Reality Show di Seputar Presiden

A.S. Laksana*
http://www.jawapos.com/

Sekarang mari kita membicarakan televisi secara sungguh-sungguh. Ini dunia yang menarik, penuh tepuk tangan, dan mungkin tidak sedikit orang yang ingin terlibat dan terlihat di layar televisi. Jika menyukai tepuk tangan, Anda bisa bergabung ke sana. Atau, Anda ingin menjadi pemandu acara di stasiun televisi? Ada panduan bagus yang ditulis Umberto Eco tentang bagaimana menjadi host televisi.

Panduan itu berjudul How to Be a Television Host, terdapat dalam kumpulan esai How to Travel with a Salmon & Other Essays. Namun, kalau Anda kesulitan menemukan buku itu, saya dengan senang hati akan meringkaskannya, sebisa saya. ”Beberapa waktu lalu,” tulis Eco, ”ketika saya sedang berlibur di Kepulauan Svalbard, akademi ilmu pengetahuan setempat mengundang saya untuk tinggal beberapa tahun di sana dan melakukan studi tentang Negeri Bonga.”

Itu adalah negeri khayalan yang perilaku masyarakatnya tak beda dari kita. Hanya, mereka memiliki kecenderungan ganjil untuk terus-menerus membuat deklarasi. Dengan kata lain, mereka tidak mengenal konsep implisit. Sebagai contoh, jika kita bicara, pasti kita memerlukan kata-kata, tetapi kita tidak merasa perlu menyatakan itu. Orang Bonga lain. Ketika seorang Bonga bercakap-cakap dengan orang Bonga lainnya, dia akan memulai dengan mengatakan, ”Harap diperhatikan. Sekarang saya sedang bicara dan saya akan menggunakan kata-kata.”

Deretan rumah di sana juga memperlihatkan pemandangan yang menarik. Ketika tinggal di Semarang atau di Jogja saya biasa melihat tetangga-tetangga saya memasang, di dekat pintu masuk, nomor rumah dan nama pemiliknya. Ada juga yang dilengkapi dengan nama jalan dan RT/RW. Orang-orang Bonga tidak memasang tulisan semacam itu. Mereka memajang tulisan ”rumah” pada setiap rumah dan ”pintu” di samping pintu.

Seseorang akan membuka pintu ketika Anda menekan bel pintu rumahnya. ”Saya sedang membuka pintu,” katanya. Setelah itu, dia akan memperkenalkan namanya. Jika mengundang Anda makan malam, dia akan menunjukkan kursi dan meja dengan mengatakan, ”Ini meja dan itu kursi.” Kemudian, dengan sangat berwibawa dia akan mengumumkan, ”Dan inilah istri saya! Rosina. Dia akan bertanya apa kesukaan Anda dan dia akan menyuguhkan makanan kesukaan Anda!” Begitulah, tata caranya mirip di restoran.

Bagaimana ketika mereka menonton teater?

Oh, tentu saja akan muncul seorang aktor saat lampu gedung dimatikan dan dia akan mengatakan, ”Ini tirai!” Kemudian tirai menyibak dan aktor-aktor lain muncul untuk bermain drama. Setiap aktor diperkenalkan kepada penonton, mula-mula nama mereka, kemudian nama karakter yang akan mereka mainkan. Dalam pertunjukan, ketika seorang aktor selesai bicara dia akan mengumumkan, ”Saya selesai bicara dan sekarang saatnya saya diam sebentar.” Dan dalam pergantian babak, salah seorang aktor akan mengumumkan, ”Sekarang waktunya istirahat sebentar!”

Masyarakat yang suka membuat pengumuman itu betul-betul memancing rasa penasaran Eco. Apa yang membuat orang-orang Bonga begitu obsesif membuat klarifikasi? Mungkin, pikir Eco, mereka agak dungu dan Anda harus mengatakan ”Saya akan pergi sekarang” setelah Anda mengucapkan ”Selamat tinggal.” Kalau tidak demikian mereka tidak tahu bahwa Anda akan pergi. Dalam satu dua kasus mungkin mereka memang dungu. Tetapi, rupa-rupanya ada alasan lain. Orang-orang Bonga adalah para pemuja hiburan, dan karena itu mereka menjadikan apa pun sebagai hiburan.

Ada pengalaman menarik lain yang didapat Eco selama dirinya tinggal di Bonga. Yakni, terbukanya kesempatan untuk merekonstruksi sejarah tepuk tangan. Di masa lampau, kata dia, orang-orang Bonga memberikan tepuk tangan dengan dua alasan: karena pertunjukannya menyenangkan atau karena mereka ingin menghormati reputasi orang. Sejarah tepuk tangan di Negeri Bonga juga menunjukkan bahwa di masa lalu para pemodal yang licik membayar orang-orang untuk bertepuk tangan sekalipun tanpa motif. Itu dilakukan untuk meyakinkan penonton betapa hebatnya produksi mereka.

Ketika televisi kali pertama disiarkan di negeri itu, para produser mengerahkan semua kerabat untuk memadati studio dan mereka bertepuk tangan mengikuti isyarat nyala lampu (yang tidak tampak oleh para penonton di rumah). Tipuan semacam itu sebentar saja terbongkar. Namun, ketika di negeri kita nilai tepuk tangan sudah merosot, orang-orang Bonga malah semakin bergairah. Para penonton televisi di rumah sekarang ikut-ikutan bertepuk tangan. Lalu, para pemilik modal siap membeli hak tepuk tangan, kelompok-kelompok lain siap menjual hak tepuk tangan mereka. Karena sekarang segala hal digelar di tempat terbuka, diperlukan pemandu acara yang akan mengatakan, ”Dan sekarang, para hadirin sekalian, mari kita perdengarkan tepuk tangan yang meriah.”

Beberapa waktu setelah itu para penonton tidak perlu dipandu. Maka, host melakukan pekerjaan lainnya. Dia mencari seseorang di tengah kerumunan, lantas menanyai orang itu, misalnya, tentang pekerjaannya. Yang ditanya akan menjawab, misalnya, ”Saya seorang masinis yang telah menggulingkan kereta tiga kali.” Lalu jawaban orang itu disambut dengan tepuk tangan yang meriah.

Selanjutnya, tepuk tangan kian menjadi penting di Negeri Bonga dan siaran iklan bahkan membutuhkan tepuk tangan. Ada sebuah iklan yang menampilkan ucapan seorang salesman: ”Belilah tablet susut perut ini!” Lalu tepuk tangan meriah terdengar, meski layar televisi itu tidak memperlihatkan orang-orang lain kecuali salesman itu. Tanpa tepuk tangan, iklan tersebut akan tampak kurang hidup dan penonton akan berpindah saluran.

Begitulah, orang-orang Bonga memerlukan televisi untuk memahami kehidupan nyata. Dan televisi memerlukan tepuk tangan untuk menjamin bahwa mereka menampilkan kenyataan. Mereka menyiarkan gambar mutilasi dan mengatakan, ”Ini mutilasi!” Tepuk tangan! Mereka menampilkan artis mencium pacarnya dan mengatakan, ”Ini artis sedang mencium pacarnya.” Tepuk tangan!

Sampai sekarang, demi memastikan bahwa kaki mereka menginjak bumi, orang-orang Bonga bertepuk tangan sepanjang waktu, bahkan sekalipun mereka tidak sedang menonton televisi. Mereka bertepuk tangan pada acara pemakaman, bukan karena senang atau ingin menghibur si mayat, tetapi untuk memastikan bahwa mereka benar-benar hidup, sebagaimana gambar-gambar yang mereka saksikan di layar televisi. Dan inilah laporan terakhir Umberto Eco tentang perkembangan Negeri Bonga: ”Suatu hari saya berkunjung ke rumah orang Bonga. Seseorang membuka pintu dan mengatakan, ”Nenek baru saja ditabrak truk!” Orang-orang lain menghentak-hentakkan kaki mereka dan bertepuk tangan sangat meriah.”

Saya kira, dari Negeri Bonga itulah bermula sejarah reality show. Dalam hal ini seluruh stasiun televisi kita patut berterima kasih kepada orang-orang Bonga. Bagaimanapun mereka adalah teladan bagi dunia hiburan di layar televisi kita hari ini.

Saudara-saudara, sekarang harap diperhatikan. Itulah ringkasan yang bisa saya berikan kepada Anda yang ingin bergabung dengan televisi.

Dan saya akan mengakhiri tulisan ini dengan ingatan tentang pasukan pengaman presiden. Saya punya dua saran yang berkaitan dengan mereka. Saran pertama untuk stasiun-stasiun televisi. Jika mereka menghendaki reality show yang menarik, mereka bisa mengikuti saja dari dekat segala yang dilakukan pasukan pengamanan presiden.

Setelah seorang bapak dibentak-bentak oleh anggota pasukan pengaman presiden, berikutnya seorang anak ”ditoyor” oleh anggota pengaman presiden pada peringatan Hari Anak Nasional. Saya tidak tahu seperti apa tepatnya ditoyor itu, apakah ditempeleng atau dijotos atau digampar atau ditepuk atau dijitak, tetapi anak itu konon menangis. Staf khusus presiden tentu saja perlu mengatakan: ”Harap diperhatikan! Pak Presiden tidak memerintahkan itu.” Tepuk tangan yang meriah.

Sebentar lagi akan ada peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan, kemudian Hari Pahlawan, kemudian Hari Ibu. Siapa tahu giliran berikutnya jatuh pada ibu-ibu. Misalnya, ada seorang ibu ditoyor pada Hari Ibu. Lalu staf presiden akan menjelaskan lagi bahwa presiden tidak menyuruh itu. Sekali lagi, tepuk tangan yang meriah.

Saran kedua saya tujukan kepada penyelenggara peringatan apa pun. Jika tidak perlu-perlu amat, janganlah meminta presiden membuka acara. Anda tahu, pasukan pengaman akan selalu tegang karena segala sesuatu di seputar presiden pastilah menegangkan. Karena itu, ada proyek untuk meninggikan pagar istana segala. Jadi, janganlah terlalu melibat-libatkan presiden. Risikonya tidak enak. (*)

*) beralamat di aslaksana@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *