Sajak-Sajak A Muttaqin

http://cetak.kompas.com/
Kwawung Suwung

Kwawung yang terbalik
Enam kakinya gergaji
Melihat langit
Dan dua kaki kecil lain
Yang di bawah mulut persis
Seperti berbisik.
Siungnya seperti sungut
Sungut kuat dan ketat
Dan mulutnya
Yang pandai
Melubangi tinggi
Batang kelapa
Tak lagi ingin berkata.
Ia menjatuhkan diri
Dari pohon lurus itu
Sebab tak ada batang
Dan cabang rindang
Yang membuat ia
Melalang kenyang.
Ia menjatuhkan diri
Dari pohon lurus itu
Sebab buahnya bergerombol
Gerombol dan daunnya
Menyuir nyala sedari muda
Semuda ia yang tak tahu
Jika air segar di buah kelapa
Adalah kencing anak-anak tupai
Yang berloncatan arah
Di pohon-pohon sorga

2009

Gila! Mengapa Tak Kauucap Cinta Ketika Aku Penuh Bunga?

Dan kini aku telah tinggal duri. Cobalah kau mengerti
Mengapa aku memilih menusuk daripada runduk.
Memilih kutuk ketimbang lapuk di peluk.
Kubuang kuntum cium, supaya kau
Tak mencariku dalam harum.
Kukembalikan madu pada layu
Supaya kumbang terbang tanpa mabuk
Dan tuhan dapat dikit kubujuk.
Kutumbuhi segegap sepi
Juga mimpi yang tak berpenghuni
Supaya kelak, matamu lebih tajam dari aku
Yang pendiam. Dan akhirnya kauberoleh paham
Betapa cintaku dalam pada darah diam yang tak berasam.

2009

Bilik Pembatik

Ular yang seribu tahun lalu menyusup ke rumahmu telah kausamak di badan waktu, seperti tato tua yang tak luntur oleh hujan hantu dan kerdip mata gadis melayu. Seperti akidah kaku, begitu teguh ular itu memelukmu. Ular itu tak juga tergoda, walau sejarah moyangnya membuat kau dan aku betah memegang cinta.

Memegang pundak luka

yang membuat kita ada. Ular itu tetap milik kita selain bunga. Tetap cantik sisiknya, biar ia sering terluka di gelaran yang kian alpa. Di penyampir purba, di serat cinta yang kian kalah, ular itu bangkit tiba-tiba, seperti huruf Jawa yang sakit membaca dirinya, membaca rajah raja yang ditinggal tuah dan pucuk panah.

2009

Seperti Jalan Maut pada Masyi, Seperih Jamak Ubi dalam Kuali

Seperti itu pula kami beroleh pasti. Sebentuk kuali dan senyum penindih yang berakhir api. Selebihnya sepi. Tapi, di didih yang tinggi, masih bisa kami rasai betapa rinai rindu kami. Pada pedih yang tak terucap pembuluh pagi, kami mengerti betapa kesetiaan begitu mengharukan. Tapi jangan kalian menangisi kami. Sebagaimana kami tak pernah menangisi kalian. Sebab kami percaya, kalianlah cikal kali keajaiban yang akan membawa pulang pasir ke lautan. Sejak semai kami tahu, nasib kami bakal berakhir seperti ubi. Dan seperti ubi, kami rela menjalar ke tepi-tepi demi selamatkan buah putih kami. Kami sembunyikan pangkal,

agar akar dan daun kami kian

segar, merapal serat-serat rindu yang membuat daun kami menjalar. Mengarungi semak yang membuat Tuhan jadi jamak. Melintasi lemak yang membuat Tuhan jadi jarak. Kami tak pernah mengelak bila kembang kami terampas dari kelopak. Kami juga tak berontak, jika mereka jadikan kami sekadar rerumbai semak. Dan akhirnya kami pun ditanak. Lihatlah bagaimana mereka menanak kami, hanya karena bunda tak mahir mengatur lidah dan sisir. Kami pun tak mungkir, jika mereka justru menuduh kami para pandir. Namun jangan mereka lupa, kamilah mula musafir yang mulai menyisir belantara bedil dan sungil sihir.

2009

Seperti Pelajaran Biologi yang Sering Indah dan Terbata-bata

Seperti itu, aku bertemu lelaki mandul yang suka

menanam bunga. Di kepala lelaki itu tumbuh sepasang jamur kuno, dan matanya ditumbuhi semak-semak putih. Dari semak itu, buah-buah mungil matang sendiri. Bibir lelaki itu seperti daun gembili yang gatal dan memanjang, komat-kamit menyebuti

langit dan cinta wingit.

Senyumnya yang masih basah

diberikan pada kumbang dan burung-burung yang ahli lubang. Seperti pohon besar, lelaki itu sungguh sabar. Kulitnya yang tua, jadi sarang semut yang memanjang di batang tubuhnya yang kerontang. Burung-burung yang sering bersahut siul di rantingnya kerap membuat dia tertidur. Dalam mimpinya, lelaki itu selalu bertemu telur-telur.

2009

Berguru ke Gurun, Bergurau pada Anggun

Alangkah hiruk bila gatal kuduk kugaruk. Alangkah buruk bila bilur nyamuk kusibuk. Biar ular tetap mengajar arti kelenjar dan bisa liar. Biar burung-burung besar terus menebar siul kasar dan samar. Biar juga kekaktus tumbuh dan menghijau. Tapi seperti puisiku, tak usah kauharap ia sanggup menyanggupi sesuatu dalam hausmu. Tiap pagi embun datang dan terlinang, serupa tangis Isa di bawah pohon subuh yang renta. Tak ada yang mendengarnya, kecuali pasangan codot yang diam-diam malih iba pada pentil buah-buah. Semut- semut tengah berencana pindah rumah. Seekor pungguk yang semalam meringkuki sarang gerhana, telah terbang ke selayang terang. Sembilan kunang rimang melayang, sembari mengkhayali diri berderai bagai bayi bebintang, menerangi jalan kafilah yang kian entah dan patah-patah. Angin dan angan masih saling kelindan. Seekor ketungging hanya mengintip-intip dari ujung sengatnya yang sengit. Dan seekor laba-laba terus berputar dan berputar terus. Memintal ujung rima di putit bokongnya, menjadi selingkar rumah jaring nan miring, semiring sajak ini yang begitu sungguh, menaksir bulir-bulir getir dari pasir ke pasir.

2009

A Muttaqin lahir di Gresik, Jawa Timur, 11 Maret 1983. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya. Ia tinggal dan bekerja di Surabaya, giat di Komunitas Rabo Sore.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *