Sajak-Sajak Kurniawan Yunianto

PEMBERANGKATAN MALAM

bukan doa ataupun mantra
yang kuselipkan di sebalik bantal
hanya secarik kertas yang tadinya
lama tersimpan di saku baju
kumal dan usang
mestinya sudah kubakar bertahun lalu
tapi urung saat terlihat
ada alamat yang akhirnya kusadari
sebagai tempat yang
bertahuntahun kurindukan
untuk menghabiskan sisa waktu

saat niatan penuh memuncak
segalanya menjadi tak penting lagi
hingga kemudian tak sungkan
menampar rembulan mengusir pergi matahari
sendirian memanggul pilar kayu jati
menyusuri jalan kota
menuju sepetak tanah bakal rumah
tempat melepas lelah
usai merayakan tulisan yang penghabisan

kau memandang
dari kota lain yang kau bilang
mulai dari pusat hingga pinggirannya
melulu sungsang
apa lalu yang mesti dilewati
tak ada lagi kereta yang berangkat pagi
sepertinya perjalanan akan dimulai
saat matahari tenggelam

saat segalanya terasa padam

07.04.2010

TAHUN KE DELAPAN

inilah tahun ke delapan
sejak kuputuskan mukim di sini
bersama kunangkunang
yang kukumpulkan satu demi satu
malam demi malam
hingga garisgaris di telapak tangan
makin hitam menegas
erat menggenggam kenangan

pendarnya adalah
pijakan atas keyakinan
tertulis dengan tinta merah
dari sejarah yang berdarahdarah
dari segala peristiwa yang terlewati
telah menjadi Kitab suci
pada masingmasing hati

keramatlah Engkau kekasih
manusialah kita

11.04.2010

BANGUN KESIANGAN

batang terakhir
bercangkircangkir
terbakar dan mengalir

kemana bara api
kemana pahithitam kopi
kemana pula yang lain pergi

asbak telah bosan dengan abu rokok
kembali lantai sebagai tempat
bagi yang belum sempat

malam menjelang pagi
melewati jendela sinar rembulan
bikin keperakan paras sebelah kiri

kilau yang tak kusuka
pelanpelan kulepas ke lantai
bersama remahremah masa lalu

agar saat bangun kesiangan
berhasil menjelma lagu

s a t u
wajahmu

CEPAT PULANG

kulit tanganku mengeriput
di sebaliknya uraturat menonjol
seperti kabel atau spagheti yang kusut

dan mata terus memandanginya
saat katakata ini dituliskan
kerna aku tahu kau pasti datang

membuatnya pudar
lalu mengambil beberapa utas
barangkali lezat untuk sebuah perjamuan

dengan segelas coctail yang menampung
cairan dari seluruh lubang di tubuh
pasti sangat memabukkan

maukah kau mengundangku makan malam
aku janji tak kerja lembur sayang

25.04.2010

LADANG GARAM

setelah segala perhitungan
tertulis pada kertas buram
lampu kamar yang terabaikan
membuat bayangbayang tubuh
teronggok di keranjang cucian

dan keringat yang netes
mengalir sudah ke peradaban
mengering pada baju hitam
yang terpakai sehari semalam
menjelma luas ladang garam

tak pernah sampai ke sungai
memuara pada Lautnya sendiri
dengan ombak tak mudah lelah
menjaga perasaan yang ada
agar tetap lapang dan terhidupi

masinlah jiwa matanglah hati

s e k a r a n g
bukan kemarin atau nanti

bukankah kemenangan
yang sering dikata memabukkan
adalah saatnya untuk mati
sebelum hidup kembali dimulai

menjadi kristalkristal putih
bertaburan pada gelap semesta

sepertinya tak bisa lagi mengelak
kerna kitalah yang terpilih

14.04.2010

LAYAR MONITOR

layar monitor tak henti mengerjap
saat autoview mengupdate data
seolah transaksi yang tak pernah putus
seperti pergerakan peristiwa
berkelebatan dalam sorot proyektor
pada dinding tua yang gelap

sejauh terjangkau dari masa lampau
berdetakdetak berderapderap
karnaval warnawarni meriah merayap
konvoi barisan petarung yang tangguh
melaju terus tak pernah tersentuh

lalu satu demi satu filmfilm pendek
yang bertahun terserak di benak
kembali diputar ulang
bertegur sapa mengajak tertawa
menangis melupa hingga benarbenar
bikin mabuk dan gila

setelahnya lama hanya saling mengerjap
bersitatap dengan layar monitor
bola mata makin nanar makin merah
kian samar kian lelah
dan pandangpun menjadi pudar

saat listrik tibatiba padam
dan satupun tak pernah terselesaikan
pertaruhanpertaruhan yang mahal
pertarunganpertarungan dari masa silam
hingga ke entah kapan

mungkin hingga listrik kembali menyala
lalu pelahan memulai dari awal
melewati semua kejadian tanpa peduli
ke arah mana langkah kaki

sementara segala gerak tubuh dan jiwa
tak pernah luput dari penglihatanmu

dan aku tak lagi kepengin meniada
biarlah benarbenar apa adanya
hingga segala rasa ingin
lepas satusatu dengan sendirinya

seperti yang sering kubilang

terserah k a u saja

04.04.2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *