Saat Menulis, Anda harus Ekstrem

Kiran Desai
Koran Tempo 28 Okt 2007

Jantung aktivitas Kiran Desai seolah tidak berhenti berdenyut. Seusai memenangi penghargaan fiksi Man Booker Prize 2006 lewat novelnya The Inheritance of Loss, perempuan kelahiran India 1971 ini disibukkan beragam acara. Ia terbang dari negara satu ke negara lainnya. Melintas benua, menyeberang samudra. Mulai dari pesta buku internasional di London yang riuh, hingga ke seminar sastra di sudut Srilanka.

The Inheritance of Loss adalah novel kedua perempuan berambut hitam ikal ini. Novel ini berkisah tentang konflik psikologis antargenerasi dalam satu keluarga India. Berseting tahun 1980-an di perkampungan Kalimpong di ketinggian Himalaya, cerita berpusat pada tiga tokoh utama dalam novel itu.

Ada laki-laki tua mantan jaksa yang mengenyam pendidikan di Cambridge dan menikmati pensiun di sebuah rumah tua bernama Cho Oyu bersama anjing kesayangannya. Ada Sai, cucu perempuannya yang yatim piatu, yang datang dan tinggal bersamanya, serta kekasih sang cucu, guru les matematikanya yang menjadi tentara bayaran Gurkha. Konflik yang timbul akibat perbedaan sikap dan cara pandang berkelindan dengan multikultur, persoalan imigran, dan konflik politik yang terjadi saat itu.

Kekuatan utama buku setebal 324 halaman ini terletak pada paradoks yang muncul. Pertentangan antara kemampuan Desai yang menampilkan tokoh dan seting pendukung dengan sangat detail dengan gaya bahasa percakapan yang sederhana. Paradoks itu pula yang dipuji para juri Booker yang mampu membelenggu pembaca untuk bersimpati pada tokoh-tokoh dengan konfliknya masing-masing.

Tatkala memenangi penghargaan bergengsi itu, Kiran Desai baru saja berusia 35 tahun, usia termuda dalam sejarah pemenang Booker. Banyak yang meramalkan ia akan segera menjadi bintang di dunia fiksi. Apalagi, ia berasal dari keluarga yang dekat dengan dunia fiksi. Ibunya, Anita Desai adalah penulis terkenal yang telah menelurkan banyak novel. Tiga di antaranya pernah tercatat dalam daftar pendek Booker.

Desai mulai menarik perhatian kritikus pada 1997 tatkala ia ikut mengisi tulisan penutup salah satu bunga rampai karya sastra 50 tahun India yang diterbitkan New Yorker. Salah satu editornya adalah Salman Rushdie. Strange Happenings in the Guava Orchard kemudian ia perluas menjadi novel perdananya Hullabaloo in Guava Orchard setahun kemudian.

Lahir dan melewatkan masa remaja di New Delhi serta tumbuh di Inggris dan Amerika, Kiran Desai mewakili sosok diaspora India. Meninggalkan tanah airnya untuk menetap di negara barat. Neneknya berasal dari Jerman, namun menetap di India sejak Perang Dunia II. Kakek dan neneknya dari pihak ayah berasal dari Gujarat dan beroleh pendidikan di Inggris.

Sebagaimana penulis yang masuk dalam generasi diaspora India, novel Kiran Desai kental dengan pencarian jati diri, pertentangan nilai-nilai barat dan timur, dan efek sosial dan psikologis yang dirasakan para tokoh karena berada di wilayah ?antara?.

Dalam rangkaian lawatannya ke berbagai festival buku dunia, Kiran Desai memasukkan Ubud Writers and Readers Festival, sebuah pesta buku internasional tahunan yang berlangsung di Ubud, Bali, ke dalam agendanya.

Angela Dewi dari Ruang Baca, yang berada di pesta itu pada pengujung bulan silam beroleh kesempatan untuk mewawancarai perempuan yang mengenyam pendidikan di Massachusetts dan Columbia University ini. Sebagian besar wawancara berlangsung khusus di Amandari Ubud, tempat ia menginap pada 28 September, dan sejumlah kecil di antaranya pada pesta pembukaan, senja 26 September. Dengan kalimat yang teratur, nada yang lembut dan halus, serta tidak terdengar sama sekali aksen khas India, pemilik dua kewarganegaraan -India dan Amerika Serikat? ini menjawab setiap pertanyaan dengan ramah dan selera humor yang tinggi.

RB: Anda kelihatan segar sekali, padahal Anda sibuk sekali sejak Booker, ya?

KD: Oh ya? Terima kasih (Kiran Desai tertawa lembut). Booker memang mengubah hidup saya banyak sekali, meski mungkin tidak secara total. Yang jelas, saya kerap bepergian ke berbagai tempat di dunia. Sebagian besar pesta buku dari yang besar seperti di Wales dan Inggris sampai ke Ubud ini. Saya menikmati suasananya karena setiap pesta buku pasti mewakili pembaca dan penulis lokal. Karena itu meski lelah, saya senang.

RB: Seberapa penting Booker Prize buat Anda?

KD: Penting, penting sekali? Terutama mungkin buat ibu saya (kembali ia tertawa). Ada hal menarik pada sebagian besar orang India. Mereka menganggap Booker sebagai hal penting dalam pencapaian hidup mereka. Seperti pembicaraan politik dan trofi kebanggaan dalam sejarah keluarga. Sebagian karena India memiliki sejarah panjang dalam daftar penerima, dan sebagian karena orang India memang mencintai buku dan dunia membaca. Bagi saya pribadi, Booker adalah pencapaian luar biasa karena saya menganggap ada nilai-nilai yang berlaku untuk karya saya. Artinya ada perhatian untuk apa yang saya hasilkan. Setidaknya saya bisa bicara pada Salman Rushdie misalnya dengan nada suara yang lebih percaya diri (Desai tertawa berderai). Tapi harus pula saya akui, amat berat menjadi penulis muda dengan sekian banyak sorotan. Anda harus meyakinkan banyak orang, meyakinkan diri sendiri. Ini tidak mudah.

RB: Butuh waktu lama untuk menyelesaikan novel kedua Anda. Apa yang terjadi di masa-masa penyelesaian itu?

KD: Ya, saya butuh tujuh tahun untuk menyelesaikan novel ini. Sebagian besar karena saya harus bolak-balik ke India dan ke tempat-tempat yang saya ceritakan. Sebagian lagi karena pikiran saya tersesat jauh pada persimpangan akan menjadi seperti apa nantinya novel ini. Betul-betul melelahkan.

RB: Saya selesai membaca novel Anda beberapa bulan silam, setelah berusaha keras menuntaskannya berbulan-bulan. Ha? ha? ha? Itu bukan novel yang mudah.

KD: Anda pembaca ke seribu yang berkata seperti itu (ia tertawa). Saya membayangkannya sebagai hasil dari coretan-coretan panjang pada kertas setebal 1500 halaman. Amat buruk bagi saya dan menjadi satu kekecewaan sendiri karena draft yang saya bayangkan lebih panjang dan konfliknya lebih kompleks dari itu. Tapi syukurlah semuanya hanya menjadi 300-an halaman.

RB: Anda sudah membayangkan akan jadi apa novel ini?

KD: Saat mulai menulis, saya benar-benar tidak tahu akan jadi seperti apa nanti plot dan sebagainya itu. Ada semacam peristiwa pengumpulan kepingan-kepingan ingatan, pikiran di alam bawah sadar dan sebagainya. Sisi baiknya, apa yang saya tulis itu adalah hal yang sangat dekat kehidupan saya.

RB: Artinya, sebagian adalah pengalaman pribadi?

KD: Sebagian ya, jika harus menyebutnya demikian. Seting tahun dan lokasi serta rumah bernama Cho Oyu itu benar-benar ada dan saya pernah menginap di sana, ketika seorang bibi menetap di rumah itu.

RB: Saya tertarik pada detail penceritaan dengan gaya percakapan para tokoh yang terkesan mentah. Ada yang menyebut Anda menentang kemapanan dan keseksian barat dalam gaya bertutur.?

KD:Inggris dan Amerika sudah terlalu mapan dengan gaya mereka sendiri. Terus-terang saya merasakan ini sebagai siksaan. Saat saya mengambil mata kuliah teknik penulisan, dosen saya dengan mudahnya bisa memerintahkan untuk membuat esai dalam satu jam. Setelah itu mereka akan memermak tulisan sedemikian rupa seperti operasi plastik agar tampak lebih Amerika. (Kiran Desai belakangan keluar dari jurusan yang ia ambil karena bertahan dengan gaya penulisan Asianya)

RB: Itu belakangan menjadi bentuk pemberontakan gaya penulisan Asia, bukan?

KD: Saya sangat setuju dengan istilah itu. Saya pikir penulis Asia harus punya gaya sendiri saat mereka melayani pembaca barat. Tidak perlu menjadi Inggris atau Amerika. Saya pribadi tidak bersedia bernaung di bawah payung pusat kepenulisan si anu atau si anu demi memoles gaya penulisan saya menjadi barat. Saya pikir itu sudah tidak jujur lagi dari segi proses. Itu menurut saya lebih sebagai workshop. Saya tidak bisa menciptakan novel dalam suasana menulis seperti workshop. Itu bukan lagi sebuah proses. Saat menulis dengan gaya khas milik Anda, Anda harus ekstrem.

RB: Meski tidak mau mengekor gaya Amerika, Anda pasti punya favorit kan?

KD: Oh, pasti. Saya suka Truman Capote, Tennessee William, Flannery O?Connor, banyak penulis Amerika. Banyak sekali.

RB: Soal novel Anda, sebenarnya apa yang hendak Anda sampaikan dengan kompleksitas penceritaan itu?

KD:Saya mencoba menangkap makna hidup di wilayah antara timur dan barat dan bagaimana rasanya menjadi imigran. Apa jadinya sesuatu yang bukan barat diberi sentuhan dan terpapar pada hal-hal berbau barat. Apa jadinya jika orang-orang yang biasa hidup dalam kemiskinan tiba-tiba berada di negara yang kaya. Hal ini sebenarnya sudah terjadi saat kolonial Inggris menyentuh India, lalu sekarang terjadi lagi saat Amerikanisasi mulai menyentuh kehidupan orang India.

RB: Anda sendiri mengalami kegamangan semacam itu?

KD: (Desai tercenung sejenak) Mungkin ada masanya saat saya merasa mengapa saya bukan India sepenuhnya atau sekaligus Eropa saja. Tapi, kemudian saya merasa sangat kaya karena perasaan saya bisa saya pindahkan sewaktu-waktu menjadi Asia sepenuhnya atau menjadi imigran yang melihat India dari kacamata barat, atau keduanya sama sekali.

RB:Bagaimana Anda menggambarkan keluarga besar Anda yang multikultur dan tumbuh dalam lingkungan barat?

KD: Oh, mereka sangat India sekali. Pada banyak hal misalnya mereka tetap cerewet soal apa yang harus saya makan, mengapa saya belum menikah dan siapa pacar saya (ia lagi-lagi tertawa). Sesuatu yang tidak penting untuk ukuran barat. Saya menikmati ketika saya berada di lingkungan keluarga besar. Rasanya menyenangkan mendengarkan dan terlibat dalam percakapan antargenerasi.

RB: Anda meninggalkan India di usia belasan. Sering pulang setelah itu?

KD: Belakangan makin sering setelah aktivitas menulis saya makin intens. Keinginan untuk pulang itu juga yang terus membuat saya ragu untuk melepas kewarganegaraan India saya. Makin lama saya makin merasa kian matang melihat lewat kacamata seorang India. Semakin dewasa, saya justru merasa tarikan sebagai orang India itu semakin kuat.

RB: Anda tidak ingin menetap di India?

KD: (Desai lagi-lagi tercenung). Begini, ada pengalaman menarik saat saya menulis pengalaman sebagai imigran di New York dan memaksa saya pulang. Sesampai di sana, tiba-tiba saya merasa, Tuhan?, India bukan untuk saya. Saya merasa tidak berguna. Biarlah India menjadi milik mereka yang lahir, tumbuh, dan berkembang murni di sana. Itu yang membuat saya memutuskan menulis tentang India pada tahun saya meninggalkan tempat itu.

RB: Belakangan ada kecenderungan penulis dari berbagai negara diterbitkan karyanya di Amerika dan sebaliknya penulis Amerika diterbitkan karyanya di luar negeri. Bagaimana Anda melihat hal ini?

KD: Ya, itu terjadi pada banyak penulis India belakangan ini. Karya-karya mereka kian banyak yang diterbitkan di Amerika. Sebuah perkembangan yang menggembirakan. Di India sekalipun, dunia penerbitan sudah sedemikian berkembang. Sungguh menarik menyaksikan wilayah yang tradisi penerbitannya baru berkembang, tiba-tiba saja semerbak oleh budaya buku yang mekar dengan pesat. Keuntungan menjadi orang India dalam sisi penerbitan buku ini adalah bahwa kami tumbuh dalam lingkungan bahasa Inggris yang cukup lama. Lebih luas akses yang bisa didapat dan kemudahan itu kemudian akan menjadi mesin keuntungan yang lebih menjanjikan.

RB: Menurut Anda apakah tumbuh di tengah budaya yang tidak mengenal bahasa Inggris sebagai bahasa percakapan menjadi kerugian tersendiri bagi penulis Asia?

KD: Saya melihatnya begini. Jika bahasa Inggris bukan bahasa percakapan Anda, mungkin lebih bijaksana untuk memperoleh akses agar karya Anda bisa diterbitkan di pasar yang lebih luas dalam bahasa Inggris. Lewat penerjemahan, kerjasama pendanaan misalnya. Seminar dan pesta buku internasional semacam ini selayaknya bisa memfasilitasi kebutuhan itu.

RB: Penulis punya gaya tersendiri saat proses penulisan berlangsung. Apa ritual Anda?

KD: Saya bisa menikmati tidur dalam waktu yang sangat sedikit, karena itu saya suka menulis di tengah malam, atau saat baru bangun tidur. Saya suka menulis di dapur, sambil minum teh atau terus-menerus mengudap kue-kue. Menulis lagi, makan kue, menulis, lalu menikmati es krim. (Ketika ditanya mengapa tubuhnya tetap langsing semampai dengan kebiasaan mengudap yang gila-gilaan itu, ia tertawa lalu menjawab ?saya terlalu banyak bergerak?).

Sore hari saya biasanya minum sampanye. (Saat upacara pembukaan pesta Ubud berlangsung, Desai minum sampanye cukup banyak. Minum sampanye ia teruskan lagi ketika ia bergabung dengan puluhan penulis usai makan malam. Sungguh aneh, ia tidak tampak seperti orang mabuk). Suasana sore tidak cocok untuk menulis. Saya lebih suka jalan-jalan, ke toko buku atau bertemu sejumlah orang. Sore hari adalah udara santai, udara pesta.

RB: Siapa penulis yang paling mempengaruhi Anda?

KD: Ibu saya (ia tersenyum). Sebenarnya dia lebih sebagai ibu sejati ketimbang mentor. Ibu saya tidak pernah mengritik aatau mengarahkan. Dia lebih banyak mendorong dan membesarkan hati. Itu menyenangkan sekali. Pengaruh lainnya mungkin karena saya tumbuh dan terus mendengar dan melihat proses berkarya ibu. Itu membentuk konsep sikap saya sebagai penulis.

RB: Anda sempat terharu saat mengucapkan terima kasih pada ibu Anda seusai nama Anda diumumkan sebagai pemenang tahun silam, ya?

KD: Ya, ya? Lucunya, saat itu saya tidak bisa menghubungi ibu karena dia tinggal di rumah tanpa jaringan telepon. Tapi betul-betul menyenangkan.

RB: Penulis lainnya?

KD: Saya suka (Gabriel Garcia) Marquez, Salman Rushdie, Naipaul, penulis-penulis muda Asia. Saya membaca dan mengagumi mereka.

RB: Apa rencana Anda di masa depan?

KD: Saya bersyukur tidak lagi berada di kampus. Mungkin akan menyenangkan bisa berkeliling dunia, melihat banyak hal, menulis dengan gaya yang lebih eksentrik dan tidak terlalu direpotkan oleh proses.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *