Nyonya Whittard dan Kanak-Kanak yang Hilang

Rilda A. Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

SELAIN piknik di rerumputan taman, bersepeda, dan pergi ke pantai, ada satu hal lagi yang, bagiku, menyenangkan di setiap musim panas: menjemur pakaian di halaman.

Aku tinggal di sebuah rumah bata semi-detached yang dibangun tahun 1920. Rumahku dan rumah tetangga sebelah terlihat seperti sebuah wajah yang dibagi dua sisi dengan make-up yang berbeda -bingkai jendela rumah kami berwarna putih, milik tetangga berwarna cokelat dan begitu juga dengan pintu.

Penghuni sisi wajah yang lain adalah seorang Inggris tua bernama David. Ia berumur enam puluh tujuh, tinggal bersama anjingnya dan suka berkebun. Berwana-warni tulip tumbuh subur di tamannya musim semi lalu. Namun, seperti juga bunga-bunga musim semi yang lain-crocus, snowdrop, daffodil dan dandelion, tulip-tulip itu layu dan mulai berguguran di musim panas.

Hari ini setahun sudah aku pindah ke sisi rumah yang lain, tapi tak pernah satu kalipun aku melihat orang lain di rumah David. Tak pernah ada keluarga yang mengunjungi. Tak pernah pula aku berani menanyakan apakah ia berkeluarga atau apakah ia memiliki anak. Tentu saja aku selalu bertegur sapa dengannya jika bertemu, tentang cuaca ataupun penyakit tuanya. Hampir setiap belanja mingguan aku pun membelikannya sebungkus biskuit jahe yang kubeli di kota. David juga sering membantuku dengan urusan kebun. Namun, untuk bertanya urusan pribadi, tak ada beraniku untuk itu.

Pagi ini, tak seperti pagi-pagi yang lalu, musim panas benar-benar terasa, membolehkan aku menikmati kesempatan menjemur pakaian di halaman belakang rumah. Ketika asyik dengan jemuranku, terdengar suara menyapa.

“Halo.”

Aku terkejut dan melihat sekeliling.

“Halo, aku di sini,” terdengar kembali suara seorang perempuan. Kali ini aku tahu kalau suara itu datang dari balik pagar rumah David. Aku membalikkan badan dan melihat ke arah suara, mencoba melihat pemiliknya. Di antara celah pagar kayu bercat putih, aku melihat wajah seorang perempuan tua tersenyum padaku.

“Oh, halo,” jawabku sambil melangkah mendekati pagar.

Di balik pagar, aku melihat seorang perempuan tua bertubuh mungil, rambut putihnya yang pendek berkilau diterpa matahari. Sama sepertiku, ia pun sedang menjemur pakaian.

“Aku adik perempuannya David,” kata perempuan itu, mengulurkan tangan dari celah kayu.

“Senang bertemu Anda,” jawabku, meraih uluran tangannya, “Maya.”

“Donna. Donna Whittard,” sambutnya, “David cerita tentang kamu dan biskuit jahemu. Terima kasih.”

Aku tersenyum, “Bukan apa-apa. Hanya hadiah kecil. David juga selalu membantu kami.”

Ia tersenyum.

Lalu aku lanjutkan, “Anda orang pertama yang saya lihat di rumah David.”

Nyonya Whittard juga tersenyum, “Itu karena kami baru bertemu lagi.”

“Pardon?” tanyaku, tak mengerti.

Nyonya Whittard tersenyum lebar. “Apakah kamu ada waktu senggang sore nanti?” tanyanya lagi.

“Aku tidak punya rencana apa-apa sore nanti.”

“Kalau begitu, datanglah ke sini. Jam empat akan baik sekali.”

Aku mengangguk.

Nyonya Whittard kembali membungkuk untuk mengambil sebuah baju dari dalam ember. Setelah merentangkan sehelai kemeja dengan bagian tangan menggantung ke bawah dan menjepitnya dengan jepitan kayu, Nyonya Whittard melambaikan tangan dan masuk ke dalam rumah.

“Aku datang dari Australia,” kata Nyonya Whittard, setelah menuangkan teh untukku.

“Ah,” kataku, “Jauh sekali. Dekat dengan Indonesia, negaraku.”

Kutambahkan dua sendok gula dan sedikit susu ke dalam cangkirku, kemudian mengaduknya pelan. Kuhirup sedikit airnya dan kembali kuletakkan di meja kayu berbentuk oval.

Nyonya Whittard duduk di depanku, di sebuah kursi kayu yang tidak serasi dengan sofa yang aku duduki. Ruang keluarga ini tidak terlalu besar, karpet cokelatnya sudah mulai memudar dan kertas dinding yang bercorak tulip sudah terlihat tua.

“Apakah kamu rindu dengan negaramu?” tanya Nyonya Whittard, tersenyum sambil menyilangkan kakinya. Ia mengenakan blouse putih polos dengan rok biru bercorak bunga.

“Selalu,” jawabku, membalas senyumnya.

“Aku mengerti perasaanmu,” kata Nyonya Whittard.

Sejenak ia merapikan rambut putihnya ke belakang telinga, kemudian ia melanjutkan, “Kadang, ada saat aku juga sangat rindu Newcastle. Walaupun tak banyak kenanganku di kota ini, namun aku masih ingat satu hal: harum kayu cemara setiap kali ayahku merapikan halaman.”

Aku tersenyum.

Nyonya Whittard terdiam. Pandangannya terlihat kosong dan jauh.

“Mengapa Anda pindah ke Australia?” tanyaku, memecah kebisuan.

Nyonya Whittard kembali tersenyum padaku. Ia merapihkan roknya dan kembali menyentuh rambut di belakang telinganya.

“Kalau aku tidak punya banyak pilihan,” kataku lagi. “Aku datang dari negara dunia ketiga. Berbeda dengan orang-orang Inggris seperti Anda, warga negara kaya dan berkuasa, tanpa bekerja pun kalian bisa hidup layak di negeri sendiri. Tak perlu menjadi imigran. Kalian sangat beruntung.”

“Itukah yang kamu pikir?” tanya Nyonya Whittard, tersenyum. “Bahwa orang Inggris, warga negara kaya selalu lebih beruntung dari dirimu? Tak perlu menjadi imigran?”

Aku mengangkat bahu, “Sepertinya memang seperti itu. Di sini kesehatan dan pendidikan tak bayar, dapat tunjangan bulanan pula. Semua ditanggung pemerintah. Kalian bisa hidup dengan tenang tanpa harus jauh dari keluarga.”

“Apakah kamu rindu keluargamu?” tanya Nyonya Whittard, disodorkannya aku potongan timun, paprika, dan batang seledri yang ditata di nampan, lengkap dengan mangkuk perak untuk tempat saus asam. Bukan makanan ringan yang biasa disuguhkan untuk teh sore.

“Ya,” jawabku, sambil menggeleng untuk penganan yang ia suguhkan dan mengucap ‘thank you’ tanpa suara.

“Apakah semua keluargamu tinggal di Indonesia?” tanyanya lagi, kali ini menyuguhkan semangkuk pistachio.

“Ya,” jawabku sambil menjumput kacang yang ia tawarkan, “Ayahku telah lama meninggal. Tapi ibuku masih sehat dan bekerja di Indonesia.”

“Apakah kamu rindu ibumu?”

“Sangat,” jawabku lagi, terbayang wajah mama. “Baru kemarin ia berulang tahun.”

Nyonya Whittard tersenyum.

“Aku pun rindu ibuku,” kata Nyonya Whittard. “Terakhir kali aku bertemu ibu di sebuah tangga kantor polisi. Ia meminta saudara-saudaraku dan aku–aku punya empat saudara, dua laki-laki dan satu orang adik perempuan, David yang tertua– untuk menunggu sekejap di sana. Ibuku bilang ia akan pergi membelikan kami es krim.”

Aku mengerenyit, tak mengerti apa yang ia bicarakan.

“Apakan ibumu meninggal setelah itu?” tanyaku

“Aku tidak pernah tahu keberadaanya sampai saat ini. Setelah meninggalkan kami di tangga kantor polisi itu, ia tidak pernah kembali.”

Aku kembali mengerenyitkan dahi.

Nyonya Whittard kembali tersenyum, menghirup tehnya lalu berkata, “Baru seminggu yang lalu aku mengetahui bahwa David masih ada. Bahwa aku masih punya saudara.”

Aku mengerenyit, semakin dalam kali ini.

“Kami terpisah sewaktu kecil,” Nyonya Whittard menjawab kernyitanku. “Ketika orang-orang menemukan kami menunggu ibu berjam-jam di tangga kantor polisi itu, mereka mulai mencari tahu keberadaan ibu dan juga ayah kami. Malam harinya kami dititipkan ke sebuah panti asuhan. Setelah tiga hari tidak ada kabar tentang keberadaan ibu dan juga ayah, kami dipisahkan. David dan kakakku yang lain ditempatkan di panti asuhan yang kami tinggali. Sementara mereka memindahkan aku dan adikku ke panti yang lain.”

Aku tercengang mendengar cerita Nyonya Whittard.

“I am so sorry to hear that,” kataku pelan.

Nyonya Whittard tersenyum dan mengibaskan tangannya. Lalu ia melanjutkan, “Tak lama, panti asuhan yang aku tinggali terpilih untuk ikut British Child Migrant Program. Aku bersama adikku dan ratusan anak-anak piatu yang lain pergi meninggalkan Inggris di tahun 1954. Kami pergi dengan kapal laut menuju Australia. Saat itu umurku baru enam tahun.”

Perlahan Nyonya Whittard menarik napas panjang, menghirup tehnya dan kemudian melanjutkan: “Di Australia aku dipisahkan dengan adikku. Sejak itu aku tak pernah mendengar kabar tentangnya lagi. Aku ditempatkan di sebuah asrama. Di sana aku bertugas membersihkan gedung dan membantu di dapur, sementara anak-anak laki-laki harus bekerja di ladang. Di sana aku kerap mengalami kekerasan dan pelecehan. Umur sebelas tahun, aku mencoba bunuh diri.”

“Oh, I am really sorry to hear that,” kataku, menggeleng dan menutup mulutku dengan sebelah tangan.

“Itu pasti berat sekali untukmu,” ucapku lagi.

Nyonya Whittard kembali mengibaskan tangan, “Kamu tak perlu merasa sorry untukku.”

Ia tersenyum dan menyelupkan potongan timun di mangkuk saus sebelum menggigitnya sedikit demi sedikit.

?Aku bahagia sekarang. Aku punya tujuh anak dan seorang suami yang baik,? katanya, ?Lagipula sudah terlalu banyak sorry yang aku dapat. Tahun kemarin, Perdana Menteri Australia datang ke rumahku untuk teh sore dan ia mengatakan sorry. Tahun ini, Perdana Menteri Inggris akan mengucapkan sorry bagi semua orang yang ikut dalam Child Migrant Program. Setiap orang yang bertemu denganku selalu mengatan sorry. Sebenarnya yang aku butuh adalah ucapan selamat. Bahwa aku telah berhasil berjuang mengalahkan traumaku.

“Sorry,” kataku pelan.

Nyonya Whittard tertawa kecil.

Ia kibaskan kembali tangannya dan kembali merapikan rambutnya ke belakang telinga. ?Aku merasa sorry untuk David. Ia tak pernah keluar dari kenangan akan perpisahan kami. Tak berani ia menikah apalagi memiliki anak, ia selalu takut bila masa ia tak dapat melindungi dan memertahankan keluarganya. Seperti yang terjadi pada kami dulu,? tuturnya. Lalu ia mendesah dalam, “Aku merasa sorry untuknya karena ia selalu merasa bersalah.”

Saat Nyonya Whittard berkata itu, kunci pintu rumah terdengar diputar. David masuk bersama anjingnya. Ia tersenyum melihatku.

“Hai, David,” sapaku.

Saat David telah berlalu ke halaman belakang, Nyonya Whittard bertanya padaku, “Apakah sekarang kamu masih berpikir bahwa kami adalah orang-orang yang beruntung?”

Aku terdiam.

Nyonya Whittard tersenyum.

“Sorry,” kataku pelan, membuat Nyonya Whittard kembali tertawa kecil.

“Saatnya kamu pulang,” katanya.

“Aku akan menyiapkan makan malam untuk David dan aku. Banyak hal yang ingin kami ceritakan. Terlalu lama kami terpisah.”

Aku bangkit dari sofa dan melangkah menuju pintu depan yang telah dibuka oleh Nyonya Whittard.

Di depan pintu, aku kembali membalikkan badan, “Sungguh, aku sangat sangat merasa sorry untukmu dan David. Aku berharap kebahagiaan untuk kalian berdua,” kataku lagi, tak tahu harus berkata apa.

Nyonya Whittard kembali tertawa, “Kamu tak perlu merasa begitu. Aku sudah melupakan semuanya.”

Ia terdiam. Kemudian ia berkata pelan, “Kecuali satu hal.”

“Kalau aku boleh tahu, apakah itu?” tanyaku.

“Orang-orang menyebut kami sebagai kanak-kanak yang hilang dan aku juga berharap bahwa ia –aku ketika anak-anak itu benar hilang dan aku sekaranglah yang terlahir baru. Namun, aku tahu bahwa ia selalu ada. Entah mengendap di bagian mana di dalam diriku. Kerap kali aku merasa, aku sedang menunggu es krim yang dijanjikan Ibu.”

Selesai berkata itu, Nyonya Whittard tersenyum sendu.

Ia melambaikan tangannya padaku dan menutup pintu.

Meninggalkan aku bersama kelopak-kelopak tulip yang berguguran jatuh.

Newcastle upon Tyne, Mei 2010.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *