SSSSST, ADA PEMBUNUH CINTA DI ISTANA!

Robin Al Kautsar

?Ji, di dalam cerita peperangan dan penderitaan yang paling kejam sekalipun, di sana ada kisah cintanya. Sedangkan drama kehidupanmu begitu hambar.?
(PDN, hal 143)

?Pembunuh di Istana Negara? karya Dhian Hari M.D. Atmaja pada dasarnya mencoba mengangkat tema politik. Suatu tema yang cukup jarang diangkat akhir-akhir ini, di mana tema seks begitu mendominasi. Oleh karena itu tema ini mengingatkan saya bahwa sebagian sastrawan kita dulu begitu berpretensi melukisan kecenderungan-kecenderungan utama masyarakat yang berpusat pada negara seperti “Grota Azura” karya Sutan Takdir Alisyahbana atau bahkan pada “Nyali” karya Putu Wijaya. Kebetulan kedua karya tersebut tidak begitu disambut secara luas. Mungkinkah karenanya tema politik akhirnya dihindari oleh banyak pengarang?

Ini memang novel politik. Banyak gagasan politik dibicarakan di situ. Walaupun demikian pengarang memberikan porsi yang cukup besar bagi pembicaraan cinta dan adegan percintaan. Apakah pengarang tidak begitu percaya diri untuk fokus pada tema yang diusungnya? Atau bahkan mungkin pengarang begitu terpengaruh oleh resep Hollywood dimana setiap pahlawan pasti akan dipertemukan dengan pahlawin, kemudian keduanya bercinta dan berzina terang-terangan, apapun temanya. Cuma bedanya kalau Hollywood mengakhiri ceritanya dengan happy ending dan Dhian mengakhirinya dengan tragedi. Mari kita simak dialog berikut ini:

?Aku sungguh ingin membantu!?, jawab Agung dengan pasti
?Kalau kamu sungguh ingin membantu, ajak aku masuk ke dalam dan cumbui aku. Buai aku dalam kasih sayangmu yang seperti lautan madu.?, Ucap Rina menggoda
………………………………………………………………………………………………………………………….
Ia hanya bisa memeluk Rina dengan erat……………………………………………………………….
Air mata terbendung untuk kali ini dalam nafas yang memburu, dan kesedihanpun terbungkam begitu jauh.

Tampaknya pengarang begitu obsesif dengan adegan percintaan, sampai-sampai realitas adegan di rumah kos di tengah masyarakat ditabrak begitu saja. Ini penting dibicarakan mengingat novel adalah genre sastra yang paling mimesis.

Bagi saya Kapten Agung Sutomo adalah tokoh sentral novel ini dan konflik yang terjadi adalah dia dengan dirinya sendiri, setelah menilai situasi sosial politik di sekitar, lebih-lebih dia ikut merasakan pahitnya kehidupan orang tua Rina dipecundangi oleh praktek-praktek aparat negara, meskipun dia sendiri berada di .pusat kekuasaan. Ide-ide revolusi mencuat dalam dialognya bersama Oka:
?Jadi revolusi tidak bisa menjadi jalan keluar demi membangun negara humanis, Mas??, tanya Agung setelah mendengar ketidakpercayaan Oka pada jalan revolusi. Dan posisi pengarang memang termasuk yang tidak percaya pada revolusi, meskipun deskripsinya tentang apa itu revolusi dan apa itu negara humanis sangat tidak memadai. Pandangan pengarang yang disampaikan lewat Oka seperti: ?Revolusi akan menimbulkan masalah baru yang lebih besar. Mengacaukan sistem ekonomi, politik, keamanan dan aspek kenegaraan yang lain.? Dengan alasan: ? Dalam setiap prahara dan perubahan rakyat selalu menjadi korban?. Pandangan seperti ini sangat naif dan sering dibangun oleh pihak yang anti perubahan untuk menjadi bahasa dan nina bobok rakyat. Tidak mengapa pengarang tidak percaya pada revolusi, tetapi daya jelajah dan luasan penglihatannya untuk mengenali dan mengeksplorasi bagian krusial ini harusnya melampaui bahasa rakyat jelata (baca: tidak memiliki kesadaran politik).

Membicarakan revolusi tanpa mengeksplorasi pemikiran Marx akan sangat dangkal dan ahistoris. Mungkinkah ada reaksi tanpa ada aksi? Mungkinkah perubahan akan terjadi tanpa adanya kegelisahan masyarakat yang meluas? Sayang sekali Wiku Sapta Seloka, Wayang dan Aji Saka yang pernah menjadi aktivis kampus tak dapat memerankan fungsi jembatan antara kegelisahan masayarakat akar rumput dengan diskursus revolusi (dalam bahasa akademis) yang antara lain dikembangkan oleh Marx. Oleh karena itu tidak aneh kalau pusat agen perubahan sosial hanyalah Presiden, yang dalam negara modern sebenarnya jauh lebih ringkih dari yang dipikirkan awam.

Tetapi ini novel, bukan paparan ilmiah! Betul sekali. Tetapi mengangkat tema besar seperti itu punya resiko tersendiri. Ketika pengarang tidak parcaya pada kekuatan kata semata ia meminta bantuan gambar yang bernama diagram hirarkis terbalik. Padahal diagram tersebut tidak memperkaya novel untuk lebih menggugah atau memperjelas. Tidak jelek memasang diagram asal telah terinternalisasi dalam kemurnian ruang ilham. Namun memang tidak mudah menaklukkan medium seni. Keinginan Iwan Simatupang untuk menciptakan novel tanpa tokoh tanpa plot tidak pernah terealisasikan, karena kemungkinan besar hasilnya bukan novel tapi buku sosiologi atau psikologi.

Penokohan dalam novel ini walaupun kurang kuat karakterisasinya dapat digambarkan sebagai Agung sebagai protagonis dan antagonis di bagian inti dan selebihnya yang menggunakan nama imajiner ( Wiku Sapta Seloka, Wayang dan Aji Saka ) sebagai wakil dari kehidupan pengarang di bagian plasma. Sedang tentang kehadiran Gadis dan Rina hanyalah instrumen untuk adegan percintaan yang menjadi kredo pengarang di atas. Dengan demikian walaupun pengarang berada pada posisi pihak ketiga yang serba tahu, dia telah sekuat tenaga untuk sebagai pengamat yang netral. Tentu saja dia tidak banyak tahu, sehingga deskripsi tentang istana yang rumit tak dapat ditampilkan sebagai bagian ketegangan ketika protagonis dan antagonis mengalami konflik yang amat sangat hebat.

Ketegangan yang terjadi pada klimaks sungguh singkat dan mentah. Bagaimanapun novel ini adalah novel konvensional, dimana kepiawaian pengarang sangat diuji untuk menciptakan tanda tanya besar yang membuat pembaca menahan nafas dan akan marah kalau bacaannya disela orang lain. Terusnya bagaimana? Selamatkah tokoh utamanya? Sayang sekali klimaks segera beralih menjadi anti klimaks. Dan penyelesaiannya mudah ditebak, pengarang mengokohkan kembali siap anti-revolusinya. Apakah pengarang seorang pemuda konservatif alias jumud?

Membaca novel ini alurnya terasa lambat dan bertele-tele. Apalagi dialognya tampak anakronistik dan tidak lincah, sehingga realitas yang nyaris digenggamnya kembali luput tak terpaut. ?Contoh: Ada waktunya mas waktu untuk kita berdua. Lagipula Aji sudah lama tidak ke sini. Lebih baik kalian pergi hanya berdua? Meluncur ke dinginnya aspal tempat kalian mengais-ngais sesuatu. Atau hanya untuk sekedar mengenang masalalu saja.? Mungkinkah ini kata-kata istri yang telah kita kenal tiap hari?? Rasa-rasanya ini seperti istri dalam sebuah sandiwara teater Dardanella.

Begitulah novel politik. Resiko menggarap novel politik sangat besar, karena pengarang harus mengolah dari bahan-bahan yang tidak murni. Bahasa yang ia pergunakan telah dibebani oleh wacana yang telah tertentu dan menyejarah yang pengarang harus menguasainya terlebih dahulu.

Tugu Gang I, Blok B, No.2, Jombang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *