Sajak-Sajak Y. Wibowo

Pengantin, 1

dahaga melumeri seonggok musim kemarau yang mengejang
di hatimu sampansampan nelayan
lelah melebur persetubuhan
: laut berkelopak
menyisakan rompang riak
dan langit menggelegak

lukaku kah yang kau balur dengan kisah tubuhmu,
membasuh resah dan sepenggal bulan rebah?
tapi lengkung alismu itu liuk birahi yang basah
merajah bayangan masa lalu
: akankah mereka abadi
atau lusuh disisa peraduan ini?
duhai lelakiku, hikayat pelarian serupa lidahku
menyeruput gambir gambut di gigi ngilu
–sementara perburuan belalang dan kupu bercumbu
terlalu jauh dikutuk luntaku

Pengantin, 2

akankah kita menepi
sesusai pelarian ini?
sekuntum janji benarkah ada
dalam laut yang mendadak telanjang?

barangkali subuh yang melepuh telah beralamat
disuatu tempat. seolah korban terakhir
sebuah ruang kita huni
menghapus sebagian dirimu
tapi sebuah ingatan
yang berkelindan dalam gumam
masih muram, sebagai kisah berjelaga menguar dilangit

sesayup percik kenangan
serompang peleburan: inikah jiwa-jiwa bangkit
dari ikatan nasib dari rasa sakit
ternyata diam, gairah yang mengeram.

Pengantin, 3

(+) sebab mula luka dunia, seluruh remang cadar cuaca menganga. kekasih, suatu
malam berjagalah sepanjang liukan lilin yang lebur, aku akan pergi, sekali-kali
saja berkunjung, dengan cinta duajari, mungkin nanti.

(-) mungkin aku akan diam menggendam mimpi, di tunggu waktu. tapi adakah
purnama menjadi dua, diambang kelam langit berjelaga? lalu saat pagi tiba, kau
tahu, akulah gugur bunga; di kakiku surga telah diutus sejak subuh.

(+) ah, aku ragu. tapi begini saja; jejakku meretas dari beberapa bulir embun,
basuhlah ingatan-ingatan yang sungsang, karena harapan tak ayal sebuah
keraguan.

(-) di rahimku, sebuah rajah berona merah. ia bagai sejarah yang tak lelah pada
pasungan serapah, juga segala kecap di lidah.

(+) lantas?

(-) lengking pertama di antara kita kumaknai sebagai desing kenangan.

(+) o, aku tahu jika bersama-sama dibayangi nyeri luka yang terus melepuh, untuk
itu, kenangkanlah.

(-) ya, dengan segala luka dunia, buah simalakama telah kita mamah bagi sebuah
jeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *