Karya Lanang, Novel Apa Memoar?

Peluncuran ??Pengendara Badai??
Riyono Toepra
http://suaramerdeka.com/

MESKI sudah jelas dicetak wujudnya berbentuk novel, keberadaan novel ??Pengendara Badai?? menjadi perdebatan cukup sengit saat peluncuran dan diskusi yang digelar di Gedung Kesenian Kota Tegal di Jl Setia Budi, mulai pukul 20.00, Sabtu (6/2).

Acara bedah novel itu yang mengusung pembicara mantan Wakil Wali Kota (Wawalkot) Tegal Dr H Maufur dan budayawan asal Solo, Halim HD, dengan moderator Nurhidayat Poso, malam itu, terbilang cukup panas. Adalah Halim, yang blak-blakan menguliti novel ??Pengendara Badai?? karya Lanang Setiawan itu. Awalnya dia menuding novel itu secara data masih kurang teliti.

Salah satu contohnya, kata dia, Lanang dengan enteng menulis penerbitan Majalah Horison pada tahun 50-an. Menurut dia, seharusnya tahun 67-an. Kemudian perihal sebutan julukan ??Warteg?? disebutkan pada tahun 50-an.

??Mengapa harus tahun 50-an? Padahal waktu itu belum ada istilah warteg. Kata warteg baru dipakai sekitar tahun 90-an. Ini yang perlu diluruskan,?? tandas Halim.

Dia menyarankan agar Lanang perlu Co Reader. Yakni membaca kritis sebelum buku atau novel itu diterbitkan. Hal paling menarik dari pembedahannya terhadap karya Lanang adalah soal ??Pengendara Badai?? yang dinilainya belum layak disebut novel.

Menurut dia, istilah novel agaknya kurang tepat. Melainkan akan lebih tepat disebut sebuah memoar. Alasan dia, karena isi dari novel itu bercerita tentang perjalanan dunia kesenian seorang Lanang Setiawan. Meski demikian, Halim sangat menghomati kejujuran penulisnya saat mengungkapkan semua perjalanan yang dia alaminya. Termasuk kejujuran mengakui hal-hal yang bersifat pribadi.

Nilai Kejujuran Hal yang sama juga diungkapkan Maufur. Mantan Wawalkot Tegal dan Rektor UPS Tegal menilai, novel yang itu banyak menekankan tentang nilai kejujuran. Berdasarkan itulah Maufur tertarik merogoh koceknya untuk membantu menerbitkan karya tersebut.

Hujan deras yang mengalami diskusi yang dipandu Nurhidayat Poso yang juga sebagai Ketua Penyelenggara dari Pesisir Foundation, terasa tak lagi menebarkan udara dingin. Bahkan yang terasa adalah suasana memanas karena perdebatan serius.

Apalagi saat penyair dan penulis esai Suriali Andikustomo secara tegas berani membela karya Lanang. Menurut dia, novel tersebut tak perlu lagi direvisi. Karena hal itu sifatnya novel.

Suriali malah menganjurkan kepada penulisnya, agar membuat sebuah karya yang baru. ?Menurut saya, Lanang tidak perlu merevisi. Alangkan baiknya Lanang bikin karya lagi. Tentu yang lebih heboh dari sekarang,? ucap dia, yang langsung disergah Halim, bahwa sebuah data itu harus otentik.

Di sisi lain, bedah dan peluncuran novel berlangsung cukup menarik. Meski dihadiri kalangan terbatas dan dalam jumlah terbatas pula. Kemenarikan selain dari diskusinya, juga saat awal acara digelar.

Terutama saat saat Eko Tunas membawakan monolog berjudul ??Tragedi Jatilawang??. Kisahnya yang tertulis di salah satu bagian novel itu, merupakan pengalaman pribadi sang penulis novel ??Pengendara Badai??.

Selain kepiawaian Eko dalam bermonolog, lantunan musik yang mengiringi sebuah tegalan berjudul ??Tragedi Jatilawang?? mengalir dalam irama orkestra yang digarap secara apik oleh violis Bintoro Tanpo Aran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *