Satrio Kembar: Romantisme Antara Dua Kutub

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Satrio kembar dalam tulisan ini hanyalah ?interpolasian? yang dapat kita tebarkan ke seluruh wilayah serapan atas poin pemikiran Cak Nun yang begitu luas cakupannya dalam setiap termin acara. Dalam satu kali pertemuan padhang mbulan saja, sesungguhnya dapat kita jabarkan menjadi berjilid-jilid buku ensiklopedia yang teramat sangat afunturir, menjelajahi keluasan cakrawala ilmu. Namun keterlepasan antara dua kutub keilmuan itu tidak lantas kepyar tanpa makna. Tetapi selalu diikat dalam satu jalinan titik temu antara dua kutub yang berjauhan. Metode penarikhubungan kanal yang kemudian menjadi koridor singularitas inilah yang menarik dari kepiawian Emha Ainun Najib, sejak menjadi Emha. Contoh semisal waktu cak Nun membahas milioner, disitu didedahkan pula fungsi dan kemanfaatannya dengan kere jelata. Ekonomi makro yang dalam pembahasannya melibatkan istilah ?korporasi, aset saham, monopoli, dan oligopoli, dengan mudah diterjemahkan menjadi ekonomi rakyat kecil model ma?iyah yang sudah dibuktikan Islamiyanto dalam lingkungan masyarakatnya di Jawa Tengah. Penarikan antara dua kutub inilah yang saya istilahkan dengan ?satrio kembar?.

Dalam cerpen yang saya tulis ?si-kembar? di Web Sastra Indonesia.com, mengisahkan tentang suami-istri, dari rakyat jelata, yang saya sebut ?bani syari?at?.Sepasang suami-istri ini melahirkan anak kembar. Saking miripnya sampai ibu yang melahirkan sulit membedakan. Bahkan namanyapun kembar. Akhirnya sang ibu membedakan antara kakak dan adik dengan intonasi, durasi, tempo nada panggil yang berbeda. Ketika si-kembar ini beranjak dewasa, salah satu kemudian merantau mengelilingi dunia. Akan tetapi keduanya belum mencapai tujuan hidup yang signifikan sebelum keduanya menyatu kembali.

Dalam cerita rakyat Jombang yang kadang kala diperankan sebagai lakon ludruk ?Joko Galeng? juga mengisyaratkan pengulangan gelombang ruang-waktu dengan padatan energi yang menyimbolkan kekuatan maha dasyat dari penyatuan kembali tokoh utamanya. Legimin yang menentang kompeni Belanda saat dijalankannya proyek pembangunan jalan sepanjang Jombang-Babat Lamongan pada akhirnya dipenjarakan. Akhirnya sang guru Resi Sapto merubah Sulastri pacar Legimin menjadi laki-laki. Sulastri yang sudah menjadi pendekar laki-laki kemudian diganti nama Pendekar Joko Galeng. Joko Galeng akhirnya diadu dengan Legimin. Namun ditengah pertarungan, naluri kewanitaan Joko Galeng tetap kentara dengan adegan jiwit/nyubit Legimin. Setelah ketahuan kalau Joko Galeng ternyata Sulastri, akhirnya mereka bersatu. Barulah kekuatan besar terbentuk dan berhasil memporak porandakan benteng Belanda.

Ada banyak hal sebetulnya yang dapat kita jadikan tamsil bubuhan dari cerita rakyat. Layang Seto-Layang Kumitir misalnya, cerita rakyat dari daerah Jember. Bahkan dalam sejarah Mojopahit tertorehkan fragmentasi tentang kebesaran hati dua punggawanya; yaitu Nayo Genggong dan Sabdo Palon.

Nayo Genggong dan Sabdo Palon yang bersedia menghormati keputusan Brawijaya Lima, untuk meng-Islamkan Jawa. Kedua punggawa tersebut kemudian berhijrah ke pulau dewata Bali sebagai tanda setuju dibentuknya Islam-Jawa. Nayo Genggong dan Sabdo Palon suatu saat akan kembali ke Jawa secara transfiguratif lahirnya kekuatan baru. Proses kembali dan menyatunya Nayo Genggong dan Sabdo Palon ini diperjelas dalam alur cerita yang turun temurun dalam masyarakat Jawa, yang pada ahirnya merujuk pada ungkapan Kitab Joyoboyo. Adapun dalam ungkapan Prabu Joyoboyo kurang lebih sebagai berikut : ?Sabdo Palon dan Nayo Genggong suatu saat akan kembali ke Jawa, ketika terjadi letusan Gunung Kelud yang laharnya mengalir ke arah Ka?bah, dan ketika itu Islam dan Jawa sudah menyatu.

Konsep penyatuan Islam-Jawa dimaksud lebih jauh bisa kita intip dari jendela Konsep Masyarakat Madani-nya DR. Nurkholis Majid atau esai-esai KH. Abdurrahman Wahid yang mengarah ke rumusan meng-Islamkan Jawa, dan bukan meng-Arabkan Jawa. Konsep meng-Islamkan Jawa ini kemudian dibukakan pintu lebar-lebar oleh Emha Ainun Najib dengan memaknai ?Nusantara Jawa? saat Majapahit dahulu. Oleh Emha, Islam dipahami sebagai ?aspirasi nilai ketuhanan? dan bukan sekedar agama atau link-nya. Sebab yang esensi dari agama (syari?at) hanyalah berfungsi sebagai metodologi pematangan ilmu ke arah agama (syari?at) itu sendiri.

Cara memahami wacana penyatuan dua kutub keilmuan inilah yang kian berbobot dari sosok Emha Ainun Najib pada kemapanan jiwa matangnya. Meskipun hal yang sama sudah kita temukan bentuk pemikiran Emha yang lengkap sebagai wujud kesejatian sejak masa mudanya. Dalam menjelaskan sisi sufi misalnya, Cak Nun mengurai bahwa tugas manusia yang paling mendasar adalah: 1. Bekerja keras, 2. Beribadah dengan tekun dan sungguh-sungguh. Selebihnya urusan makro manusia murni diurus Alloh. Bahkan bekerja keras tidak ada hubungannya sama sekali dengan jatah rizqi. Rizqi tidak karena bekerja keras semata, tetapi sebagai batas etika kehambaan, seharusnya kita melaksanakan kewajiban terlebih dahulu, baru kemudian menerima hak atas jenih payah kita. Dalam hal inilah model pemerintahan di Indonesia terbalik. Para pejabat Indonesia tergopoh-gopoh meraup haknya, sedang kewajibannya hanya sebagai syarat laporan rekomendasial.

Wacana dua kutub ini juga di singkap Mas Andre yang hadir bersama P. Plompong dari jama?ah Kenduri Cinta Jakarta. Menurut Andre, jama?ah maiyah harus terus merumuskan konsep evolusi fisik menuju evolusi spirit. Evolusi fisik artinya kita tidak hanya melakukan sinergi social, tetapi lebih sampai ke batas integral sebagai titik puncak keberhasilan. Misalnya untuk menganalisa tentang tanda-tanda kebangkitan Indonesia kelak, secara ecriture profil bisa kita gambarkan sebagai sosok garuda ataukah kebangkitan sebagai sosok ayam. Tentu meskipun sama-sama bangkit, sosok garuda tentu lebih berkapabilitas unggul dari pada sosok ayam. Sebab terbukti nenek moyang kita dulu mampu menguasai dua pertiga% belahan bumi.

Tidak ada kutub kerendahan yang abskuratif sebagai biang alibi dari kegagalan manusia. Atau juga bukan kebenaran yang akan dilahirkan dengan memahami bahwa etnosentris, xenosentris, xenofobia sebagai satu-satunya cara yang relevan, melainkan menghormati tiap hak untuk berbudaya. Kebenaran selama ini yang kita temukan bukanlah artifinal, melainkan hanya bersifat lokal, partikular, komunitas, primordial dan parokiah. Namun ada hal yang perlu dilakukan secar iluminatif dan lebih intent, yakni menarik sederet lajur bahwa kebaikan dan kebenaran harus di transfer menuju kemulyaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *