Birokratisasi Sastra Jawa Timur

AF. Tuasikal
http://cetak.kompas.com/

Aku bertanya. Tetapi pertanyaanku. Membentur jidat penyair?penyair salon. Yang bersajak tentang anggur dan rembulan.
Sementara ketidakadilan terjadi disampingnya. Dan delapan juta kanak?kanak tanpa pendidikan. Termangu?mangu di kaki dewi kesenian
Inilah sajakku. Pamplet masa darurat. Apakah artinya kesenian. Bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir. Bila terpisah dari masalah kehidupan
(WS. Rendra. Sajak Sebatang Lison)

Penggalan dari bait-bait puisi almarhum penyair WS. Rendra di atas yang ditulis pada era tahun 70-an ini, sampai sekarang pun masih sangat kontekstual dan tepat untuk mengkritisi kondisi birokrasi sastra dan para penyair-penyair kita saat ini. Seorang penyair adalah orang yang harus bersentuhan dengan kenyataan (dinamika kebudayaan). Ketika dinamika kebudayaan kita lagi di tindas oleh berbagai macam kasus korupsi yang tidak ada habis-habisnya, penyair adalah orang pertama yang harus berani menyuarakan kebenaran lewat naluri jiwanya yang di ekspresikan lewat baris-baris puisinya. Celakanya lagi, Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT). Biro sastranya tidak mempunyai konsep pengelolaan sastra yang jelas. Mengapa saya katakan demikian, karena di DKJT hanya mencatat dan memunculkan nama-nama penyair seperti; A. Muttaqin, Indra Tjahyadi, Mashuri, yang notabene komunitas orang-orang Teater Utan Kayu sebagai penyair ?hari ini? Jawa Timur (istilah TUK), itu bila di takar menurut ukuran mereka. Padahal secara karya (puisi) mereka bertiga seragam (asyik sendiri terhadap kata-kata, terpukau oleh pesona kata, eksplorasi bahasa secara maksimal. menunjukkan keindahan dan bergelap-gelap ria). Bila dibaca tidak memiliki tingkat kreatifitas yang saling bersaing. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa perkembangan sastra (puisi) di Jawa Timur tidaklah berkembang, yang berkembang hanya munculnya penyair-penyair yang termuat di media massa.

Di Jawa Timur ada banyak penyair-penyair yang lebih memiliki potensi dan proses kreatif yang tidak kalah bila dibandingkan dengan para penyair itu. Ada nama-nama seperti; Jeni Indri dari Jember, Iqbal barras dan Fattah Yasin dari Banyuwangi, Ragil Supriyanto dan Wawan Eko Yulianto dari Malang, Rego S. Ilalang dari Nganjuk, Muhklis Ir dari Bangkalan, Dadang Ari Murtono dari Mojokerto, Mahendra dan Alfaizi dari Sumenep, dan banyak lagi yang lain.

Mereka semua ini tidak tercatat dalam basis data DKJT. Ini terbukti dengan tidak masuknya mereka dalam antologi Pesta Penyair yang di terbitkan DKJT baru-baru ini. Lebih parahnya lagi muncul nama-nama penyair yang tidak jelas proses kepenyairannya masuk dalam antologi itu. Seperti; Joko Susilo, Wildansyah Bastomi, dll. Hingga tidak menutup kemungkinan bahwa antologi-antologi puisi yang di terbitkan DKJT bukanlah antologi puisi penyair Jawa Timur, melainkan antologi puisi komunitas. Dan ini adalah korupsi sejarah sastra di Jawa Timur.

Ketiga penyair DKJT yang saya sebutkan di atas tadi, adalah penyair yang tidak memiliki kepekaan nurani dan mental yang kuat. Mereka tidak sadar di dalam suasana tertindas di bawah pemerintahan yang zalim, masyarakat ingin dengan senang hati dan penuh rasa bersyukur: ?kata-kata kebenaran, kata-kata keadilan?. Mereka malah menulis tentang bunga-bunga, cinta terlarang, patah hati dan puisi-puisi salon bila meminjam istilah almarhum WS. Rendra.

Sebenarnya mereka harus bersyukur terlahir di masyarakat ketika rezim SBY, rezim terbuka dimana kita bisa bicara banyak hal tanpa adanya sensor, bila di bandingkan ketika rezim Soeharto rezim represif. Tapi meski begitu rezim ini menciptakan mental kreativitas bahasa yang luar biasa hingga melintasi sensor pemerintah. Sekarang yang jadi pertanyaannya adalah dimanakah nurani mereka ketika negeri ini ditindas oleh korupsi atau jangan-jangan mereka para penyair DKJT itu Pro-Korupsi.

Dari sini saya jadi teringat akan penyair Sa?di, penyair Persia pada abad ke-13, yang lantang dalam menyuarakan kebenaran dalam kata-katanya (sajak), hingga mampu membuat Hulaku Khan, sang penakluk dari Mongol, konon tidak mampu membendung air mata mendengar kalimat yang dituturkan oleh Sa?di. Begini bunyinya: ?Hanya perbuatan-perbuatan baiklah yang bisa menolong anda. Maka, terserah kepada anda mau mengumpulkan perbuatan baik atau perbuatan buruk?. Nasihat ini mungkin klise untuk masa sekarang. Tapi dari mulut Sa?di, ia menjadi untaian sajak yang indah. Lalu menangislah sang raja. Sekarang pertanyaanya, mungkinkah para pemimpin-pemimpin dan birokrasi-birokrasi kesenian negeri ini, nuraninya bisa tersentuh oleh sajak? Mungkin saja, bila para penyair kita mempunyai kepekaan rasa dan tidak hanya bertamasya ria dengan kata-kata.

*) Penyair tinggal di mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *