Orang Jawa di Suriname 120 Tahun Lalu

Noor Aini Prasetyawati
http://www.jawapos.com/

TEPAT 9 Agustus, 120 tahun lalu, orang Jawa untuk kali pertama menginjakkan kakinya di Republik Suriname, Amerika Selatan. Mereka dibawa oleh penjajah Belanda dengan kapal selama tiga bulan untuk dipekerjakan sebagai kuli kontrak di perkebunan tebu selama lima tahun. Dalam kenyataannya, sebagian besar dari mereka tak bisa kembali ke Indonesia. Mereka dipaksa untuk menetap di Suriname dan menjalani hidup sebagai budak seperti orang-orang Afrika dan India yang lebih dulu didatangkan.

Total ada 32.986 orang Jawa yang bermigrasi ke Suriname selama 1890-1939. Dalam buku The Javanese in Suriname, guru besar antropologi UI Prof Parsudi Suparlan menjelaskan bahwa perusahaan swasta di Jawa milik orang Eropa pada masa itu menugaskan para pencari tenaga kerja (werek) dari kalangan orang Jawa. Para werek itu mendapatkan komisi sebesar 80 gulden untuk setiap orang yang berhasil mereka rekrut. Pada masa itu uang 80 gulden harus diperoleh dari bekerja selama 266 hari bagi seorang buruh yang upah hariannya rata-rata 30 sen. Komisi yang besar tersebut mendorong para werek melakukan segala cara dalam merekrut tenaga kerja, termasuk dengan sihir, tipu daya, dan sebagainya.

Sebagian besar orang Jawa yang dibawa ke Suriname masih muda usia, 15-20 tahun, dan berasal dari kelas rakyat kebanyakan. Oleh karena itu, mereka belum terlibat penuh dalam ritual budaya Jawa. Bahasa Jawa yang mereka kenal adalah bahasa Jawa ngoko. Tidak ada stratifikasi bahasa sebagaimana yang terjadi di Jawa. Bagi orang keturunan Jawa di Suriname, yang penting mereka bisa berbahasa Jawa yang sama dengan leluhur mereka.

Para leluhur dibawa ke Suriname sebelum negara Indonesia terbentuk, sehingga mereka juga tidak mengenal bahasa Indonesia. Hal itu membuat mereka sulit mengakses informasi tentang orang Jawa di Indonesia. Selain itu, mereka semula mengira hanya dibawa ke tanah seberang, yaitu ke Sumatera. Terlebih pada masa itu kesadaran akan ruang dunia masih sangat terbatas, maka mereka tidak menyadari perubahan posisi mereka.

Sebagai gambaran, sesampai di Suriname, sebagian besar orang Jawa tetap salat menghadap ke barat, seperti yang mereka lakukan di Pulau Jawa. Padahal, Kakbah (kiblat) terletak di sebelah timur negara di utara Brazil tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, ada masjid yang menggelar salat menghadap ke timur (arah kiblat yang benar untuk Suriname). Maka, tak heran bila kemudian ada jamaah masjid yang sa?latnya berungkur-ungkuran. Yang satu tetap yakin bahwa kiblat ke arah barat, jamaah yang lain mulai sadar bahwa kiblat yang benar ke arah timur. Kini kedua jamaah dengan keyakinan berbeda itu telah memiliki masjid sendiri-sendiri.

Oleh karena itu, mereka membangun ritual budaya Jawa di Suriname berdasar kenangan mereka atas apa yang mereka lihat dan dengar di tanah Jawa yang belum tentu benar-benar mereka alami. Kenangan akan tanah kelahiran itulah yang dijaga, diyakini, dan diturunkan sebagai ”sesuatu yang Jawa”. Jawa mereka adalah Jawa yang merdeka, yang tidak membedakan Jawa ala Jogja, Solo, Banyumas, Surabaya, dan daerah lainnya.

Meski demikian, kesadaran akan identitas kultural itu mereka teruskan dari generasi ke generasi. Sampai saat ini orang Jawa Suriname masih aktif mengadakan pertunjukan jaran kepang, kabaret, atau pertunjukan sejenis ludruk, dan sebagainya. Pertunjukan yang kental dengan budaya Jawa menjadi salah satu atraksi di Suriname yang diminati wisatawan asing. Tentu saja aktivitas pariwisata itu memberikan hasil positif kepada orang Jawa Suriname. Khususnya dalam hal ekonomi dan ekspresi kebudayaan.

Selain melalui kegiatan pariwisata, mereka mengekspresikan kejawaan mereka melalui lagu dan klip video yang dinyanyikan kaum muda Jawa Suriname dalam lirik berbahasa Jawa dengan irama beraneka genre. Dalam klip video mereka, sebagian besar berkostum kasual dan cenderung seksi (bagi penyanyi perempuan), serta tidak selalu berkebaya, bersanggul atau berbelangkon (bagi laki-laki). Mereka juga menampilkan latar yang beraneka rupa, seperti suasana di perkampungan, di arena balapan motor, di pesta ulang tahun, dan lain-lain. Ekspresi mereka kreatif dan merdeka.

Negara yang dibangun orang-orang dari berbagai ras yang semula sama-sama menjadi kuli kontrak dan budak itu berkembang menjadi negara multikultur yang membebaskan warga negaranya untuk memilih dan mengekspresikan identitas kultural masing-masing. Tidak heran, Marciano, 31, seorang pegawai pemerintah Suriname yang tugas belajar di UGM, yang merupakan keturunan Jawa generasi keempat, dengan bangga menjawab, ”Aku ki wong Jowo Suriname (Aku itu orang Jawa Suriname).” Sedangkan warga keturunan India dengan bangga menyebut dirinya sebagai orang India Suriname.

Mereka juga bebas menggunakan bahasa ibu masing-masing, selain bahasa Belanda sebagai bahasa resmi kenegaraan dan bahasa Taki-Taki/Sranang sebagai bahasa percakapan. Kebebasan orang Jawa Suriname dalam berbahasa juga merupakan salah satu bentuk kemerdekaan mereka di negara yang semula asing. Bob Saridin, 67, pendiri dan Ketua Kehormatan VHJI (Vereniging Herdenking Javaanse Immigratie) atau Perhimpunan Peringatan Pemboyongan Bangsa Jawa, organisasi yang menstimulasi dan melestarikan kebudayaan Jawa di Suriname, mengatakan, ”Jika saya belajar bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, tapi saya kemudian lupa dengan bahasa ibu saya, bahasa Jawa, itu berarti saya tidak belajar apa-apa.”

Orang Jawa di Suriname terus berkembang di berbagai bidang. Kuli kontrak adalah bagian dari sejarah mereka dan kini mereka adalah orang yang merdeka. ”Orang Jawa Suriname sekarang hanya sekitar 15 persen dari total penduduk Suriname saat ini. Saya yakin, saat ini kesejahteraan mereka lebih baik daripada orang Jawa di tanah Jawa. Dulu mereka dikirim Belanda sebagai kuli kontrak, sekarang mereka hidup relatif sejahtera ketika kita mengekspor etnis Jawa sebagai TKI (tenaga kerja Indonesia) dalam jumlah yang lebih dari seluruh jumlah penduduk Suriname. Dengan demikian, siapa yang lebih merdeka sebenarnya?” kata P.M. Laksono, guru besar antropologi UGM, dalam sarasehan bertema Pentingnya Penelitian tentang Suriname di Jogjakarta April lalu. (*)

*) Mahasiswa S-2 antropologi UGM yang sedang mengadakan penelitian untuk tesisnya tentang kaum muda Jawa Suriname

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *