Sajak-Sajak Dwi S. Wibowo

http://www.sinarharapan.co.id/
Jalan Desa

Kekasih pergi, lampu mati

Barisan pohon jati di tepian jalan
Jadi hitungan waktu kepergianmu
Pada setiap purnama,
Kutanam satu-satu.
?lekaslah tumbuh?

Apa kau masih ingat,
Setiap pagi kita susuri jalanan ini menuju pasar?
Atau saat malam sepulang mengaji
Dari surau milik wa haji di kampung sebelah?

Aku ingat betul
Saat bersepeda memboncengkanmu
Kita jatuh berdua di kubangan
dekat batas kampung
?wajahmu penuh lumpur?
katamu sambil tertawa

Sudah berpuluh pohon kutanam,
Sudah tak tersisa celah antar pohonan
di dua tepi jalan.
Bahkan rerumputanpun sulit tumbuh.

?sebesar apa anak-anak kita sekarang??
Kau selalu diam,
atau hilang selera bicara denganku?
Setiap kali pertanyaan itu kuutarakan.

Maka kutebangi satu persatu pohonan yang kutanam sendiri,
meski
Sesekali masih kueja namamu pada kulitnya yang terkelupas

Malam membuat kebekuan ini makin berkuasa
Di ranjang kita

Batang pohon jati
Kupotong kecil, lalu
Kutumpuk jadi unggun
Di halaman.

Malam tlah larut,
?selamat tidur, kekasih…?

Yogya, 3 september 2009

Lorong

Pot-pot tanaman
Kini berjajar di lorong
menuju rumahku

tinggal di alamat baru
dari sisa akar yang tercerabut
dari kebun di tempat nun sana

oleh paman kurus
yang kutemu tengah malam
di jalan sempit, lelaki
penabuh besi tiang listrik

-mendera bunyi lonceng gereja
yang dikirim pastor-pastor
berjubah ungu pada pembaptis
seorang balita
dengan kaleng susu digenggamnya-

selama
menyusuri jalanan ke utara
mengikuti
sekilau cahaya berkilatan
seluruh bimbangku bersatu
ke manakah sebenarnya?
Arah menuju alamat rumah baru,
Benarkah ia
yang tak balik
kemari
adalah penunjuk jalanku?

yogya, 5 desember 2009

Perayaan

Lampu-lampu dinyalakan,
Pintu, jendela dibuka
?ini malammu, sayang
sekian lama kau
menunggunya?

di muka rumah,
halaman menarik diriku

mengemasi sebaris sajak
yang sia-sia berserakan
di permukaan kolam, dikejar
ikan-ikan yang terus merasa lapar

pada tamanmu, tersemat
kuntum bunga yang basah
disiram terang punama
?pada tamanmu, ?kan kulabuhkan sandar?

Tubuhmu sintal dalam balutan
Gaun merah jambu,
?belailah sayang, tubuhku
Adalah ragamu yang
hilang dulu?
Meski malam seolah tabu
Bila mengeja huruf-huruf di punggungmu
Yang separuh kau
iarkan terbuka

Sebotol anggur menatap ragu,
Apakah gelas-gelas
yang berjajar
Sanggup ia penuhi

Sebab dingin malam
Bukanlah sahabat bagi diri ini
Yang tak lagi pernah
Membangkitkan aroma pada unggun api
Selain tumpukan batu
yang terbakar
Hangus menghitam

?malam ini adalah malammu
sayang, tlah kulantunkan senandung rindu?

Kemarilah,
Kita berdansa berdua. Di bawah
Terang bulan purnama

Yogya, 25 november 2009

Pesan Buat Yan

Yan, coba kau dengarkan.

ada derit pintu menyanyi
sumbang di panggung terbuka.
lalu ia pergi ke tempat sepi untuk menangisi kematian ibunya.
ia kasihan.
Lalu mengapa temannya tak lekas kembali?
Juga saudaranya.

Kemudian lilin lilin datang dengan membawa sedikit cahaya
Yang redup seolah turut menangis
Namun,
Ia justru membuat bayangnya menari

Biar kunang ikut sedih dengan kelip cahaya
Yang terselip di antara rumpun ilalang
Bunga rumput yang tertinggal.
Tempat beberapa lembar sayap kupu tinggal untuk bermalam
Sampai pagi menjelang
Dan semua telur mereka menetas
Menjadi ulat ulat kecil
Di pucuk daun.

Seperti masa kecil dulu,
Kita bermain air di telaga yang sepi
Menyibak air dengan batu mungil
Yang melompat di permukaan.
Lalu pulang dengan kuyup, dan
Kau selalu dimarahi ibumu.
Dan aku yang lari
Saat sepatu milik ibu terbang mengejarku
Merindukan untuk menyentuh pantatku
Dengan sedikit tabokan.
Namun kita tak pernah jera,
Dan esoknya
Kita bermain air lagi di telaga
Sebab kita tak pernah takut
Bila nanti ia yang membawa kita kembali.

Yogyakarta, 27 juli 2009

Sajak Perpisahan
Buat kawankawan TEBAS

?aku belum tentu mampu
Menjadi kalian?

Saat ini, kita telah berada di pelabuhan
Dengan tiket kapal
yang kita pegang
masing-masing

?kapal siapa yang akan
pertama berlayar?
kapal mana yang kelak
sampai tujuan lebih dulu??

Tak usahlah
Kalian terlalu banyak
mengenang
Luka-luka, bekas memar
Di dada kita yang kelak menuliskannya sendiri
Meski barangkali,
Hanya sampai di laut pelabuhan ini:
Ujung timur
Pulau tempat tinggal kita

Senja, senja, senja
Tali jangkar dilepas satu per satu
Kita berangkat
Masing-masing membawa
cindera mata
Yang sama-sama kita kumpulkan
Dari segala macam cerita
Dari tabir sebuah mimpi

Kelak,
Apakah kita akan saling mengingat?
?Apakah akan ada rindu yang tersemat
Di dada kita?? Perihal
Genggam jari yang tak jua melebur
Hingga kini

Matahari terbenam
Laut tenang seakan tak biasa
Dan kapal-kapal kita tak lagi saling terlihat
Berlayar sendiri-sendiri
Menuju tanah yang entah di seberang
?malam, sama halnya
Jejak burung camar
Yang tak pernah terbaca di permukaan air?
Sampai suatu hari
Kita tak saling bertegur sapa

Stage Tari,
2 januari 2010. 18:46

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *