Alir Peradaban Air-Aksara Bali dari Batur

Refleksi Momentum Emas 800 Bangli, 11 Abad Singhamandawa (16)
I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

MENAPAKTILASI jejak sejarah Bangli dalam rentang 800 tahun (domas tiban), dari masa sebelum Italia di belahan dunia Barat memfajarkan cakrawala Renaisan hingga paro awal abad ke-21 sekaligus milenium ke-3 ini, tiada ubahnya dengan perjalanan pulang menuju pusat sekaligus hulu jantung Bali. Posisi Bangli dengan kawasan situs Cintamani-Kintamani, Batur, begitu sentral dan strategis, memang, dalam keutuhmenyeluruhan kosmologi Bali sebagai satu kesatuan pulau alit yang dikelilingi lautan.

Dalam peta kesejarahan Bali, kawasan situs Cintamani-Kintamani, Batur, bahkan telah tercatat otentik ada sejak prasasti — sebagai pertanda peradaban keberaksaraan — pertama ditemukan di Sukawana berangka tahun 804 Saka (882 M). Ditambah dengan temuan prasasti Pura Kehen, Bangli, yang sejauh ini diakui para ahli efigrafi dan paleografi Bali sebagai contoh otentik aksara Bali Kuno tertua sekaligus suratannya terindah, maka lengkap sempurnalah gumi Bangli sebagai sumber mata-air bagi alir peradaban air maupun peradaban aksara gumi Bali.

Di tanah bumi pertiwi Balidwipamandala, peradaban air berpusat-hulu di Danau Batur. Karena secara geografis kealaman Balidwipamandala membentangkan deretan gunung-gunung dan perbukitan di bagian tengah-tengah pulau dari ujung fajar timur sampai ujung sandyakala barat, layaknya tulang punggung yang mewadahi sumsum inti sari-pati hidup manusia, maka menjadilah Danau Batur dengan tiga danau lain (Beratan, Buyan/Bulian, dan Tamblingan) berada pas tepat di pusat ulu hati Bali. Di situ keempat danau ini mengingatkan pada empat “danau” pusat di ulu hati manusia, masing-masing danau jantung, danau hati, danau paru-paru, dan danau empedu. Keempatnya membentuk catus pata-pempatan agung (simpang empat) dalam kesatuan buwana agung bernama manusia. Ini digambarkan dalam goresan sederhana berkeuniversalan berupa tapak dara, yang diadopsi jagat matematika universal berupa tanda tambah (+). Maka, tapak dara dan catus pata-pempatan agung menjadi titik sentrum amat sangat penting dalam kesatu-utuhan visi kosmologi Bali dengan penggunaan, pemahaman, dan pemuatan makna sedemikian luas dan lentur.

Keempat danau inilah merupakan inti-sari-pati jeroan yang menghidupi manusia. Keempat danau ini mesti dijaga ketat agar manusia sehat, dengan pengistimewaan lebih utama pada jantung, karena jantunglah merupakan pusat energi penggerak pendistribusi aliran darah ke sekujur tubuh, dari ujung rambut sampai ke ujung kuku dan telapak kaki. Tanpa terkecuali. Jantung tak boleh berhenti berdenyut, agar kehidupan terus hidup. Bila jantung berhenti berdenyut itu berarti mati secara medis.

Di titik sentrum itulah posisi Danau Batur di kawasan situs Cintamani-Kintamani, Bangli, dalam peta kesemestaan tubuh-ragawi gumi Bali tiada ubahnya dengan “danau jantung” dalam jagat alit diri manusia: tiada henti berdenyut hidup mengalirkan air tawar pegunungan ke sekujur tubuh-ragawi semesta gumi Bali lewat tukad, telabah, pangkung, jelinjing, hingga ke got-got kecil, masuk ke petak-petak huma dan tegalan, lalu mengucur ke bak-bak di rumah tangga, kolam renang hotel-hotel mewah di kawasan Nusa Dua di kaki Bali, dan seterusnya, hingga semua bermuara bersimpul pusat menyatu lagi di samudraraya yang mengelilingi mengitari tubuh-ragawi Pulau Balidwipamandala.

Arus paling besar, paling kuno, dan paling dasar-strategis di Balidwipamandala melahirkan peradaban agraris yang merupakan bentuk pemujaan lewat laku kerja olah tanah dengan tambah, cangkul-pacul, sehingga dikenallah tradisi dan istilah mamacul. Inilah jalur kerja sebagai sembah pemujaan manusia kepada Hyang Embang Mahahidup lewat olah tanah dengan tubuh dan tambah. Dan, alam menggariskan pasti abadi: tiada satu manusia pun di bumi tidak berutang hidup pada manusia petani pacul yang bekerja mamacul, manusia yang menyembah Hyang Embang Mahahidup dengan mengolah tanah dengan tubuh dan tambah. Maka, tiada satu manusia pun yang hidup di Bali yang tidak berutang hidup pada Bangli yang kini mewilayahi situs Cintamani-Kintamani Batur.

Dengan begitu, Bangli sungguh komplit paripurna mengalirkan peradaban air sekaligus sangat elok menawan memancangkan tonggak peradaban aksara di Balidwipamandala. Revolusi peradaban aksara ini tidak sebatas hanya memungkinkan manusia menyurattuliskan pikiran, hati, kata, bahasa, bunyi ke dalam aksara, tapi juga menuntun menuju puncak pencapaian kesadaran rohaniah yang menembus melampaui batas ragawi batas pikir, menyatu dengan Hyang Embang Mahahidup. Dari peradaban aksara inilah mengalir sungai-sungai profesi pragina (seniman tari/tabuh), sangging (seniman kriya, gambar), balian usada (penyembuh), undagi (arsitek), dan seterusnya hingga ke derajat pamangku dan sulinggih sadaka dwijati yang merupakan guru loka, guru-guru keteladanan masyarakat.

Kini, domas tiban kemudian, Bangli dan seluruh Bali sepatutnya menyinsyafkan diri dengan merevitalisasi alir peradaban air dan peradaban aksara simultan serentak sekaligus. Peradaban air memberi manusia bekal life skill, sedangkan peradaban aksara mencerahkan dengan kecerdasan dan pengetahuan. Tak bisa sepotong-sepotong, sebagian-sebagian. Tanpa kesatu-utuhan menyeluruh begitu, Bangli dan Bali tak ubahnya potongan-potongan sekerat daging di mesin pendingin pasar swalayan: awet, beku, sekaligus sekadar mata dagangan yang dikoyak-koyak priyayi pembeli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *