Sastra Perut

Cunong N. Suraja
http://oase.kompas.com/

Sastra perut tidak menjurus pada persoalan perut sebagai anatomi fisik. Walaupun Asep Samboja yang telah dibedah perutnya karena ada gangguan jaringan dalam ususnya menujukkan bahwa perut telah menjadi sastra ketika bicara tentang mulut dalam keluarga. Ketika perut dibedah dicari penyebab penghalang daya etos kerja maka terdapat yang namanya sastra tumor karena tidak ganas. Kalau ganas dia akan menjadi kan(g)ker yang berserabut jalur menuju segala ruas dan buku saraf yang akan mematikan “pohon” yang dihinggapinya karena dia murka saat diangkat kepala kankernya.

Sastra kanker memang akan berbanding lurus dengan sastra perut walau dibedah dengan pisau teori apapun hingga kaji budaya. Ujung-ujungnya sastra perut akan menghasilkan santapan mulut yang akan memproduksi etos kerja yang tidak hanya digolongkan kedalam sastra kentut. Kentut apapun pasti bau, sastra kentut selalu busuk. Sastra perut menunjuk pada kebutuhan biologis untuk hidup layak sebagai “manusia berbudaya”.

Ada kalanya sastra perut menjadikan mereka yang menganutnya menjadi gila tetapi tidak semena-mena menjadi sastra gila. Akan repot semua unsur teori sastra membedahnya karena gila merupakan virus penyakit menular dan bisa juga turunan.

Sastra perut tidak akan menggejala dalam dunia maya apalagi facebook yang terbuka telanjang bugil bulat tanpa selembar benang. Sastra perut adalah sastra purba yang merupakan transaksi kapitalis informasi dengan para pekerja sastra yang perutnya senantiasa menyanyikan lagu kroncong yang dikenal dalam istilah perputaran modal petani dengan system “ijon”. Sastra perut selalu menuntut hak mulut untuk makan, baik mulut si sastra maupun keluarga yang harus disuapi dengan hasil sastra.
Sastra perut sekarang tinggalah kenangan. Raja kapitalis industri informasi tak lagi menjadi sasaran tembak untuk urusan sastra perut. Sastra sudah menjadi hal yang terbuka seperti facebook. Sastra facebook sudah tidak memerlukan perut tetapi masih saja menghasilkan sastra kentut yang baunya menyelimuti arena perbincangan yang menimbulkan polusi pikiran menjadikan terkontaminasi wacana sastra kentut tadi.

Ketika sastra perut itu melebar tidak hanya memikirkan isinya maka dia mencari yang lebih liar. Sastra perut itu merambah daerah terlarang yang terkenal dengan sastra wangi tahun 2000an. Sastra yang diawali dengan karya Ayu Utami, Jenar Mahesa Ayu dan berderet nama yang berkedok feminisme menyatakan hak azasi berbicara masalah diri sendiri, tanpa disadari di negeri industripun yang namanya mengganggu khalayak tetap berurusan dengan polisi susila. Kata susila menjadi kunci penyelamat setelah kata hak azasi.

Medy Loekito merasa gerah dengan bertebaran sastra wangi saat itu, yang kemudian berlanjut dengan peristiwa di Ode Kampung Serang tepatnya di Rumah Dunia yang dijagai Gola Gong dan juru kunci Firman Venayaksa dosen Untirta , Banten menghadirkan petisi menolak sastra yang mengexploitasi sex dalam karya tulis (tidak hanya sastra) yang dikomandoi Saut Situmorang yang didukung dengan kajian akademik Katrin Bandel atas karya-karya yang mengusung sastra wangi.

Di Timur Tengah memang dikenal tarian perut yang meliuk bagai ular sanca menemukan makanan, atau ular cobra yang tergelitik musik seruling dari India, yang juga tak kalah getolnya goyang geol gitek ala jaipong, belum lagi goyang tarian dari Pulau Dewata. Tapi semua itu tidak menimbulkan petaka pada moral dan susila. Justru pemanggungan atas karya tarian itu menyeruak menyegarkan kepepatan otak yang macet terlindas polusi budaya global.

Lalu kemana gerangan menyesapnya sastra wangi di bumi Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini yang menjulang hampir se dekade yang lalu? Masalah yang pelik ini dikembalikan ke “floor facebook” apakah gejala sastra wangi itu tak lebih dari sastra “ijon” yang tak akan muncul tanpa pesanan pemilik kapital yang cerdik dan licin bagai minyak olie mesin yang tumpah di jalanan dalam menggiring selera pasar?

Setelah sastra perut berbau wangi mereda maka timbul pertanyaan sastra model apa yang masih menuntut urusan perut? Pernah terlintas sastra facebook bakal menggejala walaupun beda tipis dengan sastra cyber yang muncul dari pergulatan pertemanan lewat sebuah group mailing list. Group yang ada moderator yang kadang menghadang yang mau menerjang-terjang. Bergulir pada bentuk fasilitas internet yang mempribadi dalam rupa blog, multiply dan yang multi-media di You Tube.

Sayang di tiga fasilitas itu masalah dialog atau saling menanggap akan terhambat tidak seramai facebook. Facebook mempercepat akrobat animasi kata yang dalam fasilitas You Tube maupun multiply dapat dilayani. Facebook yang ditengarai dengan puisi sekilas-retas dapat digolongkan dalam jenis jol-cret atau istilah di wilayah Bandung dulu dikenal jeprut.

Tapi bedanya puisi jol-cret tak mau dihargai dengan royalti model kapitalistik yang sekarang banyak menelorkan hal yang sewarna. Puisi jol-cret tidak dituntut oleh perut. Puisi jol-jret merupakan puisi jaringan sastra liberal yang sama suka sama kita dan hampir mirip “politik sebagai panglima” saat Lekra menguasi jalur distribusi informasi zaman Orde Lama. Politik sastrawan yang menciptakan puisi jol-cret menganut politik bebas aktif yang mandiri tanpa terindikasi maupun terinferensi bahkan tak mudah terkontaminasi ataupun terinfeksi.

Mungkinkah Jurnal Sastratuhan Hudan akan menjadi saluran gorong-gorong selokan comberan drainasi pralon bis beton sastra yang menelorkan puisi jol-cret?
Itu yang terbayangkan dengan fasilitas facebook yang gratisan ini.

(Pengajar Intercultural Communication Universitas Ibn Khaldun Bogor)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *