Puisi-Puisi Deny Tri Aryanti

http://www.suarapembaruan.com/
Kusapa Laut

Laut berbelok ke utara
Ketika keperawananmu dihembus angin selatan
Meregangkan lelah dari waktu-kewaktu,
Menyeduhkan dendam pada ubun-ubun hantu
Seperti ketika kusekatkan kata di lidahmu
Malam telah hilang
Memagut separoh usia di tengah kemaluanku
Hilang kata perkata dari sajak bebatuan
Terlindas kematian,menggerakkan karang
Dan menghancurkan setetes buih putih
Dari rahim bayangan
Aku telah hadir
Menyapa angin,laut dan bebatuan yang sunyi.

Sby, Dec 2003

Perayaan Batu-batu

Kampung-kampung pembaptisan berlumuran darah
Menghiasi daun natal dan lonceng tua sebuah misa
Kuhampiri upacara kematianmu
Diantara pelayat tanpa lentera
Disana kelelawar mengaburkan musim semi
Menggelar malam menamatkan riwayat kesunyian
Tanpa sadar kuminum sebotol arak dari tenggorokanmu
Memecah cemara yang telah kau hias
dengan darah dan kematian
mereguk mendung di atas tanah merah
Hilang seperti dendam yang telah kau pupuskan

Sby, Dec 2003

Kereta dari Surga

Berjalan dalam kamarmu,
Seperti melewati kerikil dan bebatuan.
Menyingkap lembar demi lembar kelambu putih
Lebih mengerikan dari membunuh siluet merah di dahimu
Kau celupkan dunia pada baling-baling mimpi
Sampai melahirkan bunga-bunga es dan
Meratapi dinding ruang tunggu yang sebentar lagi lapuk.
Kereta hikayat dari surga telah menunggu kehadiranmu
Ingin membawa renta menuju lebam laut
Meletakkannya di atas karang
Membabtisnya bersama bunga-bunga
Hingga menciptakan mayat-mayat tanpa mata
Kapan mimpi ini kau torehkan pada malamku
Melayangkan sepucuk surat cinta di jendela kamar
Sampai embun jenuh menunggu waktu
Dan gemeretak dahan mulai surut bersama gerimis
Yang membunuh kematianku
Tapi rasanya aku telah mati
Bersama musim gugur
Yang kau kuningkan pada batas merah
Garis mimpi langitku

Sby, Dec 2003

Gerimis Terakhir

Jeritku menggema di balik tirai bambu
Yang kau tanam di depan bale-bale kamarku.
Kayunya telah lapuk, terlindas jalan basah
Mencecapi aspal-aspal sunyi
Di sepanjang gerimis kekosongan selangkangmu.
Merah muntah dari sudut buih kematian
Membentuk lautan dan setitik ombak di tengah pekikan merpati
Dendam ini kian membiru
Menyisakan rintik-rintik lelah dan jengah
Sementara waktuku masih panjang
Menggelar ratapan-ratapan lembayung
Melayang, lemah di atas tanah merah peraduanku.

Sby, Dec 2003

Saat Hujan Mencaci Mendung

Saat hujan mencaci mendung malam ini
Kita berjalan di bawah gerimis
Mengantarkan duka, membelah dendam
Dan menciptakan kematian bagi bunga-bunga
Tapi batu-batu telah mengeras
Membenturkan kesepiannya pada kemunafikan
Saat hujan mencaci mendung malam ini
Kelelawar telah memerahkan kepalanya di balik cakrawala
Menyiripkan kematian di ujung usia
Seperti gerimis kita yang semakin hilang
Di tengah abad-abad kesunyian

Sby, Dec 2003

Madas Mayu
:sebuah kampung tak berpenghuni

Matahari memenggalkan kepalanya di ujung jari lengkungku
Cemara menatap pada kematian bocah bugil
dari senja menuju kemuning
detak-detak jantung kian dendam pada peradaban
menikung pada sayatan-sayatan perih sebait pelangi
seperti ajal yang semakin terang oleh rentetan darah bidadari
terjal menjawab gelap
kau tawarkan sepucuk perkampungan
untuk kurangkaikan menjadi neraka di sudut bulu mata para pendosa
Ceceran pecahan otakmu menggambarkan kesunyian
-kesunyian dari lonceng menara tak bertuan
sampai kudapati leleran sungai yang pernah kau tenggak
seperti vodka di ujung bibir gelas sampanye
dimana pelacur dan pemabuk berpenghuni
Tapi dendam ini tak terbiaskan
meski telah kubunuh dengan lentik jari
yang pernah kau patahkan dengan sebuah sajak tentang merpati
Kematian yang kau harapkan tak juga hadir menghujani
malam setebal bukit zaitun
tatkala persemayaman ini kian alir bersama alur sungai
penuh darah dan nanah-mencekik kesunyian
antara Madas-mayu

Sby, Dec 2003

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *