahwat ”base-structure”.

Ketika manusia saling berkompetisi untuk memenuhi hajat hidupnya, yang menjadi dasar adalah standar moralitas yang menaati penghormatan atas hak manusia lain. Kebutuhan hidup memiliki batasan tertentu dan akan berakhir ketika hajat telah terpenuhi. Namun, keinginan hidup tidak akan menemukan batasnya. Ia akan terus berkembang dan berregenerasi dari waktu ke waktu dalam bentuk dan ambisi berbeda-beda. Maka, lebih mudah memenuhi kebutuhan daripada keinginan dalam hidup ini.

Politik sebagai kebutuhan tentu berbeda dengan politik sebagai keinginan. Jika politisi memandang bahwa ”perjuangan” adalah kebutuhan, mereka tentu akan menjadikan moralitas universal sebagai standar untuk mencapai tujuan politiknya. Tentu, tiap tindakan politisi semacam itu akan diwarnai semangat penghargaan atas kemanusiaan terhadap politisi kompetitor lain.

Jika politik dipandang sebagai keinginan, politisi seharusnya bersiap jatuh-bangun untuk mendapatkan keinginan tersebut. Hal itu menjadi sebuah keniscayaan karena pada dasarnya keinginan manusia tidak akan pernah terpuaskan. Keinginan bersumber dari hasrat memenuhi impian kesejahteraan diri sendiri. Sifatnya sangat relatif, abstrak, evolutif, dan terkadang sangat utopis. Pada titik itulah, tindakan apa pun menjadi sah untuk dilakukan menurut politisi yang memandang politik sebagai keinginan.

***

Dengan pena, Lan Fang menceritakan lakon tentang politisi yang terjebak pada dirinya sendiri itu melalui novel berjudul Ciuman di Bawah Hujan (CBH). Lakon tentang Ari dan Rafi dikisahkan sebagai personifikasi pengamatan penulis atas realitas politik yang telah dan sedang terjadi. Nuansa politik yang tecermin di lembaga legislatif, pergaulan internal kelompok kepentingan, dan ketika politisi berinteraksi dengan kons?tituen ditampilkan melalui gaya ”khas” seorang Lan Fang.

Melalui novel CBH, agaknya penulis ingin menunjukkan bahwa politisi juga manusia yang tidak bisa lepas dari segala keterbatasan. Keterbatasan tersebut mampu ditampilkan melalui narasi tentang bagaimana politisi itu harus menentukan sikap di tengah-tengah ambiguitas. Yakni, berkaitan dengan persoalan kebutuhan dan keinginan.

Penggunaan majas ”tikus” untuk menggambarkan tingkah politisi-pencuri adalah kiasan yang tepat dan menarik ketika dibawa dalam konteks kekinian. Koruptor memang tepat dipersonifikasi seperti tikus. Namun, di novel tersebut, Lan Fang berhasil menggambarkan bahwa ”tikus” tidak hanya menghabiskan makanan yang ada di dapur, melainkan juga di ruang lain, bahkan merusak perabot dan fasilitas rumah lain. Tikus juga tidak memandang pemilik rumah itu kere atau kaya atau sedang kesusahan seperti warga sekitar lumpur Lapindo.

Bahkan, persoalan gender yang sering dikonfrontasikan menjadi tema menarik saat melihat Rafi menyalahkan Ari atas kedekatan sikapnya terhadap Fung Lin. Menurut Rafi, politisi seperti Ari dan dirinya sudah seharusnya menjaga jarak ketika bersikap pada perempuan karena kedekatan itu bisa berakibat buruk bagi karir politik mereka. Protes tersebut tidak disebabkan Fung Lin berada di luar garis politik keduanya, namun lebih karena Fung Lin adalah perempuan.

Novel politik ini jelas memberikan sumbangan tersendiri bagi penikmat sastra, terutama politisi dan pembaca lain jadi tahu bagaimana menyikapi rasa malu. Namun, penulis agaknya kurang berani memberikan gambaran akhir atas nasib tokoh utama dalam novel tersebut. Tapi, pada sisi itulah kekuatan novel tersebut karena politik adalah realitas tiada akhir yang tetap menarik untuk dibahas, walau terkadang juga memuakkan. (*)

*) Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya dan penulis novel Spesies Santri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *