Sajak-Sajak Kurniawan Yunianto

KEPADA KATA

ada yang menari
di atas tubuhku
lidahmukah sayang
yang kini begitu tajam
bikin garisgaris merah
silang sengkarut
tak karuan arah

luka dan darah
seperti tak mau pisah
bertukar warna
bertukar rasa
riuh dalam gelisah
tak pernah sudah
hingga semua basah

tidakkah terlihat
matahari telah di barat
sewarna tembaga
pupur oleh jelaga
dan senjapun sekarat
dijemput malam
yang ituitu juga

selalu bikin ngilu
tiap kali mulut gagal
ucapkan nama
serupa rajah gagu
dalam huruf purba
yang tak tereja

dan siapakah itu
yang kini tarsipu malu
sembunyi di balik waktu

bukankah kalbu
segaris sejarak nafsu
saling membutuhkan
pada murni kehendak
yang tak bisa ditolak

kata bisa saja dusta
tak menemu nyata
termungkinkan pula
membuat luka
dan kita masih saja

p e r c a y a

22.03.2010

TELAH MENJADI DOA

teriakmu makin keras
akhirnya kuganti handphone
agar dapat mendengar lebih jelas

tapi kini mesin yang bicara
wajahmu di manamana
suaramu entah ke mana

kembali handphone harus kuganti
barangkali kau masih mau menyanyi
dan berkenan mengganti fotomu lagi

lalu seperti biasa
aku akan lebih dulu menyapa
dan mengakhiri perbincangan
dengan kalimat yang membosankan

katakata yang ituitu juga

hatihati sayang
tetaplah dengan keyakinan

20.03.2010

MEMBUSUK BERSAMAMU

selain kepadamu yang mengingatkan
pada seseorang di teramat dulu
yang aku lupa namanya tiap kali
malam mendekapku sepenuh sunyi
siapa lagi yang dapat membuatku lega
berkisah tentang riwayat tubuh

tubuh teriris tubuh terpotong
tubuh berlendir tubuh licin tubuh bacin
tubuh yang nyaris di sepanjang usia
menggigil oleh tawa yang merana
yang kau dan aku pernah menempatinya

dan ceritapun sampai pada tepian sawah
saat rebahan melepas lelah nikmati
angin awan dan padi yang mulai menguning
menjernihkan pandang mata
paling tidak dapat sedikit berjarak
dengan segala prasangka kepada cuaca

lihatlah awan yang berbentuk kepala singa
kini serupa rajawali sendirian mengepak sayap
berharap sampai ke batas cakrawala
menemukan sarangnya terbuat dari cahaya

sebelum menjelma menjadi hujan
biarlah seluruh peristiwa rapat tersimpan
agar kangenku kembali punya mata

dan tubuh ini akan lebih cepat membusuk
tanpa kenangan pada seseorang
yang tak kuingat namanya

bersamamu

17.03.2010

MENYISIR RAMBUT

seperti halnya benang kusut
terjadi pula pada rambut
berhelai dalam simpulsimpul
seolah serabut akar memanjang
dari otak ke luar menembus kepala

sekian gagasan pemikiran
tak pernah terlaksana
sengit saling sangkal menyalahkan
mandeg menghadapi kenyataan

jadi ingat sekelompok anak saat ditanya
siapa memecah kaca jendela
dengan lemparan bola

lalu dengan menggerutu
kita hanya bisa mengguntingnya
menjadi potongan pendek panjang
menatanya dengan repihan kaca
berharap akan tercipta mozaik
yang menggambarkan

orang sedang menyisir rambutnya
di depan cermin

14.03.2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *