Prasmanan Untuk Romo Dick

Umar Kayam
majalah.tempointeraktif.com

TANTANGAN KEMANUSIAAN UNIVERSAL, antologi filsafat, budaya, sejarah-politik & sastra kenangan 70 tahun Dick Hartoko
Editor: Drs. G. Moedjanto, M.A., Drs. B. Rahmanto, Dr. J. Sudarminta, S.J.
Penerbit: Kanisius, 1992, 580 halaman

SALAH satu kebiasaan baik dari masyarakat cendekiawan adalah memperingati ulang tahun ke70 atau 80 dari seorang rekan yang dianggap berprestasi dalam bidang yang digelutinya, dengan menerbitkan suatu festschrift, suatu buku peringatan atau perayaan. Demikianlah Dick Hartoko, S.J., seorang romo Katolik, yang selama 37 tahun memimpin majalah kebudayaan Basis, tanggal 9 Mei lalu genap berusia 70 taun.

Kawan-kawannya bersepakat untuk menerbitkan sebuah buku kenangan. Dan karena Romo Dick adalah seorang yang menaruh perhatian serta memiliki wawasan yang luas dalam berbagai bidang: filsafat, budaya, sejarah, politik, dan sastra, tak mengherankan bila para pemrakarsa buku ini mengundang kenalan dan sahabatnya yang aktif dalam bidang-bidang itu ikut menyumbang karangan.

Kemudian lahirlah buku ini dengan 30 karangan. Namun, menerbitkan suatu festschrift bukannya tanpa risiko. Ia adalah suatu “meja prasmanan”, suatu smorgashbord, dengan aneka hidangan pikiran dan renungan. Yang terhidang dalam “meja prasmanan” itu adalah antologi karangan dari berbagai ilmuwan dan cerdik pandai, sehingga “masakan”nya pun aneka macam.

Undangan untuk mengarang pada satu festschrift adalah tentang tema apa saja yang disenangi dan bergantung sepenuhnya pada kehendak sang penyumbang karangan. Dalam buku Tantangan Kemanusiaan Universal ini karangan dapat pendek sekali seperti sumbangan G.J. Resink, Ibukota Prabu Rama dan Takhta Kraton Mangkubumi, yang hanya dua halaman. Tapi ada pula yang lebih dari dua puluh halaman seperti sumbangan karangan A. Teeuw dan Alex Sudewa. Dimensi karangan itu pun beragam.

Dalam bagian pertama yang menjelajahi dunia filsafat, misalnya, karangan itu berorientasi “praktis” seperti karangan K. Bertens, Mengajar Filsafat: Apa Gunanya? dan J. Sudarminta, Etika Profesi Bagi Dosen. Namun, juga ada karangan yang “murni” bertanya secara falsafati seperti tulisan John Verhaar, Teori, Keyakinan, dan Pembuktian, dan Anton Bakker, Badan Manusia dan Budaya.

Karangan Franz MagnisSuseno, Di Senja Zaman Ideologi: Tantangan Kemanusiaan Universal, yang juga dalam bagian filsafat, menurut saya lebih merupakan suatu pemaparan hipotesanya tentang proses pergeseran berbagai peradigma ideologi di dunia yang sekarang cenderung lebih menekankan pada peradigma “martabat manusia universal”. Barangkali karangan Franz Magnis Suseno ini lebih tepat diletakkan pada bidang “sosiologi ide” daripada filsafat. Bisa jadi, karena tak ada bagian yang khusus membahas soal sosiologi.

Karangan Emha Ainun Nadjib, Aros Cinta Romo Dick, mungkin lebih pas bila dimasukkan ke dalam bagian filsafat daripada dalam bagian kedua mengenai budaya. Emha, pemikir dan penulis piawai dengan teknik ajaib seorang maestro sirkus, memang bisa menjebak atau mengecoh pembacanya manakala ia tak peka dan awas dalam membaca yang ada di balik kalimat-kalimatnya.

Sementara itu, karangan pendek G.J. Resink tampaknya lebih merupakan refleksi tentang suatu momen sejarah penting pada saat Mangkubumi menetapkan letak dan nama ibu kota yang bernama Ngayogyakarta. Dapatkah karangan yang demikian dikategorikan dalam sejarah? Mungkin ini lebih cocok masuk bagian budaya atau sastra.

Bagian sastra secara relatif memang yang paling utuh. Artinya, medan garapan lahannya yang disebut sastra itu adalah sosok yang tampak lebih jelas. Sastra, pernyataan imaji manusia yang kompleks dalam bahasa tulisan, dalam bagian ini digarap oleh para pengarangnya baik sebagai penemuan penelitian maupun bagian esensial dari kehidupan.

Karangan-karangan Jakob Sumardjo, Masa Awal Kesusastraan Modern Indonesia, Ajip Rosidi, Kesusasteraan Indonesia Dimensi Rohani yang Hilang, Harus Dikembalikan atau Wiratmo Sukito dengan Duapuluh Delapan Tahun Pemikiran Manifes Kebudayaannya, tampil sebagai karangan yang membahas sastra sebagai suatu “produk budaya” yang telah mapan dalam suatu masyarakat.

Adapun karangan-karangan yang muncul sebagai penemuan penelitian dalam suatu ekspresi sastra bisa dilihat dalam karangan A. Teeuw, Petualangan Seorang Sinyor Asing di Asia Tenggara — Tentang Apreseasi Syair Sinyor Kosta, dan Alex Sudewa, Konsep Kekuasaan Raja di Dalam Transformasi, Perkembangan Ajaran Asthabrata.

Dua karangan penelitian penemuan dalam format yang lebih kecil tampil dalam tulisan Linus Suryadi A.G., Dewi Sri Dalam Dua Sajak Indonesia, dan Bakdi Soemanto, Penokohan Tragik dalam Cerita Pendek “A Friend in Need” Karangan W.S. Maughm. Sementara itu, mungkin dapat dikatakan di sini, bagian yang tampak paling lemah adalah bagian ketiga tentang sejarah dan politik.

Dari lima karangan yang tampil, justru karangan pendek G.J. Resink yang seakan bergumam dan jauh dari pretensius, muncul sebagai sumbangan yang menonjol. Judul buku Tantangan Kemanusiaan Universal tampak agak angker dan seram. Tampaknya, judul ini diilhami oleh karangan Franz MagnisSuseno, Di Senja Zaman Ideologi: Tantangan Kemanusiaan Universal, yang memang merupakan salah satu sumbangan yang menarik dan provokatif.

Tapi tak dapatkah para penyunting buku ini menemukan sendiri judul yang lebih sederhana namun mengena? Memang, tiada gading yang tak retak. Begitu pula dengan buku ini. Memang ada keretakan di sana-sini. Namun, ia tetap gading yang berharga. Festschrift ini adalah hadiah yang bagus, baik buat budayawan Romo Dick Hartoko maupun bagi para pembacanya.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *