Serutan Mozaik Novelis Prodigi

J. Sumardianta
http://www.jawapos.com/

”Inilah kekuatan susastra. Ia menceritakan kesenangan sehingga membuat jiwa menari kegirangan. Ia menuturkan kesedihan sampai menangis tersedu sedan. Ia mengabarkan cinta hingga memaksa orang jadi lemah lembut. Ia mengatakan bahaya dan membuat orang bergidik. Ia melampiaskan kemarahan yang meluap hingga membuat orang jadi waspada. Ia mengatakan kecongkakan sampai membuat orang menghunus badik. Ia mengatakan hasutan dan membuat orang terprovokasi. Ia mengatakan sesuatu yang melambungkan jiwa hingga membuat orang terangkat ke langit tujuh. Ia mengatakan kerendahan hati dan membuat orang luruh egonya. Sastra mengguncangkan hati dan membuat mata berkilauan.”

Alegori di atas sengaja dikutip sebagai ringkasan kesan sekaligus perasaan apresiatif atas dwilogi novel Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Dwilogi Andrea Hirata itu berkisah tentang dua tokoh yang sangat bertolak belakang. Enong, gadis cilik, anak seorang buruh tambang timah, bernasib tragis. Ikal, seorang sarjana bujang lapuk yang berlarat-larat didera asmara. Enong menderita karena bencana. Ikal lara gara-gara cinta pertama.

Zamzani, ayah Enong, seorang lelaki penyayang keluarga. Buruh kasar itu bersepeda ratusan kilometer ke Tanjung Pandan hanya untuk membelikan Enong kamus bekas. Bahasa Inggris merupakan kesenangan Enong yang obsesif. Zamzani wafat terkubur hidup-hidup saat menggali timah. Meninggalkan Syalimah, istrinya, dan tiga anak yang masih kecil. Air mata Enong menetes membasahi kamus.

Ibu anak merapatkan diri demi mengumpulkan keberanian menghadapi hari esok yang tak terbayang kerasnya. Sekadar mencari kerja sebagai babu di Tanjung Pandan saja Enong berkali-kali mengalami penolakan. Enong mengikuti jejak mendiang bapaknya. Dia jadi perempuan pendulang timah pertama di dunia agar adik-adiknya bisa kembali sekolah. Piring keluarga tetap terisi makanan. Sacrifice, honesty, dan freedom. Itulah falsafah hidup Enong.

Nestapa cinta membuat Ikal demam. Cinta membawanya pada kegilaan dan kesengsaraan tak tertanggungkan. Hal paling sinting yang dilakukan umat manusia di muka bumi sebagian besar bermuasal dari cinta. Mencintai seseorang sama nilainya dengan rasa sesal sebesar kepala yang dibelasakkan ke dalam tenggorokan. Di dunia tidak ada cara menggurah cinta dan menggelontorkannya ke sungai.

Ikal seorang lelaki pemimpi dengan pendirian lemah. Bujang lapuk yang tak mampu berbuat apa-apa, selain mengasihani diri sendiri saat kekasihnya kepincut lelaki lain. Cinta akut kepada A Ling membuat Ikal cemburu buta dan bebal. Berbagai rencana dirancang Ikal dengan tujuan agar A Ling kembali bertengger di boncengan sepeda Ikal. Dia tidak bisa melihat Zinar tanpa cemburu. Tak dapat melihat A Ling tanpa patah hati. Tak dapat melihat ibunya tanpa rasa malu. Tak dapat melihat ayahnya tanpa perasaan bersalah.

Novel itu penuh kejutan dan intrik-intrik agen spionase menegangkan. Membaca novel tersebut seperti ketularan menjadi pintar dan ajaib. Pengarang menyarikan topografi tabiat patriarkis orang Melayu dari kebiasaannya nongkrong di warung kopi. Sosiologi egolatrik puak Melayu direfleksikan dalam kecanduan mereka main catur.

Catur dianggap biang keladi kesusahan hidup Enong (Maryamah) pada masa dewasanya. Martabat Maryamah yang disingkang-singkang Matarom, mantan suaminya dan seorang preman, ditegakkan pada turnamen catur 17 Agustusan di warung kopi. Belajar keras hanya bisa dilakukan seorang pemberani. Maryamah tak dapat disurutkan bimbang dan dinisbikan gamang. Dia perempuan yang berani menantang ketidakmungkinan. Dibantu Ikal, Detektif M. Nur, Jose Rizal, Alvin, Giok Nio, dan Selamot, Maryamah yang buta catur berguru kepada Grand Master Ninocha Stronovsky. Operasi mengalahkan Matarom diberi kode intelijen Operasi Belalang Sembah.

Bukan hanya Matarom yang terjungkal. Overste Djemalam tuan tanah kejam yang pernah menganiaya Enong dengan belasan anjing pemburu celeng saat mendulang timah juga dipecundangi. Bahkan, Zinar, juragan tembakau dan gula yang merebut kekasih Ikal, disikat pula. Papan catur menjadi pusat putaran nasib bagi perempuan yang selalu kalah itu. Maryamah binti Zamzani, perempuan pertama yang bertanding dalam turnamen catur melawan lelaki. Papan catur refleksi kehidupan Maryamah sendiri. Penderitaan panjang, tanggung jawab besar sejak belia, dan perkawinan yang menyiksa telah membentuk Maryamah menjadi survivor tangguh dan defender andal. Dia melindungi rajanya seperti melindungi diri sendiri, ibu, dan adik-adiknya.

Bukan hanya cerdas, Andrea Hirata novelis prodigi (amazingly). Dia kombinasi Dominique Lapierre, Khaled Hossaeni, Ahmad Tohari, Mangunwijaya, Sindhunata, dan Ashadi Siregar. Keterampilannya mengubah tragedi menjadi ironi setara The City of Joy Dominique Lapierre dan The Kite Runer Khaled Hosaini. Setting sosial yang dirancang detail, penggambaran alam dalam menciptakan suspensi, serta kemampuannya mengemas metafora hanya bisa ditandingi oleh trilogi novel internasional Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari. Kisah cinta yang mengalir ringan tanpa melupakan permenungan mirip Cintaku di Kampus Biru-nya Ashadi Siregar. Kedalaman falsafati yang bertumpu pada idiom dan folklor kearifan budaya setempat setali tiga uang Anak Bajang Menggiring Angin Sindhunata dan Roro Mendut Mangunwijaya.

Tapi, Andrea Hirata bukan epigon Lapierre, Tohari, Sindhunata, Hossaini, Mangunwijaya, maupun Ashadi Siregar. Dia novelis ajaib digerati (digital generation society). Dia bergelimang distingsi. Novelnya ringan, tapi tidak ampang. Novel dipecah dalam kepingan-kepingan mozaik. Dia anak kandung zaman digital yang serbacepat, instan, dan renyah. Dia tidak bertele-tele dalam alinea-alinea panjang sebagaimana novelis dharmati (dharma society) yang tidak diasuh teknologi digital.

Namun, langgam puzzle (mozaik) merupakan keunggulan sekaligus kelemahan Andrea Hirata. Dia terlalu banyak menjejali cerita dan tokoh di luar protagonis utama, Enong dan Ikal. Halaman-halaman novel itu, terutama jilid kedua Cinta di Dalam Gelas, tak lebih dari etalase buat memajang seluruh koleksi daya tarik psikologis dan kebudayaan mental masyarakat Melayu di Belitung. Akibatnya, terutama Enong, seperti tertimbun semak belukar, onak, duri, ranting, dahan, gulma, dan perdu. Pembaca dibikin sibuk mengidentifikasi tetumbuhan. Tanpa terasa tiba-tiba tersesat di tengah hutan belantara idiom budaya Melayu udik.

Sensasi novel itu manis seperti madu. Eksotismenya benderang seperti cahaya mentari menembus gelas kaca. Andrea Hirata bukan hanya penutur cerita kelas wahid. Siapa pun pembaca buku tersebut tiba-tiba ketularan menjadi bijak dan cerdas. Dwilogi Andrea Hirata seperti pengejawantahan falsafah hidup Bunda Theresa -orang suci dari Kalkuta.

”Hidup itu kesempatan, manfaatkanlah. Hidup adalah keindahan, kagumilah. Hidup adalah kebahagiaan, resapilah. Hidup adalah impian, sadarilah. Hidup itu tantangan, hadapilah. Hidup adalah kewajiban, tunaikanlah. Hidup adalah permainan, jalanilah. Hidup itu mahal, rawatlah. Hidup adalah kekayaan, jagalah. Hidup adalah kasih, nikmatilah. Hidup adalah misteri, ketahuilah. Hidup adalah janji, penuhilah. Hidup adalah kesedihan, atasilah. Hidup adalah perjuangan, terimalah. Hidup adalah petualangan, beranilah. Hidup adalah keberuntungan, wujudkanlah. Hidup itu sangat berharga, jangan kau sia-siakan. Hidup adalah hidup, maknailah”. (*)

Judul Novel 1: Padang Bulan
Judul Novel 2: Cinta di Dalam Gelas
Pengarang: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka, Jogjakarta
Cetakan: Juni 2010
Tebal: 254 dan 270 halaman
Peresensi: J. Sumardianta, Guru SMA Kolese de Britto Jogjakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *