Rafilus tak jatuh dari langit

Leila S. Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/

“APA yang hendak diceritakan novel Rafilus?” Ini pertanyaan budayawan Umar Kayam di depan pengunjung di ruang Galeri Cipta, Taman Ismail Marzuki, Sabtu pekan lalu. Didampingi moderator Salim Said serta Nirwan Dewanto sebagai pembahas, Kayam, dengan suara getar, membacakan makalahnya Rafilus Budi Darma. Komite sastra Dewan Kesenian Jakarta juga mengajukan Umar Junus dan Faruk H.T. untuk mendiskusikan karya-karya Ahmad Tohari.

Usai mengutip bagian yang dianggapnya menarik, kemudian satu per satu Kayam menelanjangi tokoh Rafilus, dan mengasumsikan si narator Tiwar adalah alter-ego Budi Darma. Seperti dalam karya Budi Darma yang lain, tokoh-tokoh dalam Rafilus memang aneh. Ada Rafilus yang awalnya mengesankan Tiwar sebagai sosok tak terbentuk dari daging, tapi besi. Kulitnya hitam mengkilat, seperti permukaan besi yang dipoles. Dan pada waktu berjabatan tangan dengannya, tangan Tiwar terasa akan berantakan.

Ada Pawestri, pacar Tiwar, yang menurut Kayam neurotic dan punya kelainan perilaku seks. Hobinya jatuh cinta pada lelaki pincang dan gigi mrongos, bermata juling, atau kepala botak. Lebih gila, di malam hari Pawestri sering membayangkan dirinya bergiliran digarap banyak lelaki. Menghadapi serentetan keanehan, baik tokoh maupun alur ceritanya, Kayam mempertanyakan novel kedua Budi Darma ini sekadar deretan biografi. Bila biografi, pastilah biografi-biografi yang aneh strukturnya.

Menurut Kayam, biografi punya alur dan struktur jelas. Tapi Rafilus lantas berkembang menjadi novel “antiplot”, bahkan mungkin “antistruktur” atau “anticerita”. Karena itu, ia menyimpulkan unsur-unsur inilah yang menyebabkan novel Budi Darma dikategorikan “absurd”. Lalu Kayam (juga seorang cerpenis) memaparkan lahirnya kesenian absurd di Eropa sejak Frans Kafka — sebelum Perang Dunia I — dan teater absurd Beckett, Ionesco dan Genet, yang menetas usai Perang Dunia II. Ia mengacu pula pada absurditas menurut yang didefinisikan Martin Esslin. Malah, Albert Camus dalam berbagai esei dan novelnya disebutnya sebagai pelopor sastra absurd.

Kemudian, Kayam mempertanyakan karya absurd Budi Darma, apakah didukung kondisi absurd di Eropa Barat. Dan khusus Rafilus, apakah juga didukung pandangan dunia yang pesimistis tentang kondisi kemanusiaan di negeri kita atau dunia umumnya. Akhirnya, Kayam menutup makalahnya: “Sudah sampaikah karya sastra absurd di negeri kita pada kesimpulan absurditas kondisi yang kontemporer?” Atau, mungkinkah karya sastra absurd di negeri kita baru exercise di permukaan kehidupan kontemporer kita? Samakah ini dengan “musik rock Indonesia” dan “fashion Indonesia”? Tutur Kayam kepada TEMPO, ia hanya mempertanyakan apakah unsur pesimisme di Indonesia cukup beralasan melahirkan karya absurd.

Tapi menurut Nirwan Dewanto, sastra absurd di Indonesia sudah lama ada, sejak cerpen Museum karya Asrul Sani diterbitkan di tahun ’50-an. “Yang disebut karya sastra absurd karena cara mereka melihat dunia di sekelilingnya dan cara berekspresinya berbeda dengan yang realistis. Kedua, karakterisasi dibebaskan tanpa beban sosial, hingga secara ekstrem karakter dalam cerita sudah sama dengan ide,” ujarnya. Penyair muda ini bahkan menganggap bahasa dan pengungkapannya tak dapat dipertahankan lagi karena tanpa mampu menyingkapkan kondisi sebenarnya.

Karena itu, kata Dewanto, bahasa dan teknik absurditas sudah bangkrut. Contohnya, Putu Wijaya yang dulu menulis prosa absurd baru saja melahirkan novel Perang, yang kelihatan menandai kebangkrutan penulisan absurd di Indonesia. Kesimpulan Dewanto membangkitkan semangat sastrawan Satyagraha Hoerip. “Apakah absurditas bukan realitas kita sekarang? Baca Kompas hari ini. Ada berita menunjukkan realitas kita tidak memerlukan logika,” tuturnya.

Menurut Hoerip, berita tentang realitas sosial-politik di Indonesia tak berbeda dengan cerpen Budi Darma berjudul Kritikus Adinan — seorang yang tak tahu kenapa diadili, dan diletakkan di kamar terasing, tanpa ia tahu sebabnya. Menurut Hoerip, realitas di Indonesia justru lebih absurd dari cerita-cerita Budi Darma. Kayam menjawab, “Realitas sosial yang absurd semacam ini jika diceritakan dengan teknik absurd justru menjadi lucu.” Dan biasanya, realitas absurd akan “bermakna” kalau penulis mengekspresikan dengan konvensional dan linier.

Sedangkan Sapardi Djoko Damono, secara terpisah, mengatakan ada kerancuan dalam terminologi absurdisme. Karya Budi Darma, Putu Wijaya, dan Iwan Simatupang janganlah dilihat dengan kaca mata absurditas Barat. Absurditas bisa lahir di mana-mana dalam kondisi pesimistis pengarang terhadap lingkungannya. Penyair dan dosen Fakultas Sastra UI ini menganggap, jika karya Budi Darma atau Putu Wijaya diukur seperti didefinisikan Martin Esslin, tentu tak cocok. Kita berjarak dengan soal nuklir atau perang besar. Rafilus serta karya Budi Darma yang lainnya itu ekspresi absurditas keseharian di Indonesia, yang terdiri dari upacara-upacara. Dan Budi Darma pernah menyatakan, karya sastra adalah abstraksi kehidupan. Pengarang yang baru saja menyelesaikan novelnya Ny. Talis di Bloomington ini berpendapat, “Mereka (karya sastra — Red.) lahir dari realita. Pada hakikatnya, semuanya itu tidak mungkin jatuh dari langit.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *