Sajak-Sajak Arya Winanda

http://www.lampungpost.com/
Tepi Kapal

pesing karat, buih berpusing di muka ombak yang asin. tak perlu telapak
dan jari tangan yang melambai seperti fiksi tahun delapan puluhan. tak ada lagi mabuk, sebab kini orang kebal dan ada pil anti mabuk, maka tak penting rasa malu dan kantung tempat membuang mual. kapal (nyatanya) hanyalah kapal, jembatan bergerak agar orang

(hewan atau barang) dengan segera berpindah tempat. dan pelabuhan, tak lain loket perekam agar tak perlu menyaru jejak sebagai penumpang gelap (meski tentu, ada celah di jejari yang rapat). tak ada lagi yang melambai, kecuali satu-dua nyiur yang mulai hitam. “ada punggung lumba-lumba di tengah bercak cahaya”, ucap seseorang, menyala tiba-tiba. tapi ia tahu itu, panorama lama yang dipertengkarkan dada dan matanya. ia berdiam diri, cuma matahari yang terpejam di tempat yang sama dengan pelupuk yang dipandangnya berbeda. di sela-sela bulu hidung angin menyisip. aroma apa yang ia harapkan dari udara yang korosif. sebab tampaknya itu mesti. apa yang diludahkan mulut bumi akan tertelan kembali. dan ganggang di kegelapan laut, hening, melambai-lambaikan diri.

2010

Usia

di pasar: sayur-mayur dan buah-buahan, rempah dan daging hewan dikepar atau bergelantungan. laki-laki atau perempuan dan para pedagang bercakap-cakap seperti lidah ombak. menguar atau mengutip apa-apa yang pada mulutnya tertitip. anak itu melihatnya setiap pagi-siang-sore atau malam, mereka ada dalam bau dan warna beragam. ia tahu mereka tampak sama pada waktu-waktunya, dari mata. namun tak pernah serempak dalam benak. kadang ada hujan atau angin yang membuat mereka tersentak seperti sekumpulan ikan tuna dalam laut, seolah bergerak ke arah berbeda namun lekas kembali seperti semula. ia dan anak itu sama mengamati. ia dan mereka?pada akhirnya, bagai daun nyiur tua di sisi batang nyaris putus bersama pelepah. dipilin angin yang kadang berkesiut, terkejut, seperti memukul atau meludah.
namun anak itu tidak, segenap detak dari lingkar 360 derajat.

2010

Pemakaman

doa dan serpih mahkota:
bunga kuburan
cuma geram garam
warna-warna serupa
yang dilemparkan ke altar
asin perkawinan

2009

Bunga Sepatu

di batas pagar
paruh-paruh hujan
yang rakus tak henti
mencotok
mahkota merah
yang berdaging basah
dan lekas rontok
kerna sebagai penghias laman
kelopaknya tak lekat?
ketat menggigit tangkai
membuatnya mudah
menekuk lutut
jatuh menyerah
membusuk
terbengkalai
di muka tanah

Desember 2008

Pelayat Pertama
di Hari Akhir

Seorang Musafir
kau akhirnya tiba
ke rapat dekap
usai badai pecah
punggung patah
serak pasir bagai
ribuan kaca tumpah
ludah merah oleh bercak darah
bual sumpah
berbuah serapah
dan sulur angin mengikat kakimu
hingga kau rebah sampai tanganmu
lunglai tak apapun terlihat
atau tergapai
sampai mata-kepalamu menyerah
genap sepat
kerongkongan berkarat
di ujung lidah kisah
kau lipat rapat
umpama peti penyimpan hikayat
di atas loteng pemeram ragam dongeng
berlembar-helai gambar suara luput terbaca
menjadi pakan kawanan serangga
gurun adalah gurun
meski kau berputar
menyisir tahun
debu adalah gunung
gunung adalah debu
seperti juga kau, wahai yang tersasar
tak lain seguci abu
dan oase kecil: rumah singgah
lumbung kurma menanak tamak
bagi hasrat lambung dan mulut-manismu
umpama bunga pasir
yang bangkit dan gugur
seringan angan sejauh ingin
tak habis-habis dipilin angin
cahaya luntur hingga matamu lengah
menangkap garis petang terhapus perlahan
sehening malam telentang
sebeku kumbang hitam
tumbang
di sehelai padang
dan kini, tengoklah
di keluasan kulit langit
ribuan mata berkedip
berbulu lentik
dan matamu
sebasah awan berperut kelabu
di retak bibirmu
sepotong nama bergetar
seperti menahan ledakan samar
namun tak sedesis kidung
berhasil melenting sebagai senandung
sumbang sekalipun

2008-2009

———-
Arya Winanda, lahir di Kotabumi, Lampung Utara, 14 Juli 1980.
Bergiat di Komunitas Berkat Yakin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *