Seruni

Sunlie Thomas Alexander
http://www.lampungpost.com/

DI Bubus tak ada wayang, selain ponton-ponton1 terus memanjang. Berjejer dari ujung ke ujung; dari lantai pantai hingga jauh ke tengah laut China Selatan. Membuat ombak yang biru berubah kecokelatan oleh solar, lumpur, dan sampah polutan.

Dan terkadang mereka saling menyalib. Entahlah, membuat ombak kian berbuih. Sehingga ketegangan pun sering terbangun diam-diam, memanas terpanggang matahari. Untung jarang terjadi perkelahian di tengah laut. Karena seperti pula para nelayan memelihara adat, mereka kukuh berpantang tak boleh berseteru di lautan. Sebab kau tahu, laut di mana pun sama-tak di Bubus, Buton, Makassar, Selat Sunda, atau pesisir Jawa-mengandung tuah, kutuk, dan amarah, bila yang mencari makan tak bertata krama!

Tatkala petang jatuh, kau pun bakal melihat pria-pria dengan tubuh sekokoh perunggu, kuyup, dan dekil mengusung pipa-pipa panjang dari arah laut, tentunya pula berkarung-karung pasir timah diseret turun dari ponton. Lalu malam akan bertandang tak ubahnya pasar malam. Warung-warung berjejer dengan aroma alkohol. Aneka permainan judi pun tergelar. Begitulah perempuan-perempuan muda dengan dandan menor berseliweran. Musik terus bergoyang. Langit tampak muram. Dan ponton-ponton di laut itu menjelma makhluk-makhluk asing yang berjaga di keremangan. Oh, dengarlah suara debur laut Bubus seperti mengisak tertahan! Ya kau benar, aku salah seorang perempuan penghibur di pantai ini. Namaku sebetulnya Seruni, tapi kau boleh memanggilku Selly…

Demikian aku menjalani hari-hariku di tepian pulau yang porak-poranda ini. Menjadi penawar kesepian pria-pria perunggu yang bernasib selegam bijih timah. Dari pelukan ke pelukan. Tentu, di kamar-kamar pengap belakang warung, di balik batu seperti sembunyi udang atau dalam perahu rusak tertambat gamang. Oh, terkadang, kau tahu, di atas ponton yang terapung-apung liar! Terombang ke kiri ke kanan. Kata mereka bibirku seranum perawan, tapi tentu saja aku janda kembang. Ah, di Bubus, kau tahu, semua bakal lampus!2

SUNGGUH, ponton-ponton itu terus memanjang. Kepada-Mu tentu aku mesti bersyukur, Gusti. Lantaran bertambahnya ponton dan para pria perunggu berarti bertambah pula rezekiku di pantai rawan ini, yang setiap bulan mesti kukirim ke rumah di pesisir Lampung sana; tanah transmigrasi yang gersang, tempat bapak dan simbokku menggarap tandus sepetak sawah.

Maka kau pun tahu, kenapa aku harus menguras kantong pria-pria perunggu itu. Jika tidak, dari mana bapak peroleh uang perluas sawah dan memperbaiki rumah, juga adik-adikku punya sekadar biaya buat sekolah? Ah, meski rasanya seperti menghisap cucuran keringat mereka di atas ponton membara, mencekik jalan napas mereka yang tersengal menghirup udara kompresor di kedalaman laut layaknya!

Sekali lagi, namaku Seruni, tapi kau boleh memanggilku Selly. Tentu awalnya tak pernah terbayang olehku bakal jadi seorang perempuan penghibur di tepi pantai. Oh, tak terbayang! Mulanya, seorang tetanggalah yang mengenaliku pada Mbak Marni yang datang ke kampung kami. Kepadaku dan kedua orang tuaku, dijanjikannya aku bekerja di sebuah restoran sea food di Pangkalpinang. Tapi nyatanya, ya seperti bisa kau duga, aku dibawa ke sebuah lokalisasi terkenal di pulau ini. Umurku waktu itu 17 tahun lewat, baru tiga minggu diceraikan Mas Parjo yang menikah lagi ketigakalinya dengan seorang gadis pendatang baru dari Jawa. Waktu itu, aku hanya bisa menangis menyadari diriku telah terjebak di sarang iblis. Tapi apalah dayaku, duh Gusti, selain pasrah menerima nasib yang selalu mesti kita bagi bersama ini? Duh, di tangan-Mu aku seolah wayang, walau dalam kisah carangan…

Kutuk aku, Gusti! Laknat aku, Simbok! Bila kemudian aku ketagihan jadi perempuan jalang. Bukankah kau tahu, iblis sungguh lelaki elok rupa? Maka kulampiaskan kemarahanku pada Mas Parjo yang menceraikanku dengan keliaran bercumbu, kukuras penghasilan para pria perunggu dengan rayuan maut seorang Drupadi. Bukankah enak bekerja begini? Tinggal mengelus dada para lelaki, lenggangkan paha, dapat kau elus pula dompet tebal. Oho, diam-diam aku pun berhasrat menjadi dalang!

Mungkin aku memang berbakat jadi perempuan penggoda lelaki.

Mungkin aku memang telah Kau takdirkan jadi pelacur paling memukau di sini. Entah dari mana kuperoleh kepiawaian bercinta hingga setiap lelaki bakal mabok kepayang dalam pelukku. Padahal ketika dipinang Mas Parjo, aku masihlah gadis remaja kencur yang menggigil ketakutan di sudut ranjang. Karena itu, namaku bukan lagi Seruni, panggil aku Selly…

Ya di tepi pantai Bubus ini, selanjutnya kuteruskan petualanganku bersama pria-pria perunggu, oh para penambang perkasa! Kurengkuh nasib mereka yang legam dengan dekap membara. Membuat mereka menggelepar bak ikan terjaring pukat.

Ya semenjak penambangan lepas pantai di pulau ini mulai marak, satu per satu kami pun hengkang dari lokalisasi ke pantai-pantai indah yang perlahan amblas: Pantai Tikus, Rebo, Batu Atap, Pesaren, Bubus…

Tentu kau tahu, pria-pria perunggu itu, sebagaimana kami dan para pemilik warung datang dari beragam penjuru. Dari Riau Silip hingga Pulau Buton yang jauh. Dari Dabo-Singkep sampai pesisir timur Jawa. Terang, mereka penyelam tangguh yang dibesarkan oleh alam. Tapi laut, alangkah garang, selalu saja memanggil korban, meminta tumbal! Meski orang-orang Melayu kerap melaksanakan upacara taber3, walau orang-orang Tionghoa sering membakar hio dan gelar sesajen. Di Bubus, seandainya kau tahu, batas hidup dan mati sungguh seperti sehelai rambutmu yang terbasuh asin air laut China Selatan!

Duh, beban-risiko sebagai penyelam di tambang lepas pantai (mereka menyebut tambang apung) sungguh tak sepadan dengan upahmu yang begitu menggiurkan. Kau mesti menyelam dalam ke dasar hanya dengan sebuah kacamata selam murahan dan bantuan udara dari selang kompresor. Ya, tak mungkin disedia untukmu tabung oksigen sebagaimana para penyelam profesional. Dan risiko terbesar adalah jika mendadak saja mesin kompresor mati ketika sedang berada di kedalaman! Bila tak cepat kau menyembul ke permukaan atau tanganmu tak keburu mencengkram selang, alamat biji matamu pun bakal tersedot keluar!

Ah, betapa aku masih bergidik mengingat seorang pria perunggu yang menjerit-jerit dengan dua mata bolong mengerikan saat diangkat beramai-ramai dari dasar lautan… Atau tiba-tiba kau telah tertimbun hidup-hidup di bawah sana karena gundukan pasir mendadak longsor ketika sedang menyedot bijih timah dengan pipa ke atas ponton. Tentu tak ada asuransi. Seolah kecelakaan bagimu memang kewajaran, risiko penyelam yang telah disepakati tanpa harus dituliskan.

Adakah kau tahu bagaimana rasanya melihat jenazah seorang lelaki yang semalam bercinta denganmu tahu-tahu telah mati begitu mengenaskan? Hm, hiruplah udara bertuba ini, niscaya akan berkelenengan suara logam dalam perutmu!4 Ya ponton-ponton itu terus memanjang, terombang-ambing bagai nasib yang tak terteka.

Terkadang, aku begitu merindukan bapak dan simbok, merindukan jatilan, tari gambyong, atau serimpi, campursari, dan wayang.

MEMANG di Bubus tak ada wayang, tapi banyak dalang.5 Bukankah sebagai pemilik tambang liar, kau mesti pintar bersiasat dengan para penguasa? Atau lihatlah, bagaimana para penguasa membungkam mulut para wartawan dan aktivis LSM agar tak banyak bacot tentang kerusakan lingkungan. Ataupun para preman lokal yang kerap memasang gertak-sambal serupa pukat harimau untuk menjerat jatah lebih dari pembagian untung para penambang.

Karena itu, di pantai rawan ini, diam-diam aku pun belajar jadi dalang. Kupikat pria-pria perunggu dan para cukong tambang yang tertarik pada kemolekan tubuhku hingga mereka mabok kasmaran. Serupa Engkau, duhai Gusti, kupermainkan cinta mereka hingga memujaku setengah teler! Ah, Ko A Khiong pemilik belasan unit ponton itu, misalnya, mati-matian merayuku agar mau jadi gundiknya. Dijanjikan padaku rumah, rekening, dan hidup mewah. Tapi aku pura-pura bergeming, sembari melirik Mang Buding, bujangan tua yang selalu royal memanjakanku dengan apa saja kupinta: perhiasan, pakaian, ponsel… Atau Bang Udin yang dengan serius bersimpuh di kakiku sambil bilang, “Kalau aku sudah kumpulkan banyak uang, ikutlah denganku pulang ke Bau-bau, Sayang.”

Sst, sebenarnya di antara mereka, ada seorang yang diam-diam aku suka. Ah, entahlah, kenapa aku selalu merasa tenteram dalam dekapan Bang Rudi setiapkali kami bercumbu mesra. Silakan kau mencemooh, aku pun tak yakin apakah benar-benar telah jatuh cinta. Atau lantaran aku memang tak punya keberanian lagi untuk mencintai? Duh, dalam teduh matanya Gusti, seolah dapat kusimak suara debur ombak Bubus yang mengisak lirih!

Karena itu, biarlah ponton-ponton itu terus memanjang ke batas cakrawala, ke batas senja. Memanjang serupa sejarah timah di pulau celaka ini! Ya di Bubus, kau tahu, sejarah hanya kembali berulang. Betapa pria-pria perunggu yang berdatangan dari segala penjuru, betapa kami, perempuan-perempuan penghibur yang terus bersolek di tepian, atau warung-warung remang yang terus bermekaran di tiap sudut pantai, bakal ingatkanmu pada berbondong-bondong kuli dari China daratan. Yang datang menjual anak babi dan hanya berbekal sebuah buntalan kumal, lalu membangun parit dan jalan, dirikan desa dan kota dagang. Tapi kau tahu pula, Bubus bukan Las Vegas, gorong-gorong tambang emas yang menjelma kota kasino di film-film Hollywood yang kutonton. Meski arena judi kian marak di sepanjang pantai.

Karenanya, sungguh, tak ada yang tahu tentang hikayat pantai malang ini. Tak bakal ada babad yang memberimu sekadar riwayat tentang nama tepian. Tak ada sekelumit cerita selain ingatan samar orang-orang Tionghoa tentang bagaimana nenek moyang mereka para singkek6 pekerja parit pikul7 mendirikan kampung di pantai yang menghadap keangkeran Laut China Selatan ini setelah menancapkan tiga batang hio.

DEMIKIANLAH, ponton-ponton itu kian memanjang di laut Bubus yang mengisak tertahan. Tapi terkadang, hanya terkadang, isak itu pun seolah berubah dendang. Maka lihatlah, aku seolah menjelma jadi penari gambyong yang berlenggak-lenggok gemulai di atas panggung pertunjukan. Kakiku yang mulus dengan lincah meniti buih gelombang, suaraku merdu bertembang di sela deru ombak menerpa karang. Serasa diiringi gamelan, diiringi gendang!

Bila begitu, kau akan segera mafhum, pantai yang rawan ini pun jadi demikian ramah dan bersahaja. Dengan kemilau cahaya matahari pagi terasa hangat di kulitku yang halus dan kencang. Oh, matahari yang terpancar dari sepasang mata teduh Bang Rudi tersayang! Dengan lembut dijilatinya wajahku, disisirnya rambutku yang hitam panjang, disihirnya keruh laut Bubus yang cokelat kehitaman jadi berwarni-warni seperti gunungan wayang.

Tapi kemilau hangat matahari pagi itu pulalah yang menghantar mahaduka dari laut dalam, laut kelam. Membuat limbung gerakanku menari di atas titian buih titian gelombang. Sempoyongan sepagi itu aku berlari menyongsong orang-orang yang berseru panik sembari melompat turun dari ponton.

“Ada apa, Mas Ramli?” teriakku tak kalah panik, detak jantungku serasa berpacu dengan debur ombak Bubus yang garang. Ia menatapku dengan mata terbelalak dan keras mencekal kedua bahuku, “Oh, Selly! Rudi, Rudi terbenam pasir longsor di bawah, Selly!”

Duh Gusti, aku tahu, kalau di neraka jahanam matahari hanya sejengkal dari ubun-ubunku! Aku tahu, kini matahari di pantai celaka ini sepanas siksa-Mu di dasar jurang naar. Ah, kurasakan tubuhku meleleh, mencair dan lumer bersatu dengan pasir dan buih ketika akhirnya tubuh pria paling perunggu itu berhasil juga diangkat oleh orang-orang dari dasar laut keruh. Laut yang pilu. Oh, betapa tampannya dia, ya Gusti! Sempurna sudah tubuhku meleleh, lalu perlahan diseret gemuruh ombak ke tengah laut gamang. .

Maka, apabila suatu saat, suatu hari yang tak terduga seperti nasibmu yang rawan, kau berkunjung ke tepian Bubus ini, Sayang. Bisikanlah dengan mesra namaku di bibir pantai sembari mengingat merdu irama gamelan dan gendang, maka niscaya aku pun bakal menyembul ke permukaan laut untuk bercinta denganmu, lelaki pejantan! Dan debur laut Bubus, alangkah mencemaskan seperti lidah ki dalang yang bawakan sebuah akhir tragis dalam pengkisahan wayang!*

Catatan:
1. Rakit besar yang terbuat dari drum-drum plastik dengan bekas ban-ban mobil terikat kuat tali tambang di atas batang-batang kayu untuk penambangan lepas pantai (atau lebih lazim disebut Tambang Inkonvensional (TI) Apung-untuk membedakannya dengan TI darat).
2. Ingatan samar pada puisi Raudal Tanjung Banua, “Bubus” (Koran Tempo, 2006).
3. Upacara adat untuk mengusir sengkala atau sial.
4. Meminjam selarik puisi Nurhayat Arif Permana, “Lanskap Pulau Timah” dalam booklet puisi “Suara Kota Utara Pulau Lada” (KPSPB, 2000).
5. Ingatan samar pada sebuah puisi Willy Siswanto dalam antologi “Kaki-kaki Telanjang” (Yayasan Aktualita Karsa, Pangkalpinang, 2005) yang terlupa judulnya.
6. Sebutan untuk para pendatang totok dari Cina daratan.
7. Sistem penambangan timah di zaman kolonial Belanda.

—–
Sunlie Thomas Alexander, lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Belajar seni rupa di Institut Seni Indonesia dan Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, sembari bergiat di Parikesit Institute. Buku cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Malam Buta Yin (Gama Media, 2009).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *