SEBELUM JADI PENULIS, JADILAH PEMBACA YANG RAKUS

Petikan diskusi Ahmad Tohari dengan para murid SMU Pelita Harapan

ruangbaca.com

CAHAYA pagi masih melumuri lapangan basket SMU Pelita Harapan, Karawaci. Dua tim pelajar sedang baku serang untuk membukukan kemenangan. Tak jauh dari lapangan, terlindung dari sinar mentari yang hangat, sepetak ruang yang tersambung dengan kantin siswa disulap menjadi tempat pameran di mana ratusan buku terhampar. Sebuah spanduk terpampang: “Bulan Bahasa 2006”. Ruangbaca mendekati gerai penerbit yang menjual trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) dalam kemasan baru. “Sudah habis terjual, pak,” jawab si penjaga gerai.

Sang penulis buku, Ahmad Tohari, saat itu sedang berada di perpustakaan yang terletak di lantai 4. Enam pelajar kelas 12 (kelas 3 SMA – red) dan beberapa guru duduk mengitari sastrawan asal Banyumas itu. “Awal kehancuran negeri ini bukan dari korupsi besar-besaran Pertamina di tahun 70-an, tapi dari Undang-Undang Penanaman Modal Asing yang lahir jauh sebelum itu,” katanya nada bicara perlahan. “Itu yang menjadi salah satu inspirasi munculnya (novel) Belantik,” lanjut Tohari.

Waktu menunjukkan pukul 09.00 pada Jumat, 10 November yang renyah itu. Pertemuan di perpustakaan tersebut baru sebuah appetizer terhadap acara utama yang dijadwalkan berlangsung beberapa puluh menit kemudian: bedah buku Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala. “Ini pemuncak dari rangkaian Bulan Bahasa 2006,” ujar Pitaya MPd, guru Bahasa Indonesia yang menjadi motor kegiatan. Selain pameran dan diskusi buku, diadakan juga lomba penulisan cerpen internal bagi para siswa dengan para juri yang sama sekali “tidak internal”: Yanusa Nugroho, F. Rahadi… dan Ahmad Tohari sendiri! Sungguh sebuah denyut aktivitas kebahasaan dan kesusastraan yang sangat menjanjikan bagi munculnya para penulis muda.

Tepat jam 10.20, Tohari dibawa panitia menuju ruang K.401, sebuah ruangan besar yang menyerupai ruang pertunjukan multifungsi. Di bagian depan terdapat sebuah panggung dengan drum dan piano akustik. Di bawah panggung, sudah tertata meja panjang bagi Tohari dan Pitaya yang akan memandu acara. Puluhan hadirin di ruangan itu tak hanya para murid dan guru SMU Pelita Harapan, melainkan juga perwakilan dari SMA Kristen Penabur, Dian Harapan, Global, Madania, dan sebagainya. Berikut ini adalah petikan diskusi antara Ahmad Tohari dengan para murid SMU Pelita Harapan. Pada beberapa kesempatan Tohari mengocok perut hadirin dengan humor-humornya yang segar.

Bapak dikenal sebagai seorang santri tapi menulis tentang ronggeng, apakah itu tidak kontradiktif?

Seorang santri yang baik itu justru harus bisa mengungkapkan semua gejala alam, termasuk hal-hal yang kurang baik: penjahat, maling, ronggeng. Dulu waktu RDP keluar, saya juga disidang para kyai. Mereka bertanya, mengapa saya yang punya pesantren kok malah menulis tentang ronggeng. Jawaban saya untuk para kyai itu adalah dengan mengutip ayat ini: lahu ma fis samawati wal ‘ardh. Ma itu artinya semua, apa-apa. Jadi, kepunyaan Tuhanlah apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Saya tanya balik pada pak kyai, “apakah ronggeng itu bukan termasuk pada kategori ‘ma’?” Mereka menjawab, “Oh kalau begitu, silakan (terus terbit).”

Yang kedua, sebagai muslim saya justru harus melakukan apa yang dalam bahasa Jerman disebut: Iqra, bismi rabbikal ladzi khalaq (hadirin tertawa). Iqra, bacalah. Bacalah teks, bacalah non-teks. Tapi syaratnya: bismi rabbikal ladzi khalaq, bacalah dengan nama Tuhan yang menciptakan. Jadi membacanya jangan dengan nafsu.

Saya pernah melihat sebuah kawasan French Corner di salah satu kota di Amerika Serikat. Di tempat itu pornonya luar biasa. (Para pendengar muda itu bersorak riang, “deskripsi… deskripsi…”). Mau deskripsi? Saya deskripsikan (Hadirin bertepuk tangan). Ada sebuah meja besar dengan seorang perempuan berdiri di atasnya tanpa selembar benang. Perempuan itu berjalan ke sana kemari, mendekati penonton yang satu ke penonton yang lain. Para penonton sendiri melakukan kegiatan yang juga tidak kalah pornonya. Pada saat melihat itulah saya berpikir, “Inilah saatnya ketika manusia sudah lebih rendah dari binatang.” Saya di tempat itu, melihat pertunjukan itu, tapi mempunyai kesimpulan yang mungkin berbeda dengan sebagian besar penonton yang juga hadir di situ. Itu karena faktor bagaimana cara kita melihat sesuatu. Jadi menurut saya bukan sesuatu yang kontradiktif jika santri menulis ronggeng.

Apakah Dukuh Paruk itu benar-benar ada lokasinya?

Ada, tetapi namanya memang bukan Dukuh Paruk. Nama asli dukuh itu tidak saya gunakan untuk melindungi para warga dan para pemimpin adat mereka. Anda para siswa mungkin tak bisa membayangkan bagaimana rasanya makan singkong dengan lauk belalang. Belum pernah ‘kan? Jadi saya lebih kaya dari kalian karena pernah makan belalang dan pizza, sementara kalian baru makan pizza (hadirin tertawa). Pernah seorang pelajar Singapura datang dengan ayahnya ke rumah saya minta diantarkan ke Dukuh Paruk. Bayangkan! Padahal murid SMA di kota saya saja mungkin tidak kenal siapa itu Ahmad Tohari.

Apa sih latar belakang Bapak menulis RDP?

Dulu waktu kecil, saya melihat banyak sekali rakyat yang tak bersalah mati setelah meletusnya peristiwa ‘65. Termasuk di antaranya para ronggeng yang sebenarnya tidak punya afiliasi politik apa-apa, tapi karena diklaim oleh Lekra berada di bawah mereka, maka menjadi sasaran kemarahan massa setelah pemberontakan PKI. Mereka disiksa, bahkan sampai dibunuh. Akibatnya sampai tahun 1970, ronggeng tiba-tiba menghilang. Saya prihatin melihat hal ini. Sampai akhir tahun 70-an dan awal 80-an, saya lihat tak seorang pun penulis senior pada waktu itu yang berani menulis tentang ini. Maka akhirnya saya yang waktu itu masih penulis yunior memberanikan diri menulis peristiwa. Ternyata resikonya memang berat. Waktu itu saya sampai harus diinterogasi di kantor Kopkamtib selama lima hari. Saya dibombardir pertanyaan yang intinya ingin mengetahui apakah saya dan RDP itu propaganda Komunis atau bukan. Pertanyaannya bolak-balik itu-itu saja. Akhirnya saya bilang saya punya nama yang bisa memberikan jaminan bahwa saya bukan PKI. Kepada para interogator, saya tulis satu nama dan nomor telepon yang membuat mereka akhirnya yakin bahwa saya tak terlibat G30S. Nama itu adalah Abdurrahman Wahid. (hadirin tertawa).

Pak Tohari, mengapa Rasus justru meninggalkan Srintil ketika Srintil justru sudah berjanji hendak meninggalkan dunia ronggeng?

Ya, itulah brengseknya lelaki, ha, ha, ha… (hadirin kembali bertepuk tangan, terutama para siswi). Jadi begini, di dalam menulis sastra itu kita mengenal apa yang disebut karakter. Rasus itu seorang yang plin-plan, lelaki plin-plan. Itu karakternya. Kalau nanti Anda tertarik menulis novel, perhatikan konsistensi karakter ini. Kalau Anda sudah membuat sebuah tokoh dengan karakter plin-plan, maka dia akan terus plin-plan dari awal sampai akhir cerita.

Tetapi sebetulnya Rasus dan Srintil itu jadi menikah tidak sih?

Saya pernah ditanya oleh seorang ibu yang juga guru bahasa Indonesia beberapa tahun lalu. Dia bilang sangat penasaran dengan akhir cerita yang mengambang. Srintil tergolek di rumah sakit. Ibu itu sampai bela-belain untuk ketemu saya hanya menanyakan jadi tidaknya Rasus dan Srintil menikah. Saya jawab, “Menurut ibu bagaimana?” Dia menjawab, “Menurut saya Srintil seharusnya sembuh, lalu mereka menikah.” Saya komentari, “Ya sudah, kalau begitu mereka menikah.” Di situlah keindahan sastra karena imajinasi pembaca masih dibiarkan sampai saat terakhir. Sebab kalau saya harus menuliskan secara tersurat bahwa mereka memang menikah, alias happy ending, itu namanya chicklit.

Saya melihat Pak Tohari justru tidak konsisten dari sudut pandang tokoh-tokohnya. Pada awalnya menggunakan cara pandang Rasus, tapi ketika kemudian Rasus sempat meninggalkan dukuh Paruk, mengapa perkembangan Srintil dan keadaan dukuh itu masih bisa diceritakan dengan detail?

Saya mohon maaf kalau hal itu jadi membingungkan Anda. Tetapi dalam penulisan novel, seorang pengarang boleh berpindah-pindah sudut pandang, tidak hanya terus di satu tokoh. Itu bukan berarti tidak konsisten, tapi justru memperkaya sudut pandang. Sama seperti sebuah gambar rumah. Kalau hanya dilihat dari bentuk depan, tentu akan lain hasilnya jika rumah itu juga dilihat dari samping, atau dari belakang.

Siapa penulis favorit bapak, dan karya apa yang banyak mempengaruhi RDP?

Semua penulis yang bukunya pernah saya baca itu pasti meninggalkan pengaruh pada RDP maupun karya-karya saya yang lain. Kalau harus menyebut judul tertentu, maka saya adalah pengagum karya-karya John Steinbeck. Steinbeck itu kalau menulis ‘kan ekstrem sekali. Ketika menggambarkan penderitaan, digambarkan betul kesulitannya. Ketika menceritakan pornografi, juga porno sekali. Nah, Ronggeng Dukuh Paruk itu adalah pengaruh kuat dari The Tortilla Flat (Dataran Tortilla) Steinbeck. Belasan tahun lalu saya pernah bilang tentang ini kepada seorang teman yang menanyakan hal yang sama. Saya bilang, “Baca The Tortilla Flat kalau mau tahu dari mana pengaruh terkuat RDP.” Beberapa saat kemudian, kawan itu datang lagi menemui saya. Dia bilang RDP sama sekali tak mirip dengan The Tortilla Flat. “RDP sangat lokal Indonesia,” katanya. Lalu saya jawab, “Unsur lokalitas Indonesia tentu tak akan ditemukan pada karya Steinbeck, demikian juga lokalitas Tortilla tak ada di RDP, tapi spirit penceritaannya itu yang sama.”

Apakah Bapak seorang penulis yang baik?

Konon seorang penulis yang baik itu harus bisa menjaga jarak dengan tokoh-tokoh khayalannya. Saya masih sering gagal melakukan itu. Tapi begini, ada hal-hal lain yang sulit diukur ketika Anda menjadi penulis. Misalnya ketika saya berada di Library of Congress, Amerika Serikat. Waktu itu saya di sana dengan beberapa penulis dari berbagai negara. Petugas perpustakaan menjelaskan, silakan masukkan nama masing-masing di komputer untuk mengecek apakah karya kami ada di perpustakaan itu. Jadi sambil menunggu antrian, saya lihat beberapa wajah kecewa dari penulis internasional yang sedang mengetikkan nama mereka di komputer. Ketika giliran saya datang, semua buku saya pada saat itu keluar di layar komputer. Rasanya saat itu yang dihargai bukan saya Ahmad Tohari sebagai pribadi, tapi Ahmad Tohari sebagai bangsa Indonesia. (hadirin kembali bertepuk tangan).

Bagaimana caranya untuk menjadi pengarang, Pak Tohari?

Semua pengarang itu sebelumnya adalah pembaca. Maka ketika jadi pembaca, jadilah pembaca yang rakus. Kalau tidak, ketika menjadi pengarang atau penulis akan mudah sekali kehabisan stamina.
***


*) Ahmad Tohari, lahir 13 Juni 1948 di Tinggarjaya, Jatilawang, Bangumas, Jawa Tengah. Ayahnya kyai (Pegawai KUA), ibunya pedagang kain. Ia menikah tahun 1970 dengan guru SD bernama Siti Syamsiah, dan atas perkawinannya dikarunai lima anak. Tahun 1981, ketika bekerja dan tinggal di Jakarta, ia mengundurkan diri dari redaktur harian Merdeka, karena ingin kumpul sekeluarga di desa. Karyanya terkenal trilogi novel: Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dinihari (1985), dan Jantera Bianglala (1986); yang berkisah pergulatan penari tayub di dusun kecil. Masa itu, novel ini dianggap kekiri-kirian oleh Orde Baru, sehingga sempat berurusan pihak berwajib, dan atas bantuan Gus Dur, terbebas dari tekanan pemerintah. Karyanya banyak mendapatkan hadiah, cerpennya Jasa-Jasa buat Sanwirya dapat Hadiah Harapan Sayembara Cerpen Kincir Emas Radi Ao Nederland Wereldomroep (1977). Novelnya Di Kaki Bukit Cibalak, peroleh salah satu hadiah Sayembara Penulisan Roman yang diselengggarakan Dewan Kesenian Jakarta 1979. Novel Kubah diterbitkan Pustaka Jaya, mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama, sebagai bacaan terbaik fiksi tahun 1980. Novel Jantera Bianglala sebagai fiksi terbaik 1986. Hadiahnya uang Rp. 1.000.000,- yang diserahkan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Fuad Hassan. Melalui novel Berkisar Merah, meraih Hadiah Sastra ASEAN tahun 1995.

Pendidikan formalnya di SMAN II Purwokerto, melanjutkan di Fakulta Ekonomi Unsoed Purwokerto 1974-1975, pindah ke Fakultas Sosial Politik yang dijalani setahun, lalu pindah ke Fakultas Kedokteran YARSI, Jakarta 1967-1970, sampailah ia memutuskan berhenti atau memilih tinggal di desanya dengan mengasuh Pesantren Al-Falah. Pada dunia jurnalistik, pernah jadi staf redaktur harian Merdeka, majalah Keluarga dan Amanah. Tahun 1990 mengikuti International Writing Programme di lowa City, Amerika Serikat, dan peroleh penghargaan The Fellow of The University of Iowa. Karyanya mulai dipublikasikan tahun 1970-an. Media Kompas sering memuat karangannya, cerpennya Jasa-Jasa buat Sanwirya, menang dalam lomba cerpen yang diadakan Radio Nederland, setelah itu karyanya terus menghiasi media. Novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Kubah, diterjemahkan ke bahasa Jepang atas tanggungan dari Toyota Ford Foundation oleh Imura Cultural Co.Ltd. Tokyo. Selain itu, trilogi novelnya diterjemahkan pula ke bahasa Belanda dan Jerman, dst. Novelnya Lingkar Tanah Lingkar Air (1994), menceritakan penindasan politis terhadap orang-orang yang terlibat dalam sejarah, mencatat bahwa mereka dianggap pemberontak dan harus dilenyapkan dari bumi Indonesia. Dengan ini ingin mendudukkan sejarah secara obyektif lewat menimpakan kesalahan tak hanya kepada umat Islam. Politik di masa Orba sangat ketat, pemerintah menyeleksi buku yang akan diterbitkan. Buku sastra yang dianggap menyimpang dari “keinginan” penguasa, harus dibredel / tak boleh diterbitkan. Atau meski terbit, harus menyensor bagian yang tak sesuai kualifikasi yang diberikan penguasa atas karya yang diterbitkan. Cerpen/Novel karangan lainnya: Tanah Gantungan, Amanah 28 Des 1992 –Jan 1993, Mata yang Enak di Pandang, Kompas 29 Des 1991, Zaman Nalar Sungsang, Suara Merdeka 15 Nov 1993, Sekuntum Bunga Telah Gugur, Suara Merdeka 1 Nov 1993, Di Bawah Langit Dini Hari, Suara Merdeka 1 Nov 1993, Pencuri, Pandji Masjarakat 11 Feb 1985, Orang-orang Seberang Kali, Amanah 15 Agu 1986, “Ah, Jakarta” Panjdi Majarakat 11 Sep 1984, Penipu yang Keempat, Kompas 27 Jan 1991, Warung Panajem, Kompas 13 Nov 1994, Kenthus, Kompas 1 Des 1985, Rumah yang Terang, Kompas 11 Agus…, “Daruan,” Kompas 19 Mei 1991, Jembatan Ka, Panji Masjarakat 11 Juli 1985. Foto, dan biografi (diringkas) dari ukmmapensastek.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *