Perjalanan

M.D. Atmaja

Matahari meluncur ke barat, bersama dengan irama jalanan yang sibuk membawa para pekerja melangkah pulang. Ini lah kota yang berirama dalam khas tersendiri. Pagi dan sore, jalanan dipenuhi dengan pekerja yang bertaburan. Sore, pukul empat, seperti terhempaskan semuanya. Orang-orang yang semula berkumpul di dalam lingkaran, akhirnya keluar juga. Hiruk pikuk jalanan direguk habis sang Pendosa yang berdiri terpaku di sebuah perempetan. Jalanan ke selatan penuh. Jalan ke barat juga penuh. Jalan ke utara dan ke timur demikian juga.

Pemandangan sehari-hari, rutinitas tanah Mataram yang terpecah. Sang Pendosa melangkah menuju ke pusat. Hari ini, dia akan meluncur ke barat untuk menjauhi rutinitas yang tidak pernah selesai. Ia berencana meninggalkan rutinitas itu, menempuhi hari bersama dengan perempuan yang dia cinta. Untuk berdiri, memandang ke tengah laut dan mereguk cakrawala. Pernah, ia berharap agar semua kesibukannya berakhir. Yang ada hanya dua manusia, seperti kisah Adam dan Hawa, yang menjalani luasnya kehidupan hanya mereka berdua.

Sang Pendosa menghalangi jalanan yang penuh sesak. ?Enyahlah kalian semua dari muka bumi ini!? teriaknya dalam hati yang sambil disertai dengan gelengan kepala dan senyuman kecil yang merekah. Dia terus melangkah. Tidak menghiraukan kepadatan. Menyelinap. Menemui kekasihnya yang telah menunggu kedatangannya. Sore ini, mereka akan melangkah ke tanah yang jauh. Di paling barat dari wilayah Mataram yang terbagi ini. Dan di sana, seperti yang sang Pendosa inginkan, bahwa mereka hanya akan berdua.

Ketika sang Pendosa tiba di depan gerbang, perempuannya melangkah mendekat. Mata lelaki yang gelap dipenuhi cahaya kekaguman yang tidak pernah padam saat menangkap perempuannya dengan pandangan. Sinar indah itu kemudian merasuk ke dalam jiwa. Namun, sang Pendosa pun menggelengkan kepala. Setiap pesona yang ada, justru menumbuhkan ilalang pertanyaan yang sampai kini belum mampu dia babat untuk dijadikan kerajaan.

?Kita mau kemana, Mas?? tanya Perempuan Pendoa sambil menyuguhkan senyuman yang manis.

?Suatu tempat.? Jawab sang Pendosa dalam senyuman tenang walau di dalamnya dipenuhi dengan gemuruh.

?Selalu tidak punya tujuan, Mas.? Perempuan Pendoa menggelengkan kepala. ?Aku ingin tujuan!? dia menegaskan.

Sang Pendosa menundukkan kepala untuk sejenak, lalu menegakkannya kembali. ?Di mana hanya ada kita berdua.? Ucapnya dalam senyuman yang biasa. ?Kalau nanti di tengah jalan kita tersesat, itu tidak akan berarti.?

?Kenapa, Mas? Kenapa menjadi tidak berarti??

?Kita suami istri. Pendosa memperistri Pendoa. Si Pendoa pun menjadikan Pendosa sebagai suami. Itu sah!?

Sang Perempuan Pendoa menggelengkan kepala. Dia mundur beberapa langkah. Pandangannya terpaku pada tatapan sang Pendosa yang menukik tajam ke dalam relung hatinya. Senyuman itu tenang. Keduanya ketika bercampur terasa bagai kelembutan yang menundukkan.

?Kemana aku akan kamu bawa, Mas?? tanya si perempuan kembali dengan nada bergetar seolah ingin menolak namun tidak ada kemampuan.

?Tidak bisa kamu pungkiri, kita hadir bersamaan sebagai jalan yang musti akan dipilih di depan persimpangan nanti. Jangan takut, memang kita seiring dalam langkah. Kau sang Pendoa, dan aku sang Pendosa.?

Perempuan cantik yang memancarkan cahaya menggelengkan kepala. Dia masih berjarak beberapa langkah dari seorang lelaki yang selalu menghadirkan senyuman tenang.

?Aku tidak mau menjadi pendosa.? Ucap sang perempuan sambil menggelengkan kepala.

?Tidak, Sayang. Tidak!? ungkap Lelaki Pendosa mencoba menyakinkan kekasihnya.

?Aku tidak mau, Mas!?

?Lalu apa? Kita sepasang. Kita dua namun menjadi satu. Tidak pembatas di sana.?

?Aku tidak mau menjadi seorang pendosa!? Perempuan Pendoa menggelengkan kepala.

?Tidak akan pernah, sebab aku tidak sanggup menjadi pendoa.? Sahut Lelaki Pendosa.

?Kenapa kamu mengatakan itu, Mas??

?Doa dan dosa akan berjalan seiring. Tidak bisa meninggalkan salah satunya. Dia keseimbangan dalam perjalanan hidup manusia.?

?Kenapa kita tidak menjadi pendoa bersama-sama? Aku mencintaimu, Mas!?

Lelaki Pendosa menggelengkan kepala. ?Ada yang terbit, akan ada yang tenggelam. Ada siang, maka sang Pangeran menciptakan malam. Itu keseimbangan, Sayang!?

?Lalu??

?Harus ada yang mengisi tempat dimana kita berpijak.?

?Tidak bisakah, Mas? Aku mencintaimu!?

Lelaki Pendosa menggelengkan kepala, ?Aku juga mencintai! Sangat mencintai!?

?Lalu?? Perempuan Pendoa masih berada di tempatnya semula.

?Kalau kita berdua menjadi satu, itu bukan lagi dunia manusia. Kita akan tetap berada di tempat masing-masing.?

?Aku tidak paham, Mas!?

?Sepasang yang berdosa adalah setan, dia bernama neraka. Sepasang yang bernama doa dia adalah malaikat dan bernama surga.?

?Mas??

?Aku mencintaimu. Biarkan aku tetap menjadi pendosa untukmu dan biarkan kamu tetap menjadi pendoa. Aku ini akan menjalankan dan menanggung setiap kesalahan yang pernah kita perbuat. Akan kutanggung dosa-dosa itu, sampai tulang belulangku habis dipanggang api neraka. Aku senang dan kuat saat menatap ke atas, melihatmu di surga dengan kulit tetap memancar indah dan kerling matamu akan menyejukkan jiwaku yang terbakar.?

?Mas, aku ingin bersamamu di dunia ini dan seterusnya.?

?Adam dan Hawa pun pernah dipisahkan. Pun mereka dipertemukan lagi untuk mengecapi kebahagiaan.? Lelaki Pendosa menggelengkan kepala. ?Akan ada hari dimana kita bersatu, tidak ada doa dan tidak ada dosa. Hanya satu yang bernama dan tidak bernama.?

Perempuan Pendoa melangkahkan kaki. Mendekati sang Pendosa yang menjulurkan tangannya. ?Kita akan kemana, Mas??

?Ke Barat, dimana hanya ada kita berdua. Seperti sang Adam dan Sang Hawa. Hanya kita berdua. Hitam putih beriringan, untuk meresapi dunia ini. Aku mencintaimu, Sayang.?

?Aku juga mencintaimu, Mas, Lelaki Pendosaku!?

Bantul ? Studio Semangat Desa Sejahtera, 31 Juli 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *