Puisi-Puisi Beni Setia

http://www.suarakarya-online.com/
RUMAH

angin mengelus daun bambu di 3 batang kerdil aur kuning yang tumbuh dekat kolam kecil di halaman sempit perumnas: pagar besi dan jalan beton berkait kelingking. sekongkol memaksa mobil bergegasmendorong debu berlerot-orang-orang enggan tersenyum angin itu duduk di bubungan mengenangkan ladang bambu dan setapak kampung direnda parit

NOSTALGIA

kadang-kadang comberan itu gemetar-ingin tuntas mengeringkan limbah kembali lagi sebagai parit kering, yang kerontang. retak-retak bagai buah randu-diam-diam memanen selaksa kenangan tentang kabut, rintik hujan, geletar tunas rumput tumbuh, dengkungan katak, dan decit (jejak) langkah peladang riap angin di rumpun bambu ciap tajam siul burung kecil-sesuatu yang kini entah bermukim di mana

JUNI

mengenangkanmu membuat pembaringan terasa hangat suara tawa dan intonasi kata tadi petang: membuat angin semilir, membuat malam beraroma bunga jambu beribu kunang-kunang berserombol-menyatukan putik dengan tepung,meninggalkan sulur-sulur putih di rumput mengenang membuatku keramas dini hari

BULAN MADU

kerabat bledek berkumpul
di aula awan istana langit serentak. di sepanjang petang bermain bowling dan bilyard gemuruh-menggelundung. berdetuk memyebarkan kristal bening di bumi semenjak pagi matahari itu malu-malu muncul bertabirkan tipis burkah kabut

RINTIHAN

sepanjang malam angin memainkan rintik-dan tepias yang menjangkau pintu itu mempertebal dingin. sunyi malam yang menegaskan desah air parit sementara detak jam dan lampu ngungun mengubah ruang duduk jadi sel introgasi dengan setangkup telepon menunggu pengakuan (mungkin juga kutukan: bertahun tidak bertemu) menjelang pagi angin dan gerimis habis di pekarangan: tersisa daun-daun luruh dan endapan lumpur yang jenuh diusung hujan-batas rindu dari yang coba bangkit dari kubur

DEJA VU

mendekati petang: tak ada bedanya memainkan kaset dengan tape lama atau keping dvd dengan player mutakhir lagu yang muncul senantiasa memicu siul. cara paling murah buat menawar perih di dada dan jerat di kerongkongan sementara sinetron keseringan menjajakan happy ending semu. kebohongan senyum yang gagal menghilangkan pedih kenangan

17/07/2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *