Wulan dan Suaminya

Humam S. Chudori
http://www.lampungpost.com/

SEJAK Wulan tinggal di rumah sebelah, sebetulnya, saya tak suka perempuan itu. Betapa tidak, apabila bertandang ke rumah, ia selalu mengatakan jika dirinya tidak ikut bekerja mereka pasti tidak mungkin membeli rumah. Menurut penuturannya, suaminya tak pernah mau ketika ia mengusulkan agar membeli rumah. Alasannya penghasilan Suharjono tak cukup untuk membayar angsuran.

?Tapi, nyatanya sampai sekarang angsuran rumah tidak pernah menunggak. Kami tetap lancar membayar,? lanjut ibu dari tiga orang anak itu, setelah ke sekian kalinya ia menceritakan upayanya?membujuk suami?untuk membeli rumah.

“Bahkan rumah mungkin masih akan tetap seperti ini, jika hanya mengandalkan gaji suami,” tambahnya, “Orang biaya renovasi rumah juga dari uang saya, Bu.”

Siti Karima, istri saya, tampak kurang suka dengan pernyataannya yang terakhir. Mungkin Siti tersinggung karena sang tamu mengatakan rumah masih tetap seperti ini. Bagaimana tidak, rumah kami masih utuh, seperti saat diserahkan pengembang, masih berlantai tegel abu-abu kusam. Dindingnya belum diplester. Belum berpagar. Sementara itu, rumah sebelah bukan hanya dindingnya sudah diplester. Melainkan sudah berganti kusen, lantainya sudah keramik, dan sudah berpagar pula.

Tak heran jika Siti tak suka dengan ocehannya. Sejurus kemudian istri saya pergi ke dapur. Meninggalkan tamu yang menjadi tetangga baru kami. Saat itu, kami?saya dan istri?yang menemani sang tamu.

“Mas, tolong sebentar,” ujar Siti, beberapa saat kemudian, sambil membawa kompor, “Sumbunya sudah banyak yang pendek.”

Saya bangkit dari tempat duduk. Meninggalkan Wulan di ruang tamu. Bersamaan saya bangun dari kursi, Wulan pamit. Pulang.

“Sumbu ini sengaja saya tarik,” katanya, “Kalau tidak begini mana mungkin perempuan itu pulang.”

Saya diam. Sebetulnya saya kesal dengan istri. Bagaimana tidak, belum seminggu sumbu kompor dibetulkan, sekarang saya harus melakukan pekerjaan yang sama. Namun, saya dapat memahami alasannya. Lantaran saya sendiri sebal mendengar ocehan tetangga baru kami.

“Baru bisa membantu suami saja sudah sombong seperti itu. Lagi pula apa benar ceritanya?” gerutu Siti, “Padahal rumah masih tipe kecil. Di kompleks perumahan RSS pula. Bagaimana jika rumahnya berada di real estate.”

***

Apabila istrinya tak ada, Suharjono akan datang ke rumah kami. Lelaki bertubuh kurus itu akan mengeluhkan kelakuan Wulan yang sok mengatur. Bukan sekali dua kali Suharjono menceritakan keburukan sifat istrinya. Ia yang seharusnya menjadi kepala rumah tangga, tetapi yang terjadi sebaliknya. Dalam keluarganya justru Wulan yang mengatur segalanya. Meskipun tidak secara eksplisit ia berkata demikian.

Yang membuat Suharjono merasa kesal, lantaran Wulan sering mengambil uang di dompet suaminya. Tanpa pernah minta izin. Bukan sekali dua kali lelaki itu kehilangan uang yang ada di dompet. Entah lima puluh ribuan atau dua puluh ribuan.

Mula-mula Suharjono tak pernah mempersoalkan uang yang diambil istrinya. Toh uang dicari untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Untuk keperluan keluarga. Tetapi, setelah sadar cara-cara yang dilakukan Wulan tidak benar. Suharjono selalu mengantongi dompetnya. Bahkan di kamar mandi maupun ketika tidur, dompet itu selalu di kantong celananya.

***

Untuk ke sekian kalinya Suharjono menceritakan uangnya yang hilang kepada saya. Entah kenapa ia lupa membawa dompetnya ketika tidur. Akibatnya bisa ditebak. Uangnya raib. Kali ini jumlahnya tak tanggung-tanggung. Tiga ratus ribu rupiah. Ia baru tahu uangnya hilang setelah tiba di kantor.

“Uang di dompet papa, hilang lagi. Siapa yang ngambil? Orang semalam masih ada, Ma,” kata Suharjono kepada Wulan, setelah ia pulang dari kantor, “Perlu Mama tahu uang itu bukan uang papa pribadi. Tapi uang kantor. Apa Mama yang mengambil?”

“Siapa yang bilang begitu?”

“Papa cuma tanya? Apa mungkin di sini ada tuyul?”

“Papa sudah tanya sama Budi?”

“Jadi, Budi yang mengambil?”

“Ya, nanti tanya saja sendiri sama anak itu. Kalau Budi sudah pulang.”

Ketika Budi, anak pertama mereka yang sudah duduk di bangku SLTP, pulang dari kursus bahasa Inggris. Anak itu ditanya papanya. Karena merasa tidak mengambil uang dari dompet papanya, Budi tidak mau mengaku. Ketika pertengkaran anak dan orang tua itu hampir mencapai puncaknya. Dengan tanpa merasa berdosa sama sekali, Wulan memotong pertengkaran mulut mereka.

“Sudah kamu bayarkan uang kursus bahasa Inggris itu, Bud?”

“Sudah Ma,” jawab Budi. Lalu anak lelaki itu mengeluarkan selembar kertas, tanda bukti pembayaran, dari kantong bajunya. Menyerahkan kepada sang mama.

Wulan menerimanya. Membaca sebentar. Lalu menyerahkan kertas itu kepada suaminya, “Nih, lihat!”

Suharjono membaca kuitansi yang diserahkan istrinya.

“Ya, itu tadi uang yang Papa tanyakan,” ujar Wulan.

“Jadi?” tanya Suharjono tak mengerti.

“Apa untuk keperluan anak-anak harus minta orang lain?” tanya Wulan. Ketus.

Suharjono diam. Ia marah. Ingin sekali melampiaskan kekesalan kepada Wulan. Ia ingin menampar perempuan itu. Lantaran telah mengambil uang di dompetnya tanpa izin. Namun, ia tetap tak mampu berbuat sesuatu terhadap istrinya.

“Andaikata sejak pertama ditanya, ia langsung menjawab mungkin saya tidak marah. Apalagi uang itu digunakan membayar kursus bahasa Inggris Budi. Meskipun saya harus menggantinya,” suami Wulan itu mengakhiri ceritanya.

“Lalu apa yang Pak Jono lakukan setelah tahu kalau yang mengambil uang itu istri Bapak?” tanya saya.

Lelaki yang tinggal di rumah sebelah itu diam. Ia gelisah. Bingung.

“Jadi, Pak Jono diam saja diperlakukan seperti itu sama istri?” sambar istri saya yang sedang meletakkan air minum untuk kami, “Kalau saya suaminya pasti sudah saya tempeleng dia.”

Karena tidak menduga sebelumnya Siti akan menyambar percakapan kami. Saya dan Suharjono hanya diam. Terkesima dengan kalimat yang dilontarkannya.

Setelah meletakkan dua buah buah gelas berisi teh hangat, Siti kembali ke dalam.

***

“Maafkan saya tadi, Pak,” kata Siti setelah Suharjono pulang. “Entah kenapa tiba-tiba saja mulut saya ngomong begitu.”

“Tapi, Bu…”

“Masalahnya yang dilakukan istri Pak Jono itu sudah keterlaluan. Mengambil uang suami tanpa izin. Bukankah ini sama saja artinya mencuri. Kendati yang dicuri uang suaminya. Tetapi, ya tetap saja namanya mencuri. Padahal, kalau saya minta uang sama Bapak tak pernah berani membuka dompet sendiri,” lanjut Siti, “Saya memang tidak suka dengan istri Pak Jono yang sok itu. Apalagi ia selalu mengecilkan fungsi suaminya. Seolah-olah penghasilan suaminya tidak ada artinya. Apa mentang-mentang punya gaji. Lantaran kebanyakan ibu-ibu di sini tidak punya penghasilan sendiri.”

Saya diam.

“Ngomong-ngomong, tadi saya bicara seperti itu Pak Jono tersinggung apa tidak, Pak?” tanya Siti.

“Justru dia sedang bingung,” jawab saya.

“Kenapa mesti bingung. Istri macam gitu mending tampar saja, kalau tidak berani menceraikan,” Siti menggebu-gebu.

“Soalnya Pak Jono itu laki-laki, Bu.”

“Siapa yang bilang kalau dia itu perempuan, Pak.”

“Dia takut menampar perempuan, Bu.”

“Takut?”

Saya mengangguk. “Masalahnya perempuan dianggap makhluk lemah.”

“Lantas?”

“Pak Jono takut dianggap melakukan kekerasan dalam rumah tangga.”

“Walaupun istrinya salah?”

“Saya pikir ketakutannya itu memang beralasan. Sebab seperti kata Pak Jono tadi, jika seorang lelaki menampar istri, masyarakat akan mengatakan lelaki itu telah melakukan penganiayaan,” kata saya.

Siti tampak terkejut dengan pernyataan saya, sebagaimana saya sendiri terkejut setelah mendengar alasan Suharjono yang tidak mampu berbuat apa-apa terhadap Wulan. Padahal, seperti tadi ia pun bilang ingin menampar istrinya?setelah istri saya masuk ke dalam.

“Saya sependapat dengan istri bapak. Perempuan seperti istri saya seharusnya ditampar. Tapi, hal itu tidak mungkin saya lakukan. Sebab jika seorang lelaki menampar perempuan, masyarakat akan mengatakan lelaki itu telah melakukan penganiayaan. Melakukan tindak kekerasan terhadap dalam rumah tangga,” terngiang lagi kata-kata Suharjono beberapa saat yang lalu.

Benarkah yang dikatakan Suharjono? Atau ini hanya sebuah alasan seorang laki-laki dayus untuk membenarkan ketidakmampuannya memimpin keluarga? Mungkinkah karena penghasilan Suharjono lebih kecil dari pendapatan yang diperoleh Wulan? Apa mungkin begitu pola pikir perempuan yang punya penghasilan sendiri? Atau hanya Wulan yang berani berbuat demikian terhadap suaminya? Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran. Namun, tak pernah saya jawab. Lantaran istri saya bukan seorang wanita karier yang punya penghasilan sendiri.

***

Sejak Siti menyambar percakapan kami, tatkala ia menyajikan teh. Sejak itu pula, tetangga sebelah tak pernah lagi bertandang ke rumah. Bukan hanya Suharjono yang tidak pernah bertamu, melainkan pula istrinya?Wulan.

“Kita memang disuruh menghormati tamu. Tapi, tamu yang bagaimana? Kalau tamu yang melecehkan tuan rumah apa masih perlu dihormati. Nah, kalau perlu kita tidak usah kedatangan tamu yang demikian,” kata Siti, tatkala saya membicarakan tetangga sebelah yang sudah tak pernah datang ke rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *