Tandan Tanggal*

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

KEMUDIAN yang tertinggal penggalan kenang yang hampir tanggal. Bertandang dari laman-laman masa silam. Pada setiap waktu yang kita ramu. Pada warta-warta terkata.

Ketika masa mengaribkan kita, kau wanodya penuh ria. Aku suka menghitung tapakmu di antara bunga rumput dan bebatu. Dengan cengkrama yang selalu berbeda, kau wedarkan segala ruah rasa. Dalam tawa dan nelangsa, kau cecap setiap makna. Lalu aku terbiasa dengan seluruhmu; sungging senyum, kecumik manja, sedan hampa, hingga nganga luka yang kau punya.

Pernahkan kita menyesalkan undak yang kita tapak?

Karena esok bukan lalu. Kini kurasai seluruhku masai tanpamu.

Kulipat setiap kenang pada duka paling luka. Saat kusaksikan tandan waktu menanggalkanmu; aku ngungun di pusara itu.

Dukaku tandas di atas tanah merah berbasah resah. Muncul keriap kenang yang mencemaskan waktu. Saat kau menyisir lempang jalan menuju rumah hitam. Tempat bartaut suai pemikiran-pemikiran lalu dan yang baru. Berbincang tentang canang kejayaan masa usang dan kehancuran sejarah sudah. Buah pikir manusia dari negeri-negeri yang gemah. Akal budi tokoh negeri yang kita “adili”. Kearifan sufi dari lorong yang tak kosong. Kebijakan pujangga pada racikan kata dan makna. Kita akan membincangkannya hingga senja hampir binasa.

Esok pagi, sebelum matahari bergegas tinggi, kita akan mengayunkan langkah menuju cita-cita yang jauh. Tentang pendidikan yang memanusiakan manusia. Tentang hukum-hukum yang adil. Lalu kita gunjingkan tapak-tapak Paulo Freire dan Romo Mangun, Ivan Ilich dan

Roem Topatimasang. Juga jejak-jejak penindasan yang mamasung cita.

Di sebuah masa yang luka, saat kaum muda memancang bendera, kita menjelma pagar jalanan. Meneriakkan pekik-pekik keadilan. Meninggikan panji-panji peradaban. Pada barisan sayap-sayap yang mengepak menuju lazuardi tertinggi. Akan kita basahi jalanan itu dengan seluruh peluh muda membara. Kita bacakan Bunga dan Tembok dengan dendam paling dalam. Sekelam kisah sang pujangga yang hilang ditelan zaman yang muram. Kita tersenyum dengan kulum paling ranum, kala lelah tanpa upah menjadi mur’ah yang kita pilah.

Saat suara menggema tentang wanita-wanita pendamba mahkota, kau dan aku bertukar kata. Kemana kiblat bangsa kita? Pada wanita pemuja benda, atau kaum hawa yang sedang memberai temali budaya? Dan kita memilih requim Sachico Murata. Wanita pewarta harmonisasi semesta. Dan kita pun seiya bahwa Mumammad, ksatria dari Arabia, manusia utama yang pertama peduli pada takhta wanita.

Sempat juga kita umpat diktat-diktat yang membuat sekarat. Karena kita kecewa dengan isinya, dan tak punya uang untuk membelinya. Sementara diri dipaksa memilikinya demi nilai-nilai yang tak lagi bernilai.

Ada kala kita tergelak. Menandaskan tetes terakhir dari secawan air. Menyuap nasi dari pinggan yang sama. Menjejak tapak di jalan itu juga. Kau sering berkata, semua akan jadi kenang yang sulit kita ulang. Aku membalasnya dengan tatap tak terkata. Tapi kembali kau mengajakku dalam derai suka.

Kau pernah menanda sesayat duka. Aku takzim mendengarnya. Tentang lara, tetang asma. Kusimak kau berwacana, mari kita lupakan derita fisik yang sementara. Bukankan jiwa masih menyala? Menerangi setiap sudutnya. Kita sibukakan dengan karya-karya sebagai jamuan surga. Karena kesedihan adalah bahagia yang bertengger di puncak kesunyian. Lalu Kau cari telaga untuk membasuh duka. Merendam seluruhnya hingga hilang tiap tilasnya. Lalu menghapus segala cerita dengan ceria. Kau enggan menatah duka, tak suka memahat luka. Hidup bagimu tapak-tapak suka dan taman tawa. Memeram muram pada cahaya. Memindai minda menjadi baskara jiwa. Dan aku terbawa pada rebawa bahagia. Kita pinda rasa lega sempurna.

Kadang kita empaskan semua, melupa untuk beberapa jenak. Menyimak Caravansari pada dayu lunak. Lalu kita bersembunyi di bilik hati paling sepi. Demi temukan segugus sunyi yang kita cari.

Pernah kita memadu harap. Mengeja kemungkinan-kemungkinan tentang perubahan. Untuk bangsa yang merapuh, pada sejarah yang sepuh.

Kini rencana-rencana menjadi mumi yang bertengger pada masa yang bisu. Karena seluruhmu tak sampai pada cerita bangsa yang berbeda.

Setelah musim wisuda tiba, kita terberai titimangsa. Karena Freire tidak cukup pada kata, Romo Mangun tak selesai pada wicara. Pilihan pengabdian berbeda menjadi jurang yang nganga. Tapi jiwa selalu saling sapa. Meski kita jarang bertukar warta. Hari menggugus dalam pergantian tahun, kita menjadi jiwa yang saling mendamba untuk berjumpa. Meski kesibukan menjadi hantu yang memberaikan. Kita bertukar tawa dalam ruang yang tak lagi sama.

Hingga pada pagi yang lengas, kudengar sebait berita dari alam maya. Daun gugur di kala hijau, rumput mengering menanggung risau. Setandan jiwa telah tanggal. Jiwa yang tak pernah tega mewartakan duka. Jiwa yang menyimpan rapi setiap nelangsa. Hanya tawa dan ria yang kau wartakan pada dunia. Aku mengeja: hidup adalah tandan-tandan yang akan tanggal pada saat yang ditentukan. Dan ketentuanmu telah datang saat hari masih memancarkan keelokan.

Sepenggal duka yang pernah kau buka, menanggalkan asamu yang masih nyala. Kau masih menggantang hari depan saat maut mengintaumu. Jiwamu mengejar cahaya ketika alam lain menyambut kedatanganmu. Kau tak tinggalkan keluh juga nelangsa sebagai pinanda kepulangan. Maut kau sambut dengan senyuman. Bukan ratap ketakutan. Kematian mengerangkeng seluruh asan yang hendak kau wajudkan.

Hari itu, aku menjumpai jasadmu terbujur kaku. Kita bertemu untuk berpisah. Laksana magrib yang tiba demi sang malam. Kita berjumpa untuk sayunara, bagai mimpi yang hadir di ujung pagi. Aku siramkan suri suci, berserta bunga rindu dan wewangi madu. Rindu yang tandas, karena perjumpaan fisik menjadi kemustahilan. Aku berikan ciuman terakhir, menghantarkan duka yang akan terkubur bersama seluruhmu.

Tak bisa kunahan gemawan kemana berarak, di mana terserak.

Karena dia dituntun Tangan yang lebih kuat. Tapi jiwaku pun dibimbing Tangan yang sama. Di mana pun kelak, jiwa kita akan bersua.

Aku ingin bersenandung bersama rinai di fajar jingga. Mengabarkan tunas-tunas baru yang memesona. Kerena duka hari ini pasti tinggal. Tapi seluruhmu tak akan luruh pada serpih muram itu. Keriapmu akan hadir pada lembar hari yang mewujud dalam kinanti hati. Kau kinatan penabur pinar, pincara pesan-pesan Tuhan, tentang kasih, cinta, dan ketulusan. Duhai kinasih kehidupan… aku melepasmu dengan rebas tertahan: Selamat jalan.

Rajabasa, Februari 2010

*Mengenang Rosa Novalinda

Berpulang; Jumat, 5 Februari 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *