NOVEL FILSAFAT: TUHAN PUN TAK MELARANG

Catatan Kecil buat Ahmad Nurullah
Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Tulisan Ahmad Nurullah (?Yang Betul: Novel Filosofis,? MIM, 27 Februari 2005) memancarkan pesona dan seperti menghipnotis. Dengan menebarkan sejumlah pandangan para filsuf dunia, Ahmad Nurullah (AN) berhasil membekap substansi dua novel yang disinggungnya: Payudara karya Chavchay Syaifullah dan Tapak Sabda karya Faiz Noor. Saya kagum atas penalaran yang dikembangkannya. Memulai dari sebuah kejujuran dan mengakhiri dengan penghakiman. Di tengah itu, ia menebar jaring argumentasi yang pada akhirnya seperti menjerat kita pada perangkapnya. Sebuah esai argumentatif yang lumayan meyakinkan, tetapi sekaligus juga berbahaya dan menyesatkan!

Perhatikan, AN memulai tulisannya dengan kejujuran yang mengagumkan: ?Payudara terbit, sebuah novel karya Chavchay Syaifullah. Pada waktu yang hampir bersamaan, meluncur juga Tapak Sabda karya Faiz Noor. Saya belum membaca dua novel tersebut.? Bukankah ini pernyataan yang begitu jujur, bahwa AN sesungguhnya belum membaca kedua novel itu? Lalu, di akhir artikelnya, AN membuat penghakiman, meski ia meminjam tangan penulis lain: ?Jika sebuah novel lebih sarat dengan filsafat ketimbang novel, kenapa mesti ditulisi dengan ?novel filsafat?? Bikin saja buku filsafat,? tulis Asep Sopyan. Sebuah cemooh yang telak, tajam, dan tak terelakkan. Tentu, sebagai efek label dan tindak pembacaan.? Masalahnya kini: Apanya yang bisa menyesatkan? Bahkan, sebagai sebuah kritik, ia dapat kita analogikan sebagai racun yang berbahaya?
***

Secara konvensional, pemahaman teks sastra dapat didekati lewat dua tahapan yang berkaitan dengan indikator luar dan indikator dalam. Chavchay Syaifullah (CS) membuat label ?novel filsafat? sebagai indikator luar novelnya itu. Boleh jadi benar, lewat label itu, CS seolah-olah hendak mengerangkeng pembaca. Tetapi, bukankah pengarang boleh melakukan apapun ?termasuk membuat label itu?wong Tuhan saja tak melarang? Jika AN hendak menelan gagasan Roland Barthes, bahwa ?pengarang sudah mati,? maka label itu dapat dimaknai: (1) pengarang hendak memberi sinyal, tanda ?yang pasti penting untuk kajian semiotik?atau sensasi tentang tema yang diusungnya. (2) pengarang hendak menunjukkan dirinya mempunyai hak penuh dan bebas memberi judul apapun. Ia sebuah kreasi yang otonom, meski terbuka untuk diperdebatkan.

Tidak sedikit pengarang dalam karyanya membuat indikator luar untuk tujuan macam-macam. Taufiq Ismail, misalnya, dalam Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia memberi keterangan di bawah judul itu: ?Seratus Puisi Taufiq Ismail.? Bukankah tanpa keterangan itu pun, buku itu berisi 100 puisi Taufiq Ismail. Umar Kayam dalam Para Priyayi mencantumkan keterangan: Sebuah Novel untuk menegaskan bahwa buku itu bukan karya sosiologi atau sejarah. Novel pemenang Yayasan Buku Utama, Namaku Teweraut karya Ani Sekarningsih, eksplisit mencantumkan keterangan: ?Sebuah roman antropologi dari Rimba-rawa Asmat, Papua.? Tentu kita masih dapat menderetkan contoh lain lebih panjang lagi. Itulah yang dimaksud indikator luar yang (mungkin) menurut pengarangnya penting untuk mengisyaratkan isi. Jadi, label itu sekadar isyarat, sinyal, provokasi, iklan, sensasi atau apapun, itu hak mutlak pengarang, sebagaimana ia bebas memberi judul apapun untuk karyanya itu.

Tugas pembaca adalah mempercayai atau tidak mempercayai. Jika percaya, bacalah karya itu agar ia punya dasar untuk mempercayainya. Jika tak percaya, baca juga karya itu, agar ia juga punya dasar untuk tidak mempercayainya. Jadi, percaya atau tak percaya, harus dibuktikan lewat proses pembacaan. Tanpa proses itu, ia akan terjerat pasal-pasal tuduhan tak mendasar, meski (mungkin) tidak tergolong Pasal 310 dan 311 KUHP tentang pencemaran nama baik dan fitnah.

Pertanyaan AN: ?Mengapa harus pakai label? sesungguhnya bisa juga diajukan kepada sastrawan lain siapa pun juga. ?Mengapa judulnya Namaku Teweraut dan bukan Teweraut Namaku? Mengapa pula harus ada label: Sebuah Roman Antropologi dan bukan Sebuah Roman Antropologis untuk lebih menekankan kata sifatnya? Atau ?Mengapa Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia dan bukan Aku Malu Jadi Orang Indonesia?? Demikianlah, apapun jadinya bisa dipertanyakan. Tetapi sebagai indikator luar, ia belum menyentuh substansi, struktur, dan makna. Ia sekadar sinyal yang boleh diperhatikan boleh juga tidak. Dalam hal ini, pemahaman pembaca digiring pada hanya sebatas bentuk luaran. Pembaca boleh peduli, boleh juga abai. Oleh karena itu, untuk menuntaskan duduk perkaranya, pembaca tidak dapat serta-merta menghakimi bentuk luarnya sebagai keseluruhan isi. Bukankah kita tidak boleh menyimpulkan tabiat seseorang hanya dari nama atau bajunya belaka. Bukankah Maman S. Mahayana tidak berarti ia penganut Budha Mahayana?

Pembaca harus masuk dan menyelami substansinya, mengungkap struktur isinya, menjelajahi indikator dalamnya, dan coba mengaitkan indikator luar dan indikator dalam. Ada atau tidak ada kaitannya, tentu saja itu sangat bergantung pada wawasan dan pemahaman pembaca sendiri. Jika kemudian kita tak menemukan kaitannya, ya tak apa-apa juga. Bukankah pengarang juga mempunyai tanggung jawab moral, etik, dan estetik, atas buah karya yang dihasilkannya?
Agar saya tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti dilakukan AN, mari kita cermati novel Payudara karya Chavchay Syaifullah yang menjadi contoh kasus yang dipertanyakan AN.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *