Ibu, Kematian, dan Aku

Maria D. Andriana
http://www.sinarharapan.co.id/

Ia terbaring di atas kasur yang mengeras dan lembap oleh keringatnya. Matanya hitam dan cekung. Hanya mata hitam itu yang membuat wajahnya tampak hidup, sementara seluruh tubuhnya kurus dengan kulit kering yang seakan hampir terkelupas. Ia tampak renta dan tak berdaya. Ibuku, perempuan yang seharusnya kusayangi dan kuratapi penderitaannya.

Melihat tubuhnya yang lunglai, bibir hitam dan keriput yang tidak lagi mampu menerjemahkan isi hati dalam bentuk kalimat, seharusnya membuatku prihatin atau menangis.

?Sudah berbulan-bulan ibu begini. Tubuhnya penuh lecet ,? kata Dinda, suaranya lebih halus dari getar kipas angin yang mengaduk-aduk udara di dalam kamar.

?Ada Mbak Win, ibu ingin ketemu toh?? Dinda membisikinya. Mata cekung yang hitam itu menatapnya tajam tetapi tanpa makna. Mungkin ia bahkan sudah tidak bisa mendengar apalagi memahami kata-kata Dinda. Tubuhnya usang, cuma seonggok daging yang bernapas. Aku terganggu oleh bau kamar yang tidak sedap, berbaur dengan bau obat, karbol, keringat, minyak kamper bahkan bau kencingnya.

Ibu pasti sudah tidak mencium bau-bau busuk itu, atau dia tidak berdaya membiarkan bau-bau yang menguap dari tubuh dan sampah tubuhnya, dari pori-pori tembok, dari lantai bahkan mengambang turun dari langit-langit kamar. Jika ia sadar, pasti marah-marah dan mengusir bau-bauan itu.

Ia pesolek yang mencintai bau harum. Botol wewangian berjajar di meja riasnya, buatan lokal dan impor dalam bentuk dan warna-warni aneh, kuntum mawar, malaikat, botol bulat, botol panjang, gelasnya yang bening, hijau gelap hingga yang berwarna jingga menyala dengan tutup berwarna emas imitasi. Aroma parfum yang wangi itu membangkitkan kenangan menyakitkan. Ketika aku memecahkan salah satu botolnya, ia memukuli pahaku seperti tukang masak menggebuk daging untuk empal. Ibu sangat cermat merawat kulitnya agar lembut, lembap, bersih, awet muda dan membuatnya cantik.

Itu dulu. Kini ia cuma perempuan renta menanti ajal, yang kulitnya penuh bercak kecoklatan dan berkerut. Tetapi matanya hitam tetap hidup.

Sudah sepuluh tahun ia berhenti merawat tubuhnya, berhenti bersolek juga berhenti mengomeli orang lain untuk bersolek. Sepuluh tahun yang tidak kulewatkan bersamanya. Tubuh molek, laki-laki, uang dan kenikmatan hidup, menjadi siklus yang merayapi detik-detik dan setiap tarikan napasnya.

Ibuku lahir dari keluarga kaya hasil kerja keras kakeknya, seorang pedagang emas. Di masa muda ia bergelimang harta dan kemewahan. Kini hidup hampir berakhir baginya. Ibarat panggung sandiwara menurunkan tirai beludru berumbai-rumbai, menyimpan gegap gempita tepuk tangan penonton, lalu berakhir dalam kebisuan.

Ia mengerang dan menggerakkan tenggorokannya naik turun. Dinda menawarinya minum. Sari buah tomat yang disiapkan dalam gelas tinggi dengan sedotan yang berkerut-kerut di bagian atas untuk membengkokkannya. Ia menyedot dengan lemah sehingga air tomat itu naik-turun memasuki mulutnya. Setelah beberapa tegukan, ia melemparkan ujung sedotan dengan lidahnya. Mata hitamnya memandang Dinda dengan mesra. Ibu tidak pernah menatapku seperti itu. Tidak juga saat ini, 15 tahun setelah aku meninggalkan rumah.

Pernikahannya yang pertama kandas di tengah jalan ketika aku masih minum susunya. Ia mendendam pada suaminya lalu melampiaskan padaku. Baginya, diriku hanyalah sebuah kenangan buruk yang terpaksa harus dipelihara dalam penderitaan Ia masih muda dan biasa hidup mapan. Ibu menikah kembali ketika aku berumur lima tahun, lalu punya tiga anak lagi dan hidup bahagia. Aku ikut merasakan kebahagiaan itu dari Om Her, ayah Dinda. Namun ibu merusak semua kebahagiaan kami ketika tiba-tiba ia mengusir Om Her dan memasukkan Om Ron si kumis ke rumah kami. Adik-adik baru lahir lagi sehingga kami menjadi tujuh bersaudara. Om Ron gemar berjudi. Kekayaan warisan dan peninggalan dua suaminya terdahulu, hilang perlahan-lahan seperti air yang meresap ke dalam gundukan pasir. Ibu mengusir Om Kumis, ayah dari tiga adikku itu, di saat kami hampir tak memiliki apa pun.

Lalu ibu semakin bersolek. Hidup yang indah baginya adalah berkelana dari satu tempat ke tempat lain, memakai baju indah, mengguyur tubuh dengan parfum dan menemani pria-pria yang melimpahinya dengan uang dan kesenangan. Sebagai anak sulung, adalah menjadi tugasku mengurus enam adik, memasak, bahu-membahu mencuci baju, mengepel. Ibu tak mampu membayar pembantu-pembantu lagi, tetapi Mbok Nah tetap setia memelihara kami. Mbok Nah mengajak kami memasak dan menjual nasi bungkus yang kami bawa ke sekolah. Mbok Nah mencari nafkah bagi kami. Adik bungsu yang lucu, Awan, tak mampu menjalani penderitaan dan ia meninggalkan kami untuk selama-lamanya ketika masih berusia enam tahun.

Kami harus menghadapi kenakalan Gunung. Ia adalah si pencuri kecil yang dibenci para tetangga. Pencuri kecil tetapi adikku, anak Om Kumis. Barangkali ibu benar, ayah yang jahat menurunkan bakat jahat pada anak-anaknya, seperti kejahatan yang kuwarisi dari ayahku dan kejahatan pada Gunung, Anda dan Awan. Tetapi Awan masih bocah kecil dan bukan penjahat. Ia meninggal karena kejahatan ibu yang menelantarkannya. Di mata perempuan itu hanya Dinda, Cinta dan Agung yang anak baik-baik.

Ibu sering menyesal mengusir Om Ron. Kini Om Ron sudah menikah lagi dan mempunyai seorang anak gadis bernama Menik yang usianya sebaya dengan Anda. Om Ron sering ke rumah untuk menemui anak-anaknya. Ia tidak pernah membiarkan aku cemburu dan merana. Ia selalu mencium kening dan memelukku seperti seorang anak kandung. Semakin dewasa aku semakin canggung menghadapinya, meskipun aku mencintai Om Ron seperti Dinda yang mencintainya. Di mataku dia ayahku juga.

Ibu tidak juga pernah mau memperkenalkan ayah kandungku. Namanya, Suryo, kuketahui dari para kerabat. Tetapi tidak seorang pun yang mengetahui di mana pria bernama Suryo itu berada dan mengapa ia meninggalkan ibu. Apakah dia penjahat, apakah ia berada di dalam penjara, ataukah ia sudah mati? Semua gelap, hanya Suryo yang kupunya. Suryo yang tidak bersinar, Suryo yang kelam dan dingin. Airmata yang menetes semakin membuat anyep nama Suryo. Tetapi aku ingin memakainya, maka namaku menjadi Winda Suryo, seperti yang selalu kutulis di buku-buku, benda-benda milik pribadi, KTP dan akte kelahiran yang baru kuurus sendiri setelah aku mandiri. Sepotong nama itu sajalah identitas bahwa aku punya ayah yang tidak pernah kuingat wajahnya, suaranya apalagi baunya. Hanya bau Om Ron yang kukenang, atau bau Om Kumis yang beraroma bir dan tuak.

Ketika aku genap berusia 16 tahun, aku hanyalah sosok kecil yang ditukar Ibu dengan rupiah dan kesenangan.

?Percayalah, kau akan terbiasa dan nanti senang. Hidupmu akan enak,? ujarnya ketika melihatku menangis, sesaat sebelum meninggalkan rumah. Aku kehilangan ibu dan enam adik. Kehilangan rumah besar tempat kami bernaung. Adik-adik menangis, Dinda dan Anda mencengkeram lenganku dengan berurai air mata. Mata-mata mereka yang basah itu penuh cinta, juga tangan-tangan mungilnya yang hangat, yang menggetarkan rasa cemas akan sesuatu yang baru. Adik-adikku menahan tangis, juga Mbok Nah. Aku tak bisa menghibur mereka karena aku lebih takut dari mereka. Pria yang harus kupanggil Pak Ham menggenggam tanganku dengan senyum seperti serigala hendak menerkam mangsa, persis seperti tontonan film kartun kegemaran Agung dan Awan. Ibu tersenyum puas menyelipkan amplop di antara buah dada dan kutangnya.

Bagi Pak Ham, aku adalah boneka mainan yang bisa dipoles dan ditempeli pernak-pernik agar semakin cantik. Aku disimpan dalam sebuah rumah, dilengkapi pembantu dan dilimpahi uang. Aku menjadi seperti ibu yang kubenci. Aku terbiasa menerima pandangan cemooh para tetangga dan menjalani hidup seperti itu selama tujuh tahun, sampai serangan jantung merenggut nyawa Pak Ham.

Anak laki-lakinya mengunjungiku, memperkosa, mengumpat dan menyanjung. Sekali lagi aku menjadi boneka. Perlakuan pria ini berbeda dengan ayahnya yang lembut. Ia benar-benar hanya menyenangkan dirinya sendiri. Wajahnya selalu mencemooh, senyumnya merengek dan desah napasnya berbau busuk. Aku memutuskan lari dari rumah itu, menjual semua perhiasan dan menabung di bank. Tidak ada lain yang terpikir kecuali mencari nafkah sebagai pembantu, di kota besar yang jauh dari tempat lahirku.

Mengubah nasib bukan pekerjaan mudah. Untuk bisa sekadar menjadi pembantu saja tidak ternyata tidak mudah. Kerja keras aku bisa, pekerjaan rumah aku terampil, bertata krama dengan majikan aku bisa diandalkan. Tetapi, aku terjerembab juga dalam kubangan yang sama. Banyak pria lebih suka menjadikan diriku sebagai penghibur. Uangku makin bertumpuk, tetapi kubangan yang pekat tak juga mampu kutinggalkan. Terakhir aku bekerja sebagai pembantu tukang masak di warung makan. Pekerjaan ini membuat mataku terbuka dan semangatku menggebu untuk merintis usaha membuka warung sendiri. Tetapi aku memang perlu seorang pria sebagai pendamping hidup, dan mereka mengantri datang padaku dengan kasih yang semu, dengan emas-permata dan baying-bayang ibuku telah melekat erat pada diriku.

Baru dua tahun terakhir aku berani menyurati Dinda sekadar mengirim kabar dan meminta kabar. Sebagian adik-adikku telah berumah tangga, punya anak tetapi kabar sedih kuterima tentang Gunung yang meninggal akibat narkoba juga tentang Ibu yang renta, berpenyakitan. Tetapi cerita Dinda tidak pernah menggerakkanku untuk pulang menengok ibu yang sakitsakitan. Sakit hatiku terlalu dalam dan meninggalkan luka menganga. Rasanya aku tidak sanggup untuk melihat ibu apalagi memaafkannya. Mendengar kabar keselamatan adik-adik saja sudah cukup membuatku senang dan merasa memiliki keluarga.

Mata hitam ibu menatapku kosong. Ia tidak berucap sepatah kata pun sejak aku datang. Kebisuan itu merayap dan aku mulai ragu akan kebencianku padanya. Ia perempuan yang melahirkan dan menyusuiku, meskipun kemudian menjualku.

Seluruh anak ibu berkumpul, mungkin karena kehadiranku, tetapi juga mungkin karena telepon Dinda yang mencemaskan keadaan ibu. Sudah dua hari ini ia tidak mau makan dan kami memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.

Kecuali Gunung, semua adikku berjuang menyelesaikan sekolah, bekerja dan menikah baik-baik. Mungkin memang aku yang ditakdirkan bernasib serupa ibu, menjadi perempuan molek pemuas laki-laki.

?Kami berjuang dan menangkis kutuk atas dosa ibu,? kata Anda. Ia tidak sadar bahwa kata-katanya seperti minyak panas yang tumpah di dadaku. Mereka tidak pernah bertanya, apakah aku ini, di mana dan bagaimana aku mencari nafkah. Mungkin mereka justru tahu, tiada guna menanyakannya padaku. Cara dandanku mungkin sudah membuat mereka mahfum.

Ibu mendapat infus. Napasnya yang berat diringankan oleh oksigen yang tersalur lewat slang palstik bening yang menembus lubang hidungnya. Kamar rumah sakit menjadi sesak oleh napas-napas kami, bau tubuh ibu, bau obat, dengung tangis seperti lebah terbang mencari madu dan lampu kamar yang suram menyembunyikan kesepian hati.

Aku melongok ke dalam hati kecil. Jika ibu tidak menjualku, mungkin aku bisa menyelamatkan Gunung, mungkin hidup kami akan lebih baik. Tetapi marah yang paling membara adalah karena ibu tidak pernah memberitahu keberadaan ayahku. Saat ini ibu sudah sangat lemah, tidak mungkin mampu mengingat dan memberitahu rahasianya yang paling dalam, tentang Suryo suami pertamanya dan ayahku.

?Mbak, maafkanlah ibu, biar lapang jalannya. Tidak baik mendendam. Ajalnya sudah dekat,? kata Agung dengan mata berkaca-kaca.

?Cuma Mbak Winda yang belum memaafkan ibu dan perlu Mbak tahu, rasa sesal ibu sangat dalam. Ia sakit bertahun-tahun karena kehilangan jejak Mbak dan papa, Mbak,? Dinda menambahkan.

?Dari mana kalian tahu??

?Beberapa bulan lalu ketika ibu masih bisa bicara, ia mengatakannya pada Winnie, anakku yang mirip dengan Mbak Win. Ibu bilang bahwa ibu sangat sayang pada Mbak Win dan merasa bersalah menikahkan Mbak dengan Pak Ham. Ibu ingin menebus semua dosa itu.?

Aku menatap ibu yang menarik napas panjang satu-satu-satu, kakinya mulai dingin, gejala yang sering terjadi pada orang yang akan melepas ajal.

Ke mana arwahnya pergi kelak? Adakah surga memang ada? Akankah ibuku masuk surga? Apa yang akan terjadi jika aku tidak mengampuninya? Ibu terbatuk dan mengeluarkan dahak kental, dari hidung dan telinganya meleleh darah merah. Adik-adik dan cucu ibu panik memanggil perawat untuk menangani ibu. Mereka semua menangis tersedu-sedu, kecuali aku yang merasa sebagai orang asing.

Tiba-tiba aku teringat pada satu kenangan manis masa kecil, satu-satunya kenangan yang kuingat, ketika aku dan ibu kehujanan pada suatu siang. Ibu menggendongku dan membelikan kue pisang yang hangat. Ia mengusap kepalaku yang basah kuyup dan menyuapkan kue pisang dengan mesra. Itu memang satu-satunya kenangan indah bersama ibu yang selama ini tidak pernah kuusik karena takut terkoyak oleh kenangan pahit yang kemudian datang beruntun. Mata ibu yang saat itu mesra dan wajahnya yang cantik, kini kucari-cari di wajah tua dan sakit itu.

Kudekati ibu dan kubisikkan kata maafku.

?Ibu, Winda mengerti semua kesulitan ibu, juga kemarahan ibu pada ayah. Winda sudah melupakan semuanya serta memaafkan ibu. Winda senang bisa bertemu lagi dengan ibu untuk mengatakan semua ini. Jika sekarang ibu ingin pulang, ibu tidak usah memikirkan kami. Saya akan menggantikan ibu mengurus adik-adik. Maafkan Winda juga papa Suryo.?

Terdengar adik-adik dan keponakan menangis tertahan-tahan.

Mata ibu basah dan menatap tanpa daya. Agung mengusap air matanya. Napas ibu semakin jarang dan panjang. Jemarinya menggenggam erat tanganku, telapaknya, basah berkeringat. Pegangannya melemah. Ibu memejamkan mata, menarik napas terakhir. Ia menyentakkan tangan dan kaki, gerak reaktif meregang ajal seiring tangisan kami. Ibu berpulang. Bukan hanya ibu yang meninggalkanku tetapi juga rasa marah, sedih dan dendam.

Maafkan aku ibu, sudah tiga anak yang tak kuizinkan lahir, karena aku tak mau mereka bernasib sama dengan kita.

2 September 2003

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *