Sajak-Sajak Ari Pahala Hutabarat

lampungpost.com

Surat Kesebelas

belum genap sebulan
kukumpulkan penghujan
belum genap sebulan
kuposkan kemarau
bergambar jembatan kayu yang patah, sungai dangkal,
dan makam keluarga tanpa peziarah
belum genap sebulan
kumulai perjalanan
belum lagi layu
mawar di jambangan batu
pengikat maut itu
belum genap sebulan
dan kau telah lalai

2010

Cermin

dari hari ke hari kau makin tak kukenali
wajahmu berubah
ada lubang yang menganga di sana
yang menjadi pintu bagi pecahan kaca
tenggorokanmu memanjang dan tersendat
seperti rel kereta api yang bergerak ke arah bukit
warna merah begitu menyala di ujungnya
seperti pesta kembang api pada perayaan hari kemerdekaan
rel yang memanjang itu yang mungkin dulu pernah merayuku
untuk tekun menyusur jejak di sepanjang pinggir sungai
yang membusuk seperti bangkai keledai
di pinggir hutan larangan
lengan dan jemarimu renta pohon akasia
dan kuku di ujung kemarau itu
hitam dan berdarah
seperti habis mengelupasi kerak-kerak cuaca
lalu di perutmu yang penuh nanah
mendekam ratusan ulat yang berkeringat
dan pangkal pahamu
yang dulu begitu pualam
sekarang seperti pulau tandus
yang cuma merasa berhak memelihara semak kaktus,
sisa air, dan pecahan cahaya matahari
sementara, kaki yang dulu setiap hari bergegas
mengantarku ke rumah kayu itu
kini mulai rapuh dimakan tanah dan nanah
karena itu, istirahatlah
dari hari-kehari kau semakin tak kukenali
ujarku pada tubuh yang kupandang di cermin itu.

2010

Surat

asmara adalah kabut yang semakin lama
semakin memudar
hingga bayangan wajahmu
semakin sukar kugambar

2010

Ziarah
:guru sekumpul

ke taman mawar dan langit lapis tujuh
kumpulkan aku denganmu, penghulu
di bandar ini aku bertamu
usai usia mengalir menjauh
seperti hujan pertama tiba tergesa
setelah empat puluh hari tertunda
di bandar aku mengadu
ngigau ingin kau agar merayu

2010

Peramal
:hudan noer

Ada sungai, awan merah, dan saudagar yang ziarah
di pasar tua. Ada retak batu kecubung, asmara renta
serta rejeki yang tertunda
di telapak tanganmu
di kampung halamanmu
karena aku takut tenggelam
ada sungai dan janji di gurat tanganmu
ada sangsi yang tak selesai di sungai itu

2010

Surga

Kucari api di lorong rusukku. Mengapa salju dan wasangka
yang tergesa membuka baju.
Inikah rumah?

2010

———-
Ari Pahala Hutabarat, alumnus dari FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung (Unila). Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) ini terus bergiat berteater di Komunitas Berkat Yakin (KoBER) sebagai sutradara dan direktur artistik. Dari kelompok inilah ia pernah bermain atau menyutradarai lebih kurang 20 pertunjukan teater. Membaca puisi dalam beberapa event sastra nasional dan internasional. Puisi-puisinya dimuat di berbagai media dan antologi bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *