Sastra Kutu

Cunong N. Suraja
http://oase.kompas.com/

Ungkapan mati kutu, kutu kupret, kutu buku, dan kutu-kutu yang lain menarik perhatian untuk dianalisa mulai dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kutu yang dikatakan sebagai ?Kutu mengacu pada berbagai artropoda berukuran kecil hingga sangat kecil. Nama ini dipakai untuk sejumlah krustasea air kecil (seperti kutu air), serangga (seperti kutu kepala dan kutu daun), serta ? secara salah kaprah ? berbagai anggota Acarina (tungau dan caplak, yang berkerabat lebih dekat dengan laba-laba daripada serangga). Semua disebut “kutu” karena ukurannya yang kecil. Dengan demikian, pengertian awam istilah ini tidak memiliki arti taksonomi.

Dalam arti lebih sempit, kutu adalah serangga yang tidak bersayap dan berukuran kecil, yang dalam bahasa Inggris mencakup flea (kutu yang melompat, ordo Siphonaptera) dan louse (kutu yang lebih suka merayap, kebanyakan ordo Phtiraptera yang semuanya adalah parasit). Dalam bahasa Indonesia keduanya tidak dibedakan, malah mencakup juga sebagian dari kerabat wereng (ordo Hemiptera) dan beberapa anggota ordo Coleoptera. Untuk menjelaskan, diberi keterangan di belakang kata “kutu”. Para biologiwan berusaha mendayagunakan kata tuma bagi kelompok Phtiraptera, walaupun menyadari terdapat kesulitan dalam penerapannya.

Sudah jelas bahwa kata kutu memang ambigu karena dikenal sebagai serangga dan heksapoda ataupun hama. Kutu kupret adalah makian yang muncul karena kekesalan yang tak terlampiaskan. Maka adakalanya penulis juga menuliskan kekesalan sebagai layaknya berucap kutu kupret atau istilah jamaknya protes. Sedang mati kutu menengarai pada kondinsi terpojok tak bergeming dan kalah karena malu seperti kutu rambut yang hitam dan sering digigit perempuan ketika berhasil menangkap ketika mengoperasi rambut tetangganya seusai makan siang menunggu senja tiba untuk menyambut lelaki suaminya pulang kandang bersama hewan ternaknya.

Sedang kutu buku biasanya bermakna lebih positif walupun sesungguhnya kutu buku bukan membaca buku tapi melobangi buku sebagai hidangan santapan makan sehari-hari karena kelembaban udara mendukungnya. Nah, dari kutu buku ini terbersit gagasan tentang adakah sastra kutu dalam belantara rimba kata-kata yang telah termaknai adanya sastra kuda serta sastra reptilian? (sila klik: http://www.goodreads.com/topic/show/241440-bencana-sastra-kita-cunong-n-suraja)

Sesuai dengan definisi kutu yang ambigu sastra kutu pun agak repot diindikasi secara jelas. Sastra Kutu selalu menggelitik kepala untuk ?menggaruk?nya karena selalu mengganggu imaji yang kadang sedang terkonsentrasi pada kebiasaan penulis untuk bermeditasi, mencari ilham, menangkap pikiran penulis lain untuk ditanggapi, ataukan mengibarkan bendera polemik yang kadangkala hanya berbicara hal tak begitu pelik tapi sangat mudah untuk mengutak-utik menjadi setitik percakapan-percakapan kecil (semisal tulisan tentang Sastra Kutu ini!).

Untuk memfokuskan pada sastra kutu seperti halnya sastra kuda dan reptilia yang mudah mengarah pada sastra bertendensi kecuali sastra yang terkumpul sebagai sastra reptilian yang merupakan jenis terbanyak merayapi dinding facebook ini dengan merdeka. Kesimpulan sementara sastra facebook jenis reptilia adalah yang kurang menggali kekuatan referensi bacaan terhadap alam sekitar, akar budaya maupun pemikiran bijak para pendahulu penulis yang telah terakreditasi tingkat kreatifitas, orisnalitas, akdemis maupun kekhasanya dalam daya ungkap.

Penulis di facebook terutama yang senang menggeluti puisi masih saja mengikuti jejak penulis nyanyi sunyi memuja rembulan dan mendekap kesenyapan sebagai jalan pedang penyair yang memandang bulan bugil bulat telanjang seperti pungguk yang berdoa dapat santapan malam yang terang bederang karena bulan purnama. Penyair facebook macam ini hanya mengolah kesakithatani (sakit jiwa ataupun sakit sosial karena perbedaan perlakuan individu di masyarakat yang kadang kejam dalam menghukum tanpa sidang pengadilan), harapan kosong yang menggebalau perjalanan hidup seumur jagung, kekecewaan atas kegagalan peraihan keinginan yang memang sangat diharapkan dapat teraih dengan instant seperti mengudap mie yang super cepat tersaji dengan segala rasa yang ditawarkan.

Sastra kutu memang tidak jauh dengan sastra instant yang dulu ditengarai sebagai kumpulan karya yang tertolak redaksi sastra koran dan mengelompokkan dalam sastra cyber yang berkonotasi dengan sastra tong sampah. Kalau yang model begini memang layaklah dikatakan facebook merupakan pengejawantahan tong sampah karya sastra jilid dua. Tapi pernahkah mereka diteliti ulang setelah Faruk HT pernah kecewa dalam membaca gerombolan kampretian (para kampret atau cyborg di mailing list) yang hanya berhaha-hihi dalam berkomunikasi? Walaupun tak terpungkiri dari saringan haha-hihi juga meletuskan beberapa penulis yang bernas dan menembus kekakuan redaksi sastra koran yang semula banyak alergi dengan sebutan sastra cyber karena beda pemahaman (Polemik sastra cyber sudah dibukukan oleh Saut Situmorang silakan baca buku ?CYBER GRAFFITI, Polemik Sastra Cyberpunk? (2004) yang kemudian dikembangkan olehnya dalam buku ?POLITIK SASTRA? (2008 ?) yang tak terpampang di toko buku papan atas semisal Gramedia.

Sastra kutu memang mengganggu tapi juga dirindukan karena mengingatkan pengalaman masa silam saat luang tanpa tujuan bercanda-ria dengan tetangga untuk menunggu waktu karena budaya yang tak memburu waktu seperti pergerakan wacana dalam facebook yang berdurasi detik bukan surat-menyurat zaman kuda gigit besi atas kerja lelah pak pos yang tercinta yang terapresiasi oleh The Beatles dalam ?Please Mr. Postman?.

Bogor, Februari 2010
*) Pengajar Intercultural Communication di FKIP- Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *