Nuditas-Seksualitas, Sastra dan Islam

Lukman Asya
http://www.infoanda.com/Republika

laksana ego yang terkikis kematangan ombak
Kau telanjangi kebetinaanku selapis demi selapis
dan seutuh purnama itulah akhirnya
Kau jinakkan birahiku yang asma
mari, singkap lagi tarian purba nirwana itu
seperti ketika Kau lilit aku dalam cumbu paling nyata
ini aku merak betinaMu, datang lagi
dihantar gending jawa juga wewangian sukma
menyebutMu di perbatasan tirai malam.

Bait-bait puisi yang ditulis oleh Rukmi Wisnu Wardhani (Republika, 16 Juli 2006) telah ‘menginfiltrasi’ saya untuk menulis ihwal nuditas-seksualitas dalam sastra dan bagaimana pandangan Islam tentangnya.

Bertebarannya novel, cerpen dan puisi yang memaksimalkan daya jelajah terhadap nuditas-seksualitas menarik untuk dicermati dari perspektif moralitas Islam. Karya-karya semacam itu, khususnya puisi, secara cermat dapat kita telusuri secara historis sejak masa pra-Islam sampai kemudian Islam datang menawarkan estetika baru lewat ‘puitika Qurani’-nya.

Kalangan intelektual Muslim, seperti Israrul Haque, telah menyoroti secara lebih luas ihwal seni dalam Islam dan bagaimana Alquran secara rasional menawarkan suatu pandangan terhadap nuditas-seksualitas itu dengan merevolusi makna seks pada tataran paradigmatis dan dogmatis.

Islam berupaya memenej jagat makna yang telah dikacaukan oleh semangat jahiliyah dimana kebebasan dielu-elukan tanpa mengindahkan nilai-nilai ruhaniah. Islam menawarkan estetika baru mengenai nuditas-seksualitas. Artinya, Islam tidak mengingkari ihwal nuditas-seksualitas itu tapi menempatkannya dalam porsi yang sepenting-pentingnya bagi moralitas manusia.

Nuditas-seksualitas, yang pada masa pra-Islam hanya seputar tubuh manusia, oleh Islam dibawa ke tingkat yang spiritual. Islam menempatkan seksualitas sebagai sumber kehidupan dan kreativitas sebagaimana diungkapkan Israrul Haque dalam bukunya, Towards Islamic Renaissance Ferzosenoedisi Indonesianya berjudul Menuju Renaissance Islam (Pustaka Pelajar, 2003).

Inti ajaran Islam adalah akhlak, sebuah ajaran tentang tata nilai dan sosial yang memungkinkan kita mengetahui dengan gamblang bagaimana awal dan ujung sebuah benang kusut demoralisasi peradaban. Islam adalah kabar gembira yang disampaikan melalui ‘syair-syair’ yang paling ‘sastrawi’ yakni ayat-ayat Alquran, yang menjadi penerang bagi qalbu yang gulita.

Islam, dengan Aqurannya, secara metaforik memberikan bimbingan ruhani terhadap soal-soal nuditas-seksualitas manusia:
Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu dengan cara yang kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemuiNya (QS 11:233).

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS 30:23).

Islam datang dengan konsep dan prinsifnya menyoroti estetika seksualitas yang ditempatkan pada level spiritual, tidak pada kemasan fisik. Seksualitas ditempatkan sebagai stimulus terbinanya ketentraman, kedamaian dan kasih sayang. Maka ada sebuah aturan main yang tegas bagi manusia yang diberi akal, hati dan birahi agar tidak keluar dari zona moralitas keislaman. Tujuan dari seksualitas itu, sebagaimana tersirat pada dua ayat di atas, memungkinkan semua orang berada dalam lingkup kedamaian dan ketaatan.

Seksualitas pra-Islam begitu carut-marut, bahkan tubuh dan nuditasnya telah dipuja sebagai bentuk yang paling terpuji untuk ‘wisata birahi’ yang menjerumuskan kemanusiaan ke dalam perilaku binatangisme –a pola pikir dan akal sehat manusia dikemudikan oleh kehendak ‘seks bebas’ semata sebagai bentuk kesenangan tanpa hukum dan aturan main yang mencerahkan.

Ada penyair pra-Islam, seperti Imru’ul Qays, yang karya-karyanya diakui keorisinalitasan dan kejeniusannya tetapi ternyata dikutuk oleh Nabi sebagai pemimpin penyair di dalam api neraka, karena kecabulan dan nuditas dalam karya-karyanya yang sangat pornografis.

Kita pun dapat membaca setelah Islam dilahirkan, bagaimana nuditas-seksualitas itu diproduksi, di jagat sastra dan seni rupa, tak lebih sebagai bentuk pengabdian untuk memperturutkan hawa nafsu dan kesenangan. Dalam seni rupa, misalnya, Picasso dengan Three Dancer-nya, Henry Matisse dengan Carmila-nya. Dalam sastra ada novelis DH Lawrence dengan Rainbow-nya, dan Sadat Hasan Minto dengan Thanda Ghost-nya yang konon sangat cabul dan melukai moralitas kontemporer.

Jauh sebelum masa Islam, Plato dengan filsafatnya pernah mengatakan bahwa segala sesuatu yang menimbulkan nafsu atau sensualitas yang penuh birahi sekalipun didasarkan atas nilai-nilai estetis tidak dikualifikasikan sebagai sebuah karya seni. Dia menegaskan bahwa sebuah karya seni harus mempertimbangkan kebaikan tertinggi dan menjadikan manusia sebagai seorang warga negara cita dalam negara citanya.

Tolstoy, sastrawan termashur yang datang pasca-Islam, juga mengatakan bahwa seni seharusnya memperkembangkan manusia dengan emosi moral dan agama yang mendalam, bebas dari kesembronoan duniawi dan pemborosan jasmaniah. Karya seni yang sejati bergerak bersama-sama dengan emosi yang diwujudkan oleh seniman dalam karyanya dalam bentuk suatu kepercayaan pada agama universal untuk terciptanya persaudaraan manusia.

Ada juga penyair terkenal dari Asia Timur, Suchchal Sarmas, yang puisi-puisinya diilhami oleh roman antara pemuda dan pemudi yang begitu indah tanpa menggambarkan bentuk fisik dimana keindahan dan kemanisan cinta bukanlah keindahan dagingnya atau kemanisan penampilannya. Ia adalah keindahan dan kemanisan yang berasal dari kesetiaan yang tulus, dari penderitaan-penderitaan yang ikhlas dan dari pengorban yang luar biasa. Cantiknya Des Demona dalam Othello karya Shakspeare juga bukan kecantikan dan kejelitaan daging manusia. Tapi adalah hadiah yang luar biasa berkat penderitaan dan kepolosannya.

Di kalangan sahabat Nabi ada penyair yang layak dipuji, seperti Zuhair, Hasan ibn Tsabit, Kaab ibn Malik dan Labid, berkat karya-karyanya yang menyentuh sisi-sisi kemanusiaan tanpa harus berkubang dalam pesona nuditas-seksualitas. Labid bahkan pensiun jadi penyair manakala keindahan Alquran sungguh menyapa hati dan hidupnya. Siti Aisyah juga gemar membuat syair-syair, yang mengandungi nilai seni yang sangat tinggi dan benar-benar adi luhung.

Sedangkan puisi karya Rukmi di atas tampaknya mengandungi ruh ‘seksualitas’ dan motif ‘nuditas’ sebagai bentuk kesalehan spiritual, hubungan makhluk yang hamba dengan khalik yang mahamencipta yang juga serba mahatahu — meski semula mungkin puisi Rukmi itu diproduksi dari pengalaman (penghayatan) seks antar manusia lawan jenis.

Majas identitas yang dioperasionalisasikan Rukmi di atas memang terasa vulgar. Tapi itulah yang barangkali menjadi salah satu kekuatan pengucapan estetik dan kelihaian penyair dalam mengolah tema meski puisi jadinya terasa semacam permainan kata-kata: belum sampai sebatas Rabiah.

Tapi, saya kira dengan begitu Rukmi tengah berusaha melakukan pemaknaan terhadap sesuatu yang semula bersifat fisikal kemudian dibawanya ke alam cinta ilahiah: kesalehan spiritual! Nuditas-seksualitas pada akhirnya memang akan membawa kita pada dua hal, yakni hidup menjadi hina atau hidup tambah mulia!

*) Penyair dan guru sastra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *