Manusia Ironi dan Jalan Peziarahan

Judul : ?The Road?
Penulis : Cormac McCarthy
Penerjemah : Sonya Sondakh
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetak : 2009
Tebal : 264 Halaman
Peresensi : Bandung Mawardi*
http://www.lampungpost.com/

AMERIKA Serikat suatu hari hancur dan merasai derita panjang tanpa ada juru selamat. Manusia-manusia di negeri besar itu merana untuk memilih hidup atau mati. Ikhtiar hidup mesti dijalani dengan perjalanan panjang dan melupakan air mata karena fakta-fakta siksa dan kehancuran. Pasrah untuk mati juga harus dialami dengan nostalgia dan mimpi buruk. Amerika memang hancur tapi masih memberi jalan untuk orang mencari diri. Jalan menjadi tanda gerak sejarah dan keruntuhan impian masa depan.

Novel The Road merupakan jagat ironi Amerika Serikat dalam narasi puitis dan miris. Tokoh ayah dan bocah lelaki terus mengantarkan pembaca pada fragmen-fragmen gelap mengenai jalan sebagai ruang hidup dan afirmasi terhadap luka atau derita. Cerita bergulir di jalan dengan sekian peristiwa rutin dan kejutan-kejutan. Rutinitas dilakukan dua tokoh itu dengan mendorong kereta berisikan pakaian, makanan, selimut, sepatu, dan benda-benda. Kereta adalah tempat segala simpanan untuk memastikan diri masih memiliki bekal dan piranti hidup.

Cormac McCarthy seperti menampilkan kengerian dalam aliena-alinea lembut tapi menyakitkan. Pembaca mungkin lekas lelah ketika menikmati halaman-halaman novel ini karena kerap menempatkan adegan tokoh di jalan. Informasi tentang kondisi jalan sebagai ruang teros memang diberikan tapi menjelma rasa sakit tak tertahan. Peralihan waktu dari pagi, siang, sore, malam tak memberi kelegaan. Cerita selalu muram dengan sedikit dialog dan impresi-impresi mengenai masa lalu dan keinginan meloloskan dari dari takut akut. Jalan membuat pembaca sadar atas panggung derita.

Jalan-jalan di kota-kota Amerika Serikat menjelma trauma dan kuburan untuk para korban. Amerika hancur tanpa pengarang eksplisit menyebut penyebab primer: bencana alam, perang, atau “kiamat teknologi”. Kematian dan kerusakan memang mengensankan Amerika ada dalam mimpi buruk dan berkebalikan dengan utopia menjadikan dunia sebagai tempat memanjakan diri. Deskripsi tentang manusia pada novel itu eksplisit menunjukkan ketidakmampuan mengatasi fakta-fakta menyedihkan.

Inilah getir atas manusia dan kota: “Hampir seluruh kota itu terbakar. Tak ada tanda kehidupan. Mobil-mobil di jalan tertutup debu. Semuanya berselimut abu dan debu. Sisa fosil di endapan kering. Jasad di pintu masuk mengering tinggal kulit. “Deskripsi-deskripsi lain semakin menjelaskan luka kota. Kondisi jalan terus dijadikan pusat cerita untuk memandang sekian kisah tragis dan ironis. Jalan juga jadi tempat untuk memainkan lakon keseharian untuk menengok masa lalu, rumah, perempuan, keluarga, atau pekerjaan. Jalan tanpa awal dan akhir tapi memaksa orang menempuhi dengan sadar kematian. Hidup memang pantas dijalani kendati malaikat maut terus saja menyapa.

Novel pemenang Pulitzer Prize 2007 ini tak menampilkan hero. Manusia-manusia jadi pesakitan untuk menyelamatkan diri dari cengkraman bayang kematian. Si ayah tampil sebagai pemberi pesan hidup untuk si bocah. Segala kata dan makna diterima si bocah dengan ngungun dan samar. Hidup memang ganjil. Manusia harus menempatkan diri dalam posisi paling mungkin untuk tak jatuh dan merana. Si ayah pun merampungi hidup di batas akhir perjalanan tanpa warisan. Wasiat telah diberikan sejak perjalanan ditempuhi dengan sakit dan luka.

Si bocah tak ingin jauh dari si ayah. Kematian telah memaksa ada perpisahan. Si bocah menangis dan menjanjikan bakal mengenang alias tak mungkin melupakan si ayah. Si bocah itu beruntung karena ditemukan oleh orang lain. Si bocah diberi pilihan: ikut dia atau tetap bertahan meratapi si ayah. Si bocah memilih pergi meninggalkan mayat si ayah untuk meneruskan perjalanan. Si bocah itu pun perlahan dikenalkan oleh seseorang tentang Tuhan. Si bocah itu mencoba bicara pada Tuhan tapi yang terbaik adalah bicara pada ayah dan ia memang bicara padanya dan tak lupa. Ziarah belum berakhir karena si bocah harus merumuskan hidup dalam versi lain usai perpisahan dengan si ayah. Begitu.

*) Peneliti Kabut Institut Solo dan Pemimpin Redaksi Jurnal Tempe Bosok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *