Sajak-Sajak Budi Saputra

http://www.lampungpost.com/
Penggendong Benih

aroma embun dan ilalang yang kau hirup di pagi pasi disiram cahaya
adalah tiris doa semalam. di mana di ujung dengkur kembali kau
layangkan lidah-lidah mimpi ke tiang-tiang rangkiang yang lapuk
dan lereng bukit penuh halimun
o’ adalah benih kebahagiaan yang selalu kau dendang di petang
yang teduh. sebagaimana lumpur penuh akar padi dan tetas benih
ranjang yang riuh di jenjang kayu. betapa di pundakmu bukan lagi
cerita bakau yang larut hingga manzilah terakhir sinar bulan atau kelakar
tentang bocah-bocah koin di pelabuhan
ya, musim yang bergelinding di cekung matamu itu tak ubahnya seperti
laju waktu yang kian gemuruh di jantungmu. sebagaimana wejangan
ibumu di suatu kemarau itu berkata. “kau jangan gamang mencari sebentuk
sulur, mencari bening air kebahagiaan di selaput usia. kau jangan gamang
menyisir wajah musim. jangan pula seperti biawak dari kolong dangaumu
yang tersesat di ujung ranting pohon”

Padang, 2010

Dua Musim di Ingatan

(1)
setiap penghujung dengkur kunikmati benar manusia dan burung-burung
yang menari di ladang padi. sekumpulan bocah yang bermain lumpur yang terkubur dalam halimun di kaki bukit. dan anjing-anjing yang digiring tuannya ke padang perburuan. di mana di sepanjang pematang, betapa cahaya terpana menatap perempuan caping yang saling berpapasan, yang menjinjing penganan dan rajut doa yang dipilin di remang malam

(2)
raung halimbubu itu mengingatkanku pada tanah-tanah yang kian gersang digerus kemarau. dan segala yang diamini dari semak ilalang yang dibakar. betapa di tengah ladang tebu itu si ebon menangis tanpa celana di dekap ibunya. dan di ladang-ladang ranggas, bocah-bocah sebegitu riuh memainkan licin usia dari pagi hingga senja menjelang: kudengar jua dalam rakaat luka, doa-doa yang berteduh di bawah matahari selalu menjerit ke langit tuhan

Padang, 2010

Sajak Menjelang Tengah Malam

menjelang tengah malam, apakah kita masih mampu menyambung bait demi bait sajak kegelisahan. kegelisahan yang melintir di sela-sela tahun yang runyam. kegelisahan yang seperti bunyi pohon bambu yang rebah di dada perantau. di mana setelah peralihan itu, jadilah kita sepasang waktu yang menyeret kelubak luka ke dalam euforia kota. kota yang katamu penuh skenario busuk dan penari dini hari yang tumbuh subur dari alat kontrasepsi

bahwasanya di setiap malam yang jatuh dari derak pintu, selalu kita bayang dan bincang arus urban di sesak hutan-hutan beton. dalam dingin yang menusuk tulang dan desir perih yang melebihi perih perempuan bunting yang ditinggal mati lelaki laut. dan apa yang dapat kita lakukan, saat yang genting adalah garis nasib yang dibalut hitam tangis atau kemungkinan-kemungkinan yang hanya membuat kita selalu bertanya-tanya di ceruk jiwa. ?seperti riwayat daun di ranting tua yang diterpa senja, kita mengerti betul saat-saat untuk lepas dan usai. dimana sejauh melangkah kita tidak hanya sekedar melakonlia, menyeret remah doa, atau mengadahkan tangan-tangan sebagai jelata?

menjelang tengah malam, apakah kita masih mampu memilin bait demi bait sajak kegelisahan. kegelisahan yang menggores dinding-dinding buram. kegelisahan yang menating gemuruh nasib di dada, yang tak henti bertanya pada waktu “kapan musim-musim yang kalut ini berakhir pada kami?”

Padang, 2008-2010

Pemahat Sunyi

kau seperti cicak yang mimikri. di mana badan akan kawin
dengan deret kemungkinan, dan ekor raib ditelan waktu
makna apa yang pantas kau selip di ingatanmu? bahwa
setelah ujung persuaan kau kerap kali canggung dan gamang
memagut waktu
kau seperti rerama di kaca jendela. yang begitu pakaunya
meraba arah, meraba gaib tubuh almanak. kau yang berkutat
dengan kesunyian sendiri, yang dihimpit ingatan tentang
musim kepergian
kau seperti biawak di ujung ranting pohon. yang begitu
buntunya mencari diri yang lalu, yang kerap membatu
di lorong-lorong waktu

Padang, 2010

Penghujung Kemarau

penghujung kemarau begitu khidmat di pori-pori tanah
kering. sebab hujan adalah keriangan bagi jerit usia yang
senantiasa sayup dalam halimun. betapa bocah-bocah
berlari telanjang di depan lumbung padi. mengubur rentetan
tangis dan luka di akar-akar ladang, dan sepanjang bandar
yang dihinggapi burung-burung bangkai
lihatlah, di luar jendelamu upacara musim begitu riuh
betapa sayap-sayap udara hilir mudik di atas kelakar
kebahagiaan. betapa hujan dan tanah berpagut dalam hela
nafas dan sepasang bibir yang bercucur kalimat syukur

Padang, 2010

—–
Budi Saputra, Lahir di Padang, 20 April 1990, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Padang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *