Puisi-Puisi Heri Latief

Batu

batu yang diangkatnya ke puncak bukit itu
terguling lagi ke bawah
alam sadarnya bilang ada bahaya
lalu dibacanya sajak yang berlawan
bakar-bakarlah semua impian
supaya apinya memanasi hatimu
dan jangan lagi berpaling
lihatlah apa yang telah terjadi
tiada lagi kata yang pantas untuk diucapkan
semua realitas ganas memburu mimpimu
kemana juga kau pergi bakalan ketemu batu

Amsterdam, 2 juni 2010

Konsepsi

bunganya mimpi musim semi
kembang setaman jadi impian

o gitu ya?

bersemi puisi tanpa imajinasi
meraba misteri dalam gelapnya kata

sajak terdampar di pinggir trotoar
mari kita melupakan kepedihan, proost!
jangan percaya wanginya hayalan

berkacalah pada ganasnya realitas
: srigala menangis dirayu rembulan

Amsterdam, 31/05/2010

Emosi

harumnya secangkir kopi
rayuan wanginya arak api

senyum bulan tadi malam
bukan sekedar mimpi sayang

sebaris puisi mencuci emosi?

Amsterdam, 30/05/2010

Arah Kiri

aku tau rutenya
menyeberangi jalan setapak
ke arah kaki langit
lalu di ujung sana
ke kiri

Amsterdam, 30/05/2010

Siapa Yang Takut Malam?

perkenalkan namanya malam
pernahkah kau tau siapa membenci kegelapan?
dalam sajak gelapnya malam ada tragedi kesepian, ah gitu ya?
merindu angin malam ketemu debu membisu
besoknya mengulang lagi balada tujuh bulan tanpa kasian
bunyi serentetan petasan di malam lebaran, kapan?

Amsterdam, 30/05/2010

Tanggul Derita Rakyat

aku pernah datang ke tanggulmu
lumpur busukmu merendam kenanganku
di sana tak ada lagi harapan. musnah!

aku pernah datang ke pasar porong
kulihat derita orang terusir dari rumahnya
langit di atas desa porong kering tak berawan
panasnya udara bau intrik kekuasaan. ngeri!

tak tau lagi kemana aku mesti mengadu
dunia politik membeli suara. membisu
dan membungkamkan inti kebenaran

Amsterdam, 29/05/2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *