Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
Ru’yatul Hilal

Hilal
mengapung di antara dua kutub berketegangan
lalu tenggelam
di dalam satu keraguan

Hilal,
bulan sabit mengiris langit
untuk membelah jadi dua
sekerat buat mata
sekerat lagi untuk angka

Ru?yatul hilal
mengapung lalu tenggelam
di dalam dua kubangan
angka dan pandangan

Fana, fana, fana
sebab yang baka
hanyalah untuk Yang Esa

28/09/2007

Bintang-Bintang yang Gugup

Sesekali, rasanya ingin kubersihkan langit
dari serakan bintang dan nebular
aku ingin menyatukannya dalam tangkup
dan mengucurkannya pelan-pelan:
kerakal langit yang berbinar-binar

Setiap malam di almanak puluhan
aku melihat ke atas,
menikmati langit tanpa teropong
di lingkup cahaya bulan keperakan
melihat bintang-bintang yang gugup
gugusan cahaya yang lebih kecil dari bola mata
meskipun ia lebih besar dari imajinasiku
juga pengetahuanku

Sinestesia,
demi sensasi aneh yang ingin kurasa
sesekali aku ingin mengajakmu
melihat bintang dan nebular
tidak melalui indra yang seharusnya

11/03/2010

Nenek Moyang Ilmu Pengetahuan

Kilatan berkas cahaya di langit
melintas rendah habis Maghrib
?Seorang alim segera pergi??

Ini bukan meteor
bukan benda langit
hanya cahaya yang melintas dekat
sehabis maghrib

Lalu, ada kala seberkas cahaya
melitnas tinggi di gelap malam
membawa kejutan dalam hati

?Itu api sihir yang dibawa setan
seseorang akan buncit perutnya
lalu meninggal dengan sengsara?

Itu juga bukan benda langit
sebab, ia tak jatuh melayang ke bumi
membuat kerusakan alam
hanya melapangkan ruang penafsiran

Kami belajar pada alam
membaca tanda-tanda dan perubahan
pada angin, pada cahaya dan gelap
pada nanar, pada mimpi dan khayal

Pengetahuan beranak-pinak
dari pengalaman dan khayalan
belakangan, sarjana-sarjana setelah kami
mencari wahyu-wahyu ilmiah
di laboratorium dan perpustakaan

Pengalaman dan khayalan
puisi dan metaforanya
merupakan nenek moyang kami
nenek moyang ilmu pengetahuan

25/08/2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *