Ashadi Si Raja Sinis Penjaga Akal Sehat

Ismi Wahid
http://www.tempointeraktif.com/

Dalam sikapnya yang pendiam, banyak kalangan menjuluki seorang Ashadi Siregar dengan sebutan ‘Raja Sinis’. Begitu banyak ilmu, pandangan dan pendapatnya terhadap dunia pers Indonesia. Kamis (29/7) malam kemarin, sebuah dialog membedah buku Ashadi Siregar : Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru diselenggarakan di auditorium TVRI. Acara ini adalah persembahan dari teman dan sahabat-sahabat atas ulang tahunnya ke-65.

Beberapa testimoni dari teman dan sahabatnya terungkap dalam acara itu. Di antaranya adalah budayawan Emha Ainun Nadjib. Emha bangga terhadap sosok Ashadi dan berguru dengan kesinisannya. “Hubungan saya dengan Bang Hadi ini penuh dengan nikmat yang kecil-kecil sangking banyaknya. Saya bangga dengannya. Dari dulu dia sangat sinis kepada saya,” ujarnya sembari tertawa.

Banyak hal telah didiskusikan melalui komunitas budayawan dan sastrawan di Malioboro kala itu. Bang Hadi salah satu diantaranya. Emha hingga menyebut orang-orang di komunitas itu sebagai adidas : anak didik Ashadi Siregar.

Lain halnya dengan sutradara gaek, Garin Nugroho. Ia menggambarkan Bang Hadi sebagai punakawan dari Batak. Ashadi, menurut Garin, adalah simbol punakawan yang menghidupkan sosok kejawaan dengan caranya sendiri. “Melihat Ashadi, dari depan seperti Semar, dari belakang seperti Bagong, dari kanan menyerupai Petruk dan dari kiri mirip Gareng,” kata Garin.

Pada tokoh pewayangan itu, Ashadi, dalam pandangan Garin, kadang keras kepala seperti Semar yang kalau sedang marah akan kentut betulan. Atau kalau ia sedang mengolok-olok sesuatu persis seperti sikap Gareng. Namun, ia juga sedikit sombong seperti tokoh Petruk yang ingin menjadi raja. Begitu juga dengan sikap seenaknya sendiri seperti Bagong. Tetapi, Ashadi tetap membawa sikap keindonesiaan, karena ia bukan orang Jawa, melainkan Batak.

Beda dengan Pemimpin Redaksi Jurnal Prisma, Daniel Dhakidae. Rekan seperjuangan Ashadi ini justru bingung dengan sebutan Ashadi sebagai penjaga akal sehat. “Kami tidak pernah bermimpi atau berniat menjaga akal sehat. Karena kerja kami dulu justru merusak dan menjungkirbalikkan akal sehat,” katanya berseloroh.

Daniel menceritakan pada saat itu mereka tidak terlalu yakin dengan sistem yang diberlakukan universitas. Maka mereka membuat kurikulum sendiri dengan membuat banyak seminar. “Harus ada ruang alternatif di luar sistem kampus,” katanya.

Serentetan testimoni dan kesan terhadap sosok Ashadi dari beberapa budayawan, sastrawan, praktisi hingga politisi tertulis menarik di buku tersebut. Resensi lengkapnya akan dikupas pada Koran Tempo ediai Minggu, 1 Agustus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *