Sajak-Sajak Dahta Gautama

http://www.lampungpost.com/
Perempuan Rumah Bordir

perempuan itu duduk di samping saya, di bangku kayu yang sudah kuyu.

saya melirik kearah berlawanan di mana perempuan itu duduk. bau parfumnya melati, pasti ia baru keluar dari rumah bercat kuning itu.

saya pernah masuk rumah itu, tapi kurang nyaman. kakusnya jorok, tak ada ventilasi dan pintunya mudah didobrak karena dibangun dari tripleks bekas. ada koran kumal, tidak disusun rapi di bawah meja.

aduh. saya merasa perempuan itu pernah mengenal saya, mungkin satu tahun lalu. ketika saya singgah di rumah kuning itu.

Taman Gunter, 3 Mei 2010

Saya Kehilangan Istri

akhirnya saya tiba di rumah teman, ia sedang jongkok di halaman depan, sambil mencabut rumput di rimbunan palem. ia kelihatan tidak sedang serius menerima kedatangan saya sebagai tamu. padahal, kami pernah istimewa, tujuh tahun lalu. saat itu masih kuyub. tak pernah punya cita-cita besar, dan miskin.

kami berpisah. saya kawin dengan perempuan, yang selalu kami panggil, siti. tukang pijat, langganan kami, setiap tanggal lima belas.

Teman saya menjadi homo yang suka jilat bokong anak gelandangan. kabar tentang dia saya terima dari berita di televisi. ketika dia diadili karena sodomi.

setelah tujuh tahun, kami benar-benar merasa sudah tua. dia menjadi banci dan saya menjadi lelaki sejati yang dicerai istri.

Taman Gunter, 4 Mei 2010

Saya Mempersunting Perempuan Irlandia

nama perempuan itu, Jane. penyair Heaney mengenalkan kepada saya
di sebuah kafe.
saya harus mengawininya. karena entah mengapa
saya mengagumi bintik-bintik kemerahan di pipinya.
saya pun tiba-tiba menjelma lelaki yang selalu kasmaran, menulis banyak puisi.
Heaney, menemui saya di kafe
“kirim puisi-puisimu di koran minggu,” katanya.
nama perempuan itu, Jane. saya telah mempersuntingnya
dan Heaney membabtis saya sebagai penyair.

Hajimena, 2005-2010

Saya Berjalan Sendiri

akhirnya kita sampai juga ke ujung jalan sana.
setelah puas mencaci maki semua pejalan kaki
yang pura-pura tak tahu arah untuk pulang.
kerentaan kau bawa sebagai oleh-oleh
dan saya semakin paham dengan bunyi angin
diujung rambutmu. kau juga pasti paham
bahwa usia kita sudah tergusur dengan
lampu-lampu taman. hidup semakin sendiri. terkurung di kamar mesum.
pasti engkau juga mencari saya
ketika ternyata kita tak pernah bisa pulang.
sebab rumah tangga yang pernah kita bangun
menjadi kuyu dan sayub.

Hajimena, 2005-2010

Tuhan Pernah Tak Ada

engkau tak pernah memahami arti
bunyi angin di halaman belakang rumah kita.
engkau juga tak pernah bisa memahami
makna taman ketika gelap karena mati lampu.
kunang-kunang, kelelawar dan lengkingan
anjing tak terdengar.
engkau tak mungkin paham
bahwa tuhan pernah tak ada.

Hajimena, 2005-2010

————
Dahta Gautama, lahir di Hajimena, Lampung Selatan, 24 Oktober 1974. Bersastra secara autodidak sejak 1993. Sejumlah puisinya terdokumentasi dalam 14 buku antologi puisi bersama dan dipublikasikan di sejumlah media nasional. Kini mengelola media mingguan Dinamika News.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *