Cinta yang Melembutkan dari Kurnia Effendi

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

Ada 14 cerpen dalam buku terbaru Kurnia Effendi, “Burung Kolibri Merah Dadu” yang diluncurkan 14 Februari lalu; hari yang tampaknya sengaja dipilih karena seluruh cerpen dalam kumpulan ini bertema cinta. Ada cinta anak muda, persahabatan, cinta anak dengan orang tua, dan kesetiaan, bahkan cinta sepasang merpati alias benar-benar burung.

Unik, atau kebetulannya lagi, semua cerpen berlokasi-cerita di kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Tokyo; sehingga mengisyaratkan cinta ada di mana-mana minus di kampung atau desa. Dan dengan hadirnya nama-nama macam Tom Hank, Debra Winger, Jodie Foster; atau pengarang Sydney Sheldon, Paul I Welmann; sastrawan Asrul Sani, Nh Dini hingga Djenar Maesa Ayu; juga Soe Hok Gie; serta orang jazz seperti Bubby Chen, Rien Djamain; juga ada Kenny G ataupun film “Out of Africa”, lagu-lagu Barat serta banyak lainnya atribut serupa, makin teranglah bahwa ke-14 cerita pendek di buku ini berlangsung pada klas menengah-atas kota (besar).

Namun, absennya cinta berseting desa dan manusianya di dalam buku ini agaknya hanya masalah prioritas. Karena di halaman awal pengarang menuliskan semacam moto, bahwa: “Percayalah, cinta di negeri ini belum selesai.” Jadi, dengan cakap lain, mungkin pengarang beranggapan yang paling “belum selesai” atau yang sangat bermasalah saat ini ialah cinta di kota besar, pada kalangan menengah-atas. Oleh sebab itu perlu ditaburi (di-inspiring) kembali dengan kemurnian-kemurnian serta keindahan cinta, sebagaimana bisa ditemui dalam cerpen-cerpen pada antologi ini.

Dalam realitas sehari-hari, yang dikuatirkan di atas hemat saya bukan suatu yang tak mungkin kita alami di kota (besar). Godaan terhadap kekudusan cinta menyerbu dari banyak arah, sehingga cinta rentan pudar atau kerap ditempeli motif-motif lain. Itu, tentu karena budaya kota besar yang (cenderung) individualistik, tak lagi melibatkan pihak lain kecuali berdasarkan pertimbangan keuntungan materiil. Maka kawin-mawin misalnya, tidak lagi memiliki fungsi sosial, seperti perluasan keluarga dari satu jadi dua, di samping pertemuan dua hati dari dua individu; sebagaimana terjadi di kota kecil tepatnya di desa, atau di masa lalu. Orang kota (besar) kini dapat saja berucap bagai dalam film-film Barat, “Yuk, married!” Maka mereka menikah dan, celakanya, empat-lima bulan atau setahun kemudian bubar seperti hampir tiap hari kita saksikan di layar televisi. Dan heboh perkara harta, kadang-kadang dengan dalih pengasuhan anak biar rancak tampaknya. Peluang menampik atau mengentengkan kekudusan cinta saat ini menganga lebar, setidak-tidaknya dari luar, di kota-kota besar. Itu, lantaran terpinggirnya kesakralan dan juga fungsi sosial perkawinan tadi, yakni keluarga besar kedua individu.

Betapapun kiranya rindu pula kita melihat Kurnia Effendi yang konsisten menulis cerita bertema cinta, berkisah tentang cinta dengan lokasi desa serta manusianya. Jangan-jangan juga telah bergeser. Jangan-jangan tidak seideal bayangan kita lagi. Jangan-jangan arus perubahan besar di atas sudah merembes ke daerah, desa dan kampung. Maklumlah, globalisasi.

* * *

Menulis cerita cinta, khususnya asmara, tidak semudah yang diperkirakan orang. Ketidakmudahan muncul karena semua orang pernah jatuh cinta dan jadi lebih kritis saat membacanya. Itu sebabnya banyak cerita cinta, cerpen atau novel, jatuh menjadi cengeng atau gombal belaka. Jangankan menggugah. Tapi tentu ada yang berarti dan abadi, karena menggali yang hakiki alias tak bermain di permukaan belaka. Cerita-cerita cinta semacam ini tidak mudah enyah dari ingatan, menetap, meskipun orang punya kisah cinta masing-masing. Ia mengayakan perbendaharaan pembaca, menginspirasi.

Bagi saya, meski usia tidak muda lagi, sejumlah cerpen di kumpulan ini tergolong yang tidak lenyap usai dibaca. Ada yang menetap, bertahan dalam renungan. Dan hal itu dimungkinkan oleh perkara kedalaman tadi. Juga, lantaran materi cerita tergarap apik, matang, dewasa. Ibarat makan, pengarang tahu benar kapan suap harus diakhiri, sehingga tak menimbulkan lapar yang tersisa pun kenyang yang berlebih. Sebab keduanya, jika tak pandai meracik, sumber masalah itu: cengeng, gombal, memboyakkan.

Porsi yang pas itu (bagai sate Minang asli yang jumlah tusukannya hanya delapan, bukan sepuluh) misalnya terdapat dalam cerpen “Gerimis Februari”; berkisah mengenai dua hati (Adit dan Rara) yang saling ajuk, saling duga, di dalam upaya mereka menembus dinding “ketaktahuan” isi hati masing-masing. Cerpen ini lalu ditutup dengan kecemasan Adit membayangkan saat Rara membaca surat yang ia kirim. Pembaca diberi kesempatan oleh penulis berimajinasi.

Lainnya yang menonjol dari cerpen-cerpen Kurnia Effendi, juga dalam kumpulan ini, adalah bahasanya. Bahasanya lembut tapi tak cengeng. Rapi, manis, dan di sana-sini cenderung puitis. Ambil contoh alinea pembuka cerpen “Gerimis Februari” tadi. Begini: “Gerimis turun lagi. Seperti percik air mata bidadari. Melompat di antara sela dedaunan. Terpelanting dari ujung genting. Terpelanting ke rerumputan. Di aspal jalan. Di tanah dan kerikil. Di rambut para pejalan kaki. Membasahi sepatu. Perlahan-lahan membasahi sebagian kota Bandung.” Terkesan pula filmis, kamera-bahasa bergerak dan terus meluas menuju sasaran.

Tokoh-tokoh cerita Kurnia Effendi elok laku semua. Jikapun ugal-ugalan, seperti tokoh Bram dalam cerpen “Hari-hari Merah Jambu”, hatinya tetap lembut, baik. Begitu pula tokoh Yuda dalam cerpen “Sekuntum Lily” yang “menculik” Fatin, baik dan lembut.

Tetapi, apa pula yang aneh atau ganjilnya? Bukankah cinta memang melunakkan, melembutkan bahkan hati yang paling keras sekalipun? Menyuburkan kasih? Malah, ujar sebuah kalimat bijak, mampu membuat orang menjadi penyair. Maka, boleh jadi memang ini pesan kumpulan cerpen Kurnia Effendi. Khususnya bagi kita yang berdomisili di kota (besar), yang perlahan mengeras bersama tata kehidupan kota. Cerita-cerita dalam buku ini mengingatkan kita akan kelembutan hati. Akan kasih, akan cinta. Dan pada gilirannya, akan kemanusiaan kita.***

* Adek Alwi, pengarang dan wartawan, tinggal di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *