Zombies dan Monster Remote Control

Beni Setia
http://www.lampungpost.com/

1.

MARLA, siswa SMA kelas III itu, tertegun. Ragu-ragu ketika memasuki Leisure Caf? saat terik matahari mulai lena dan azan zuhur di Masjid Al Arifiah– seratus lima puluh meter dalam kampung, lewat gang di samping kaf?–lama reda. Bertepatan dengan Aswad, koki yang gegas mengejar salat berjamaah itu, balik tak gegas. Abai.

Meski bagaimana, akhirnya memilih kursi di meja pertama depan pintu masuk. Duduk menghadap luar, menyimak anak-anak bimbingan belajar berdatangan di Astro–di seberang, tiga puluhan tujuh meter lebih ke kiri. Menonton lalu lalang yang santai dan yang agak ugal-ugalan di jalan yang mulai ramai menjelang petang. Merasakan embus angin dari pusar kipas angin di lelangit tepat di meja belakang. Menyejukkan diri di tengah instrumentalia megah Yanni, yang terpampang di televisi dekat kasir.

Ketika pelayan datang mengantarkan daftar menu dalam lembar pink yang kaku diberi plastik laminating: ia bertanya tanpa mau menerimanya, “Apa yang sebenarnya terjadi?” Pelayan itu menatap. Menunjuk televisi dekat kasir, yang menghadirkan laporan live sebuah liputan berita, setelah hilang kontak dengan DCD Yanni.

2.

“BUKAN untuk bersantai atau ngisi perut,” kata Turah, pelayan itu, di hadapan polisi penyidik. Waktunya, usai magrib, setelah diberi kesempatan untuk sembahyang di musala Polsekta M. Begitu bunyi teks pada frame tayangan berita televisi itu memberi keterangan, dengan huruf hitam di latar adegan yang tak begitu terang.

“Ia nggak gelisah. Santai dan tenang,” kata dia pada polisi yang membawanya ke kantor buat dimintai keterangan, dalam frame flash back. Sesuai tuntutan prosedur penyidikan, buat melengkapi visum, yang akan dilampiri dengan surat bunuh diri aneh Marla, yang mengindikasikan ada semacam kekerasan dalam rumah tangga.

“Ia duduk diam. Anteng! Ngeluarin buku tebal bersampul hijau dari tas yang terselempang di bahu. Membukai lantas menulis di halaman tengah, setelah termangu lama sekali. Nggak bereaksi ketika saya pelan mengantar gelas es jeruk. Malah asyik mengetuk-ngetukkan pulpen sambil nggigit-nggigit bibir bawah. “Saestu, Pak.”

“Hhhh.”

“Ia menulis. Tenang–tidak tergesa–, setidaknya begitu yang terlihat dari dapur, meski yang tampak cuma punggung. Merobek lembar agenda, menggeletakkannya di meja. Memasukkan buku agenda dan pulpen. Ngeluarin dompet dan menarik tiga lembaran Rp1.000 yang masih kaku. Itu tuh …”

“Hhhh.”

“Meraih gelas. Membuka tutupnya dan meneguk es jeruk setelah berlama-lama ngocek sehingga bunyi detak beradunya sendok dengan tabung gelas itu seakan-akan nggak akan berhenti–meski saya yakin kalau gula dalam es jeruk itu udah 99% larut. Sungguh! Saya yang bikin es jeruk itu. Saya telah bikin es jeruk selama lima tahunan. Dua tahun di warung Lik Nah, sebelas bulan di Kafe Luang, dua tahun di Leisure…”

“Wis …wis. Sing pokok-pokok ae.”

“Ia meneguknya. Meluruskan punggung dengan gerakan dua tangan ke samping. Bangkit. Berdiri. Mengacungkan lembaran uang Rp1.000-an itu kepadaku-semua anak bimbingan tes tahu kalau harga es itu hanya Rp2.500, Pak. Meneguk sekali lagi. Lalu meletakkan lembaran agenda, uang Rp1.000-an–ditindih dengan gelas yang separuh isi.”

“Ditindih gelas?”

“Kertas agenda itu, lalu uang, dan di atasnya gelas es jeruk.”

“Hhhh.”

“Lalu melenggang ke luar. Termangu di ujung trotoar, dan mendadak melaju ke hadapan Inova yang deras digas di jalan kosong,” kata Turah, sambil menarik napas panjang. Polisi itu menyorongkan Aqua gelas dan ia minumnya–pada berkas proses verbal, polisi mencatat: pengendara Inova, Koh Ibun Tirtawacana, ngebut karena jalan kosong mulai dari perempatan Legowo, 150 meter dari kafe.

3.

PELAYAN itu menyorongkan tumpukan koran Metropos. Marla membaca yang pertama, yang memuat kesaksian tukang becak yang mangkal di depan Astro, di berita yang muncul dua hari setelah kejadian itu. “Saya ngadap jalan mengharap ada siswa bimbingan yang nggak dijemput, hingga sedikitnya saya bisa beli nasi pecel De Lah,” kata dia.–membuat Dabrus, wartawan Metropos, memberi tiga lembar Rp1.000.

Kemudian Dabrus menulis: Marla celingukan, seperti nyari becak dan angkutan –tak beranjak menyebrang. Menunggu sebuah Inova yang melaju, dengan sopir yang angkuh mengendarai mobil yang baru dibeli tiga bulan lampau, dan senantiasa ingin dicoba daya pacunya, dengan melaju kencang.

Kemudian Marla maju selangkah, meloncat menelungkup di hadapan bakal laju Inova. Telungkup dengan tangan terulur lurus, membuat si sopir panik dan tersia-sia mengerem dan membanting kemudi ke kiri. Itu malah menyebabkan pinggang Marla terlindas roda kanan depan. Sentakan yang membuat kepalanya terdongak dihantam bongkah garda–sebelum punggungnya dilindas roda kanan belakang. Remuk.

Gaya pemberitaan sensasional. Dihias dua buah potret, berjajar, di halaman muka –sebagai lead berita. Potret lokasi kejadian, meski yang tampak cuma tanda olah TKP dari kapur, dan potret lembar surat bunuh diri Marla. Dengan head berita yang sangat panjang: “Ibu saya monster,” kata Marla sebelum bunuh diri.

4.

BERITA yang secara tidak langsung–berdasarkan pesan bunuh diri Marla itu–menunjukkan kalau bunuh diri Marla itu punya penyebab, dan itu mungkin kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak. Kejahatan yang dilakukan atas nama kasih sayang dan masa depan korban, rencana dan tindakan yang diangankan oleh si ibu akan membuatnya jadi manusia unggul–bukan yang mengidap depresi sehingga bunuh diri.

Seorang bekas guru SD Marla diwawancarai Dabrus, yang dilaporkan sebagai: Sumber Metropos, seorang bekas Guru SD Marla, yang minta namanya dirahasiakan, bilang Marla itu dipaksa mamanya agar selalu dapat ranking. Sering dihajar dan dimarahi di depan guru-gurunya bila ulangan hariannya jeblok. Bahkan bolak-balik menyalahkan guru kelas yang dianggap nggak becus memberi nilai kepada Marla–yang dileskan Inggris, Matematika, dan seterusnya itu.

Setiap pulang ia harus menunggu di depan gerbang sekolah, dalam hujan atau panas, sampai mamanya datang menjemput. Tak diperkenankan pulang sendiri. Tak boleh diajak pulang atau diantar orang tua murid yang lain. “Pernah,” kata sumber Metropos, “Ia kehujanan dan diajak pulang bareng oleh Bu KS. Marla menolak dan bilang, nanti ia dimarahi mamanya. Anak itu tertekan dan takut akan mama. Jadi pintar, tapi kehilangan inisiatif dan gairah normal seorang anak–dilarang ikut pramuka, belajar kelompok, dan/atau bermain bersama teman. Hidupnya hanya belajar, les, dan jadi anak manis. Zombies yang dikendalikan mama–monster remote control.”

5.

MAMA–monster remote control. Satu penutup berita yang amat tendensius dan subjektif. Tidak terbayang akan dipilih oleh wartawan atau redaktur koran nasional macam Proporsi atau Iconia. Sebuah palu godam teramat khas Prapto dan terutama maha Metropos–yang menjadikan berita sensasi sebagai ujung tombak pendongkrak oplah penjualan eceran harian.

Sore hari, di bawah sugesti redaktur pelaksana atas laporan dari Divisi Penjualan langsung, Dabrus menulis berita lanjutan tentang Marla. Kini, dengan ngutip prosa lirik Kahlil Gibran, tentang hakikat anak yang otonom, dan kawajiban orang tua untuk jadi sang liberalian,yang memerdekakan anaknya tumbuh mandiri. Dengan mengorek pendapat Sarwadina, yang kebetulan piket kantor Komnas Perlindungan Anak, via telepon dan wawancara summir yang kemudian ditata jadi potongan-potongan teks tendensius

Jangan otoritarian, tulis Dabrus, karena Tuhan yang menciptakan dan memiliki segala mahluk itupun bisa berbesar hati dan leluasa memberikan kebebasan kepada (manusia) ciptaan-Nya. Lantas kenapa Marla hanya dianggap asesori atau komoditas yang bebas diapa-apain oleh mama?

6.

PADA tayangan live di televisi itu tergambar: Tak ada reaksi berlebihan dari pihak keluarga Marla–mereka tak langganan Metropos. Tapi salah satu paklik dari garis ibu Marla, seorang Pati Mabes Polisi menelepon ke Polsekta. Dan menyebabkan Dabrus dipanggil dan diminta menghentikan pemberitaan selanjutnya. Dabrus tegas menolak. Kapolsekta tersenyum, bilang: Ia kini butuh kerja sama, seperti Dabrus nanti butuh keiklasan kerja sama polisi.

“Cuma saran,” katanya. “Bila tidak? Ya … sumber-sumber kepolisian, terutama di polsekta sini, tertutup bagi Metropos.”

Tapi, pada Prapto, Redpel Metropos–yang sengaja diundang ke Polsekta M–, si Kapolsekta itu diam-diam membocorkan hasil proses verbal Mamanya Marla–meski sebagai teks off the record. Sebuah pengakuan yang sebetulnya sangat potensial buat ditulis sebagai berita melodrama khas Metropos, yang diangankan si Redpel sebagai bakal ledakan permintaan eceran yang tinggi. Ya!

“Ini bukan kasus rumit,” katanya. “Sesungguhnya amat biasa dan sering terjadi. Tapi harus dihentikan meski bisa jadi peringatan bagi yang lainnya–ia ber-backing.”

Tertulis: Sebenarnya saya tak benar-benar memahami Marla. Meski saya ingin menjadikannya seorang anak yang tak biasa-biasa saja. Ia harus jadi anak unggul–mengikuti garis keturunan ayah dan ibu saya, atau ayah-ibu Mas Syarif, bapaknya. Saya tentukan jadwal, saya bikin poin-poin kegiatan rutin harian, yang bermanfaat-saya tentukan titik target pada garis tuju untuk tumbuh jadi manusia unggul. Saya bikin larangan, tabu, dan rambu. Tapi ia tumbuh jadi anak yang harus dikomando.

Saya selalu marah karena ia menjadi si tanpa inisiatif. Sekali ia duduk ia cuma duduk, terkadang diam tanpa melakukan apa-apa. Dan saya pernah menangis ketika ia dirayakan berulang tahun di rumah neneknya, di antara sanak keluarga. Ia duduk, diam, pasif saat dilempari, disiram dan digoda keluarga. Hanya diam. Diam! Tidak bereaksi. Tak menggelak dilempar permen, tak bereaksi disiram air di kepala. Diam. Bahkan tak ikut menari, nyanyi, atau berteriak bersama yang lain.

Bapak marah. “Kamu apakan cucuku?” katanya. Saya tak tahu–tidak mengerti. Saya menangis semalaman ketika menyadari Marla itu telah tumbuh jadi si manusia canggung yang tak bisa baur terlibat dengan orang lain–bahkan sanak saudaranya. Saya marahi ia. Saya tanya, apa yang diinginkannya. Marla diam. Bisu. Menunggu komando. Saya marahin ia. Saya hajar. Saya paksa agar ia mau bergaul, merdeka penuh inisiatif seperti remaja lain. Ia bungkam– menunggu komando.

Hari itu saya benar-benar jengkel. Saya beri ia duit, dan memaksanya untuk berangkat les sendiri, dengan harus ke kafe terlebih dulu untuk membeli es jeruk atau makan bakso. Ia tersentak. Saya benar-benar marah. Saya berteriak “mengusirnya” agar mulai belajar mandiri dan punya inisiatif. Hasilnya …?

7.

HASILNYA, seperti yang diberitakan Metropos: Marla menulis pesan kematian pendek Ibu saya monster–dengan huruf blok yang rapi. Lalu menunggu mobil Inova Ibun Tirtawacana–yang kebetulan lewat–, dan meloncat melindaskan diri. Tapi fakta Marla tak mengaduh, mengeluh atau merintih– “Bahkan fakta kalau aku tranced tersenyum lega,” gumam Marla–luput tak ditulis Metropos, karenanya tidak diketahui oleh siapa pun di dunia ini.

“Aku merdeka,” bisik Marla, melirik kasir, isyarat minta dikirim daftar menu. Tapi ruang kasir itu jadi semak liar yang menaungi batu nisan yang tulisannya pudar ditutupi lumut yang mengering oleh cuaca. Lalu angin berembus di rumpun bambu, menimbulkan desau dan bunyi derit batang bersilang. Di jauhnya Marla mendengar ayam berkokok. Lalu reda yang menekan jadi kesunyian petang, yang sesekali dihiasi denging uir-uir. Senantiasa.

Caruban, 2006?2007?2009–2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *