Gagasan sang ?Beyonder?

Judul: Beyond Parlemen, dari Politik Kampus hingga Suksesi Kepemimpinan Nasional.
Penulis: Dr Yuddy Chrisnandi.
Penerbit: Ind Hill Co, Jakarta.
Cetakan: II, September 2008.
Tebal: xii + 372.
Peresensi: B Tri Subeno
http://suaramerdeka.com/

SUDAH lama muncul sinisme terhadap lembaga perwakilan atau legislatif kita. Pernah ada istilah datang-duduk-diam-duit untuk menggambarkan para ?wakil rakyat? yang tidak bekerja serius, antara lain untuk memperjuangkan nasib rakyat yang diwakili. Bahkan istilah ?wakil rakyat? pun digugat karena kenyataan sebagian di antara mereka lebih tepat sebagai ?wakil partai?, atau bahkan ?wakil dirinya sendiri?.

Apalagi beberapa waktu terakhir DPR dan DPRD didera banyak kasus yang semestinya mempermalukan lembaga terhormat itu. Terutama kasus korupsi dan beberapa di antaranya telah divonis oleh pengadilan. Citra dewan legislatif yang merosot seperti makin dibenamkan ke dalam lumpur pekat. Namun selalu ada mutiara di tengah-tengah lumpur tersebut walaupun jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan.

Mereka sering disebut sebagai vokalis karena menyuarakan idealismenya yang mungkin dipandang agak aneh atau nyeleneh dari kebanyakan rekan-rekannya. Salah satunya adalah Yuddy Chrisnandi, penulis buku ini. Doktor bidang kajian ilmu politik-militer alumnus Universitas Indonesia itu memang amat lain dibandingkan dengan sesama legislator, bahkan yang punya tingkat pendidikan setara.

Dia salah seorang dari sedikit anggota legislatif yang memiliki intelektualitas di atas rata-rata dan memanfaatkan kelebihan tersebut untuk memberi makna lembaga perwakilan rakyat. Melalui bukunya dia ingin menunjukkan bahwa anggota legislator memiliki fungsi sangat luas, dan tak sekadar menjalankan legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Perhatiannya pun tak mesti terbatas pada persoalan-persoalan politik di dalam ruang sidang, melainkan juga di luar ruang sidang. Para anggota DPR dan DPRD sesungguhnya juga mempunyai peran sebagai pendidik politik bagi rakyat, bukan hanya sebagai aktor atau pemain politik (Ibnu Hamad, hal 357).

Sudah lama para anggota legislatif terjebak dalam ritual adu kepentingan daripada semangat mewakili konstituen yang memilih mereka. Ritual tersebut tentu tidak menguntungkan rakyat dan harus diperbaiki serta diubah. Yang pertama dari sang legislator berupa niat membebaskan diri dari jebakan ritual politik. Dia harus punya motivasi kuat untuk melampaui tugas-tugas keparlemenan. Itu artinya dia harus keluar dari kerutinan dan menjadi seorang beyonder, yaitu anggota parlemen yang memiliki pemikiran serta kegiatan melebihi posisinya sebagai legislator. Istilahnya, mesti berpikir dan bertindak secara out of the box atau keluar dari kotak-kotak yang menghambat.

Tetapi celakanya sosok yang seperti itu susah mendapat tempat dan cenderung disingkirkan. Yuddy yang dalam beberapa hal tidak sejalan dengan instruksi partainya pun selanjutnya ?disingkirkan? secara halus dan memilih berada di luar. Meski demikian, tulisan-tulisannya yang dikumpulkan dalam buku ini merupakan buah pikir idealnya sekaligus bisa dijadikan referensi bagi para legislator yang baru kali pertama memasuki gedung perwakilan baik di pusat maupun daerah.

Sangat penting ?wakil-wakil rakyat? itu selalu mengasah kepekaan sosial dan membuka cakrawalka pemikirannya, kalau bisa di segala bidang. Mungkin mereka menjadi anggota salah satu fraksi, komisi, atau panitia kerja, tetapi kemampuan dan pemahamannya di bidang lain di samping tugas utamanya tidak bisa diabaikan begitu saja. Tak ada jeleknya terus belajar dengan berbagai cara.

Buku ini menghimpun beragam pemikiran penulisnya sejak awal masa transisi demokrasi di era pemerintahan Presiden BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Lepas dari begitu banyak tema, ada satu benang merah yang menghubungkan, yakni harapan agar demokrasi tumbuh subur dan politik negara berpihak kepada rakyat.

***

TAK mengherankan jika Yuddy yang dianggap tokoh muda cermerlang menjadi salah seorang calon presiden dari jalur independen, meskipun kemudian lalu terbentur keputusan Mahkamah Konstitusi bahwa pencalonan presiden harus melalui partai politik. Tetapi bagaimanapun dia telah memberi pelajaran berpolitik kepada rakyat.

Kembali ke bukunya, pembagian bab-bab yang antara lain membahas masalah demokrasi, nasionalisme, kepemimpinan nasional, aksi politik dari Senayan (gedung DPR), kontroversi sipil-militer, terorisme, dan hubungan luar negeri memberi kesempatan kepada pembaca untuk menelaah dan memahami berbagai persoalan yang tengah aktual.

Dalam soal pemilu presiden dan kepemimpinan orang muda, dia mengungkapkan keiriannya terhadap beberapa negara yang dipimpin oleh generasi muda (hal 111). Contohnya Bashar al-Assad yang menjadi presiden Suriah pada saat usianya belum genap 45. Ada pula Evo Morales (Bolivia) dan Hugo Chavez (Venezuela) yang amat populer lewat gebrakan-gebrakan prorakyat.

Itu tak dijumpai di Indonesia. Pada pemilu presiden tahun ini, nama-nama lama masih berkutat. Semua dari kalangan tua yang dinilai banyak kelompok moderat dan progresif di Tanah Air tidak akan mampu berbuat banyak bagi perubahan negeri ini. Survei yang dilaksanakan berbagai lembaga jajak pendapat juga mendukung generasi tua untuk memimpin lima tahun ke depan.

Sesungguhnya cukup banyak figur generasi muda yang layak ditampilkan sebagai kandidat presiden. Pada lembaga eksekutif, tak sedikit yang memiliki kemampuan memimpin daerah sehingga berubah, terutama dalam hal kesejahteraan dibandingkan dengan kepala daerah sebelumnya. Pun pada lembaga legislatif, banyak yang kapasitas dan kapabilitasnya memenuhi syarat.

Apa pandangannya tentang hubungan sipil-militer? Idealnya, kembali pada profesionalisme, yaitu mengemban tugas menjaga kedaulatan negara, pertahanan, dan keamanan, serta tidak mencampuri wilayah politik sipil. kalangan sipil bertanggung jawab pada fungsi-fungsi kenegaraan yang menjadi wilayah politik publik (hal 272).

Secara umum buku ini pantas dijadikan referensi. Namun sebagaimana kumpulan artikel lepas dan makalah yang dijadikan sebuah buku, kelemahannya terletak pada kedalamannya. Tapi jika ingin mempelajari lebih jauh, ada beberapa pustaka yang bisa dicari dan kemudian ditelaah sendiri oleh pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *