Selingan Tragedi

Sungging Raga
http://www.lampungpost.com/

“ATAS nama apa mereka turun ke jalan?”
“Atas nama bangsa.”
“Bangsa siapa?”
“Bangsa mereka sendiri.”

Bendera berkibar, jalanan macet. Udara sedikit mendung. Hujan masih tertahan. Orang-orang berselimut amarah, berselimut bahasa yang tajam. Bendera diikat ke kayu, kayu digenggam tangan. Invasi jalan raya, jalan protokol, jalan umum. Polisi diam, formalitas ketertiban. Pengendara mobil dan motor menggerutu, mencaci-maki dalam hati. Sebagian jalan terpotong oleh iring-iringan manusia itu. Seperti robot, berteriak-teriak seragam dan serentak, nada yang tegak, siap merusak. Mereka berjalan terbungkus kain-kain bertuliskan huruf besar, caci maki, tuntutan demi tuntutan, erangan yang tak tertahan, tertuang dalam selaksa ancaman. Mereka berjalan sambil mengenakan kaus kaki di kepala, mereka terbatuk dan dalam mulut mereka tiba-tiba keluarlah manusia lain yang langsung tumbuh dewasa kemudian ikut berjalan kemudian terbatuk dan keluarlah bendera putih yang akan bertulis kecaman-kecaman serupa. Mereka begitu panjang, pohon-pohon kering merasa heran, cuaca diam.

“Ah, macet begini.”
“Aku bisa telat, nih!”
“Aku juga. Sudah nggak bisa memutar pula!”
“Nasib!”
“Ampun deh!”
“Aku dengar, menyingkirkan duri dari jalan adalah sebagian dari iman.”
“Betul.”
“Apa mereka tidak tahu itu?”
“Seharusnya tahu.”
“Kenapa tetap membuat jalanan macet?”
“Karena mereka merasa bukan duri.”
“Mereka merasa benar sendiri!”

Matahari demam. Dari langit tampak lubang raksasa. Arak-arakan awan bergulung seperti selimut yang keliru, arahnya acak. Abstrak. Hujan tak berani memandang, pasti ada pawang, yang membuat hujan bertepuk sebelah tangan. Ah, tepuk tangan, mereka juga suka bertepuk tangan, riuh mengiringi perjalanan ratusan bahkan ribuan orang itu yang entah bermuara di mana. Dari mana mereka? Terbuat dari apa? Apakah mereka dari langit? Turun begitu saja bersama badai yang menggeram semalaman? Apa yang mereka inginkan?

“Mereka pasti mau membuat bangsa sendiri.”
“Apa?”
“Ya, mereka tidak puas.”
“Apa bangsa ini sudah tidak beres?”
“Buat aku sih, sudah cukup beres.”
“Buat mereka?”
“Mungkin sama sekali tidak beres.”
“Apa yang tidak beres dalam bangsa ini bagi mereka?”
“Ya bangsa itu sendiri yang tidak beres.”
“Apakah semua bangsa tidak beres di mata mereka?”
“Mungkin.”
“Pernahkah mereka melihat bangsa yang beres?”
“Tidak ada.”
“Jadi, mereka berkhayal dong?”
“Bukan, mereka itu mimpi.”
“Wih, mimpi kok seperti itu?”
“Ya. Begitulah kalau dininabobokan mimpi mereka sendiri.”

Orang-orang itu tiba di sebuah gedung. Gedung bertuliskan dosa. Dicap dosa dan tak terampunkan. Orasi. Orasi. Mungkin tak sabar menunggu. Mereka justru sudah ditunggu, petugas keamanan yang lugu, yang terpaksa berdiri di sana demi membelikan anaknya segelas susu. Tetapi begitulah takdir. Amarah mendorong amarah. Pecah. Pecah. Orang-orang memecahkan kaca. Gedung bertingkat itu berkeringat penuh kaca, kaca dilempari, gedung terkejut dari tidurnya, listrik padam, AC menutup dirinya. Para pelayan disuruh keluar, kalau tidak mau dilempar ke sana-kemari. Dosa berhamburan, dari mulut dan dari tangan. Dosa. Itu dosa. Itu juga dosa. Itu juga. Ah, semua dosa. Ah, apa itu dosa? Kenapa kalian tidak berhenti? Ini merusak moral! Hancurkan! Ayo! Sikat! Orang-orang berhambur, merangsek masuk. Berhasil. Bangku-bangku ditendang. Pria-pria kesepian kalang kabut bukan kepalang. Lampu disakiti. Meja digulingkan, botol bertubrukan. Gelas dan ayunan pedang berjabat tangan.

“Nah, lihat, bangsa ini memang tidak becus.”
“Kata siapa?”
“Kata orang-orang itu.”
“Apa mereka itu sedang memberi contoh?”
“Ya. Mereka sedang mengusir setan.”
“Dari mana?”
“Dari bangsa ini.”
“Apa bisa berhasil?”
“Mungkin saja, tapi ada setan yang tidak akan bisa diusir.”
“Setan apa?”
“Setan dalam tubuh mereka sendiri.”

Ruangan di dalam gelap. Porak-poranda. Teriakan menggema. Tolong. Di sini terjadi pembantaian atas nama… Atas nama siapa? Aduh! Kaca pecah, matahari pecah, hiasan bintang di langit-langit remuk. Lampu patah. Gelinjang cahaya. Ruangan kerja diterjang, di dalam ruang itu ada hutan gelap. Seribu binatang tersingkap sampai meloncat ke ubun-ubun. Pasukan berbendera dan berkaus kaki di kepala itu belingsatan. Mereka bersorak. Mereka merusak, beranjak, bersorak lagi, mengaum, serentak.

“Wah, sadis.”
“Itulah makna kebajikan.”
“Kebajikan?”
“Benar.”
“Mereka sedang melakukan kebajikan?”
“Tentu, kebajikan yang mereka baca.”
“Mereka membaca kebajikan?”
“Ya. Mereka membaca dengan membabi buta.”
“Babi?”
“Itu istilah. Mereka membaca, menafsirkan sendiri, bergerak. Menunggu perintah serempak.”
“Mereka tentara?”
“Ya. Tentara kebajikan.”
“Sadis begitu?”
“Itulah kebajikan menurut mereka. Sebenar-benar kebajikan.”

Cerita hampir usai. Reporter televisi tumbuh seperti jamur, cahaya redup menampar udara. Kamera video berdesakan dengan peristiwa, bahu didesak, tangan ditarik. Kamera merekam, hati tak merekam. Mereka seperti amarah yang belum padam. Sementara di luar, mendung semakin pekat. Bangunan menjadi penjara yang rusak, papan nama rubuh. Mengapa tak ada jejak-jejak Shubuh? Hah, mereka berharap apa? Orang-orang ditendang, orang-orang menendang, macan kelaparan. Tikus tak bisa tidur. Hujan turun langsug deras. Kocar-kacir airnya. Ban tak jadi dibakar. Amarah tak pernah menjelma sabar. Cepat keluar kalau tak mau terkapar.

“Seperti sandiwara.”
“Tentu saja. Dan yang mereka bela itu adalah kebenaran.”
“Kebenaran untuk kita semua?”
“Kebenaran untuk golongan mereka sendiri.”
Manusia terakhir dilempar. Kaca meledak!

Jogja, 2010

—-
Sungging Raga, lahir 25 April 1987 di Situbondo, Jawa Timur. Kadang-kadang tinggal di Yogyakarta. Buku perdananya kumpulan cerpen: Ketenangan Merentang Kenangan (Greentea, 2010).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *