Buduh_Kasmaran1@lovemail.com

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Itu alamatku, agar Stephanie gampang menghubungiku. Dia juga yang membayar langganan ke lovemail dengan kartu kreditnya. Aku sendiri mana punya kartu kredit. Rekening bank dan kartu ATM aku punya, dan segala macam transaksi biasanya langsung masuk rekeningku. Itu pun atas saran Stephanie.

Kemudian semua orang punya HP, dan Caroline membelikanku sebuah HP lengkap dengan pulsanya Rp 500.000. Dengan HP aku lebih gampang lagi dihubungi, baik dari Australia maupun dari Bandara Ngurah Rai. Bilamana pulsa mau habis, segera Caroline mengirim pesan bahkan sering juga menelepon agar aku segera mengisinya. Bukankah uang untuk itu sudah tersedia di rekeningku?

Aku sendiri lebih sering menggunakan HP itu untuk ngomong dengan Komang Widya, perempuan yang paling cantik bagiku. Dia pandai menari, dan kalau sudah berada di panggung, dia bagaikan seorang dewi yang turun dari kahyangan. Bagiku Komang adalah sebuah mainan gelas yang mudah pecah, sehingga aku harus memperlakukannya dengan hati-hati, lembut, dan penuh kasih sayang. Kalau tidak, aku khawatir kalau-kalau dia pecah berantakan, dan di mana aku harus mencari pengganti Komang Dewiku yang selalu menggetarkan hati?

Stephanie memang cantik tetapi dia bukan seorang dewi, demikian juga Caroline. Dia mirip ibu-ibu tua walaupun usianya masih muda. Mungkin karena pekerjaannya sebagai konsultan, dia sering memberiku nasihat-nasihat yang baginya mungkin berguna bagiku. Lalu, Mary, Lucy, Bernadette, Ali (aneh, aku selalu ingat Mohamad Ali kalau mengingat Ali yang cantik), Eileen, Susan, dan entah siapa lagi. Mana yang tidak seksi, cantik, menggiurkan, menggairahkan?

Pantai Lovina memberiku kehidupan dan penghidupan. Mula-mula aku berkeliaran di pantai, dan mereka itu menyebutku sebagai the beach boy sebagaimana sejumlah temanku yang sering juga berkeliaran di situ. Tapi aku lebih beruntung tentunya, sebab aku bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Aku membaca literatur tentang Bali, dan adat serta budaya adalah adatku dan budayaku. Jadi, dengan leluasa aku dapat bercerita dan berdiskusi tentang berbagai masalah yang berhubungan dengan Bali.
Aku tak pernah minta imbalan atas apa yang aku lakukan, dan biasanya aku menerima beberapa gelas bir atau sepiring makanan sebab aku menemani mereka ngobrol dan tampaknya mereka punya iktikad baik untuk mentraktirku. Bila mereka bertanya, apa kerjaku, aku selalu mengatakan, aku penganggur, dan tak seorang pun yang percaya.

Lalu aku menawarkan diri mengantar mereka ke air terjun Gitgit, ke biara Buddha di Banjar Tegehe, ke Gedong Kirtya, perpustakaan lontar peninggalan budayawan Belanda itu, ke Pura di Sangsit melihat ukiran yang menggambarkan seorang lelaki naik sepeda, ke Pura Meduwekarang di Kubutambahan, atau berenang di kolam air panas desa Banjar. Lalu mereka memberiku ongkos sebagai guide. Padahal aku bukan guide. Di Lovina istilah guide dianggap tabu sebab mirip kata gaet, yang tak enak di telinga. Mula-mula Putu Kusuma Wijaya menyebutnya kiper, sebab kami Cuma ngiperi saja. Tetapi lama-kelamaan istilah the beach boy lebih dikenal. Ini bikinan turis, entah siapa, tetapi tampaknya semua orang dapat menerima istilah itu.

Setelah membayar ongkos, biasanya aku masih ditawari makan malam yang tentu saja tidak pernah aku tolak. Aku mula-mula tidak mengerti apa makna tawaran makan malam. Kalau aku menginap di desa, tawaran makan malam adalah tawaran makan malam. Lama-kelamaan aku belajar bahwa tawaran makan malam punya makna ikutan, yakni, sesudah makan malam apa. Dan aku sampai sekarang menikmatinya.

Sudah berapa tawaran makan malam dari siapa-siapa saja sudah aku terima dan aku jalani. Dan salah satu hasilnya adalah rekening bank, langganan e-mail, HP, dan lain-lain. Aku hanyut dalam kecipak yang berubah jadi debur ombak pantai Lovina. Di sebuah restoran yang langsung menghadap ke laut di pantai Bina Ria, di sebelah barat patung ikan lumba-lumba, aku sering makan malam, dengan Susan, dengan Caroline, dengan entah siapa. Dan kecipak ombak menjadi debur dalam hatiku ketika aku mengantar mereka seorang demi seorang pada malam yang berbeda-beda kembali ke kamar, bisa ke Angsoka atau ke tempat lain. Pak Nyoman bila melihatku cuma tertawa dan tak mau ikut campur. Pernah aku dengar, bagi Pak Nyoman pemilik hotel itu, urusan tamu adalah urusan tamu. Dia tak boleh ikut campur. Tapi, kalau sampai terjadi sesuatu pada tamu yang menyebabkan dia complain, maka dia akan turun tangan dan minta maaf.

Pernah tamunya merasa terganggu sebab melihat ada yang mengintipnya dari balik tembok, padahal dia sedang bermesraan dengan pacarnya. Langsung dia dilabrak, dan langsung Pak Nyoman minta maaf untuk kesalahan itu, dan langsung menawarkan menginap gratis sampai kapan pun. Bagi Pak Nyoman, memberi penginapan gratis tak akan menyebabkan hotelnya bangkrut. Kerugian besar akan datang bilamana berita itu tersebar dari mulut ke mulut dan turis batal menginap di tempatnya. Mungkin jumlahnya puluhan, atau bahkan ratusan.

Hasilnya malahan mencengangkan. Turis itu setiba di tanah airnya mengirim ucapan terimakasih dan souvenir untuk Pak Nyoman.

Kecipak ombak pantai Lovina menjadi debur dalam hatiku. Itu pada saat-saat awal. Lama-kelamaan aku biasa menangkap kecipak dan memeliharanya sebagai kecipak. Tak ada lagi debur dalam hatiku, semuanya tetap kecipak yang takkan meruntuhkan dinding perasanku.

Ada yang tetap mengingatku dan mengirim e-mail ke buduh_kasmaran@lovemail.com. Ada juga yang mengirim sms ke HP-ku. Tetapi lebih banyak lagi yang tak kembali lagi ke Lovina apalagi kepadaku. Mungkin bagi mereka semua sudah berlalu. Malam di Lovina hanyalah satu malam kecil yang tak berarti. Mereka tak pernah meninggalkan hatinya di pasir Lovina, di kamar hotel di Lovina.

Aku mencoba menghitung berapa orang yang lupa dan berapa yang ingat. Dua atau tiga orang mengingatku, dan kadang kembali ke Lovina, kuajak berkeliling ke sejumlah obyek wisata, makan malam, dan ke kamar hotel. Tapi tak seorang pun yang pernah bicara soal keluarga. Aku adalah tempat persinggahan, bagaikan halte bemo yang jarang dipakai.

Malam ini aku kembali ke pantai Lovina. Di warnet kubuka e-mail, dan ternyata banyak surat masuk. Kebanyakan ternyata iklan, sebab lebih dari sebulan aku memang malas membukanya. Di antara iklan itu aku menerima tiga buah surat dari Susan, Stephanie, dan Angela. Mereka memberi kabar gembira, tetapi tak begitu menggembirakan hatiku. Trio yang tak pernah saling bertemu ini sekarang menjadi trio yang memusingkanku. Ketiganya datang besok malam dengan penerbangan yang sama. Ketiganya minta dijemput dengan taksi dan ketiganya ingin langsung menuju Lovina. Urusan biaya tentu aku tak usah memikirkannya. Aku bisa naik Izusu ke terminal Ubung di Denpasar, lalu naik bemo2 ke terminal Tegal, dan naik Izusu lagi Jurusan Tuban. Baru aku pesan taksi ke Lovina. Tetapi, bagaimana membagi diriku ke dalam tiga buah taksi? Atau ketiganya kunaikkan saja satu taksi dan aku duduk di depan di sebelah supir? Dan apa yang terjadi sesudah makan malam?

Aku tak tahu. Persoalan kecil seperti itu tak bisa kupecahkan. Berapa kali ketiga perempuan itu ?kuhancurkan di tempat tidur? sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair? Lalu, apa yang terjadi pada diriku? Semua aman-aman saja? Aku tak pernah ke dokter. Di restoran di tepi pantai, dengan sebotol bir dan gelas kosong, aku memandang jauh ke laut. Lampu-lampu nelayan tersebar sepanjang garis pantai, sedangkan kecipak ombak masih berupa kecipak. Aku ingat apa yang tertulis di banyak spanduk dan baliho. Bali bebas narkoba. Say no to drugs. Cegah teroris masuk Bali. Pasti ada hubungannya dengan bom. Aku banyak membaca dan mendengar, tetapi tak banyak terlihat spanduk: Bali bebas AIDS.

Aku teringat Komang, Komang Dewiku yang bagikan mainan gelas. Bagaimana kalau tubuhku sudah keropos dan diincar maut? Apakah aku harus menjemput Susan, Stephanie dan Angela? Aku sangat rindu pada Komang. Dan sekarang aku meneleponnya.****

Singaraja, 21 Agustus 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *