Kenapa Malaysia Arogan, Kenapa Kita Loyo

A.S. Laksana*
http://www.jawapos.co.id/

INGATAN terkuat saya mengenai Malaysia adalah fakta lucu yang tertanam di benak tentang bagaimana penyair mereka membaca puisi. Dalam pembicaraan berdua dengan Sapardi Djoko Damono saat kami pulang dari sebuah acara, dia bilang, ”Penyair Malaysia itu ajaib sekali, Lak. Pernah ada satu acara, mereka membaca puisi secara play back.”

Saya membayangkan mereka membaca puisi seperti dua remaja Bandung yang bergaya seolah-olah sedang menyanyikan lagu Keong Racun. Jadi, mereka merekam dulu pembacaan puisi mereka. Ketika acara tiba, mereka tinggal naik ke panggung, mulut mereka berkecumik, dan tangan mereka bergerak-gerak seperti berdeklamasi.

Tetapi, negeri play back itu kini sedang membangkitkan pertanyaan serius di benak saya. Mengapa Malaysia sekarang terasa arogan bagi kita? Atau, sebelum itu saya akan mengubah dulu pertanyaannya: Apakah kemelaratan membuat kita lemah? Kelihatannya ya.

Dalam pengalaman keseharian kita, orang-orang miskin lebih sering bersikap inferior terhadap orang-orang kaya. Koes Plus pernah menegaskan perasaan rendah diri orang melarat itu pada salah satu lagu Jawa mereka, ”Koyo ngene rasane, dadi wong ora nduwe, mrono-mrene diece karo kancane dhewe (Beginilah rasanya, jadi orang melarat, ke sana kemari diejek oleh teman-teman sendiri).

Lagu itu menyusup begitu saja di kepala saya ketika sekali lagi kita diece -diejek, direndahkan, atau diprovokasi?-oleh Malaysia. Yang sangat saya inginkan sekarang adalah mendengar Presiden SBY membuat satu pidato lagi yang mengguncangkan dunia, atau setidaknya mengguncangkan Malaysia. Pidato semacam itu mungkin cukup untuk membalas perlakuan mereka. Atau, kita mau perang betulan dengan tetangga serumpun yang sekarang suka memprovokasi tersebut?

Mungkin itu bukan pilihan yang menarik. Dengan kondisi yang lebih makmur dan korupsi yang tingkatnya sangat kecil jika dibandingkan dengan Indonesia, mereka memiliki kemampuan berbelanja alat-alat perang yang lebih baik daripada kita. Mungkin sekarang mereka memiliki beberapa puluh rudal yang dalam beberapa menit akan sanggup menghancurkan Jakarta. Jika itu terjadi, akan pindah ke mana ibu kota kita? Kembali ke Jogjakarta seperti zaman dulu atau memikirkan lagi kemungkinan untuk memindahkannya ke Jonggol?

Jangankan membuat pidato yang mengguncangkan Malaysia, presiden ternyata lebih berminat memberikan kuliah umum tentang tenaga kerja Indonesia di Malaysia yang jumlahnya 2 juta orang, tentang pelajar Indonesia di Malaysia yang jumlahnya 13.000, dan sebaliknya, pelajar Malaysia di Indonesia yang jumlahnya 6.000.

Apa yang bisa kita kaji dari kuliah umum presiden di Mabes TNI Angkatan Darat hari Rabu (1/9) itu? Sebuah fakta tentang kemunduran. Dulu Indonesia adalah semacam ”saudara tua” bagi negeri jiran itu. Suatu hari pada masa kuliah, saya pernah bertanya kepada teman saya, mahasiswa dari Malaysia, mengapa memilih kuliah di UGM. Dia menjawab bahwa dirinya mendapatkan beasiswa dari negara. Di Malaysia, Indonesia adalah negara tujuan kedua bagi para pelajar yang hendak kuliah. Pilihan pertama adalah Inggris.

Sekarang situasinya berbalik. Menurut angka statistik yang disampaikan presiden, kita lebih banyak berguru ke sana. Di samping itu, Malaysia menjadi negara tujuan utama bagi para pembantu rumah tangga dan buruh karena negeri itu mampu membayar gaji jauh lebih tinggi ketimbang jika kita menjadi buruh atau pembantu rumah tangga di negeri sendiri. Karena itulah, sekalipun banyak cerita tentang pembantu yang disetrika oleh majikannya, orang seperti tidak kapok untuk berangkat ke Malaysia dan menjadi pembantu rumah tangga di sana. Sekalipun ada perlakuan yang tidak menyenangkan bagi para pendatang Indonesia, itu tak apa-apa. Di negeri sendiri perlakuan terhadap mereka toh tidak lebih baik. Maka, sama-sama tidak mendapatkan perlakuan yang baik, di Malaysia lebih mendingan karena bisa mendapatkan gaji lebih besar.

Di sela-sela kuliah umum statistik itu, presiden juga membuat pernyataan yang susah diuji kebenarannya dan saya kira cenderung memuji diri sendiri. Dia menyebut-nyebut tentang keprihatinan. ”Dan apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang dan ke depan ini sesungguhnya juga cerminan dari keprihatinan kita,” katanya.

Apa yang dilakukan pemerintah sekarang ini dan ke depan yang merupakan cermin keprihatinan? Maksud saya, pemerintah melakukan apa yang mencerminkan keprihatinan bangsa? Perilaku seperti apa yang sudah ditunjukkan oleh aparat pemerintahan, misalnya, yang mencerminkan itu? Mungkin satu-satunya yang mencerminkan kemelaratan kita adalah kelembekan bersikap dan ketidakmampuan menegakkan kepala sendiri.

Ada hal yang sepertinya harus dirumuskan ulang tentang ”cerminan keprihatinan” yang disampaikan oleh presiden.

Lebih dari itu, sebetulnya saya pribadi tidak ingin mendengarkan pidato bahwa pemerintah mencerminkan keprihatinan rakyat. Saya berpikir bahwa kita harus punya cara untuk membuat Malaysia jera. Itu mungkin pikiran yang muluk-muluk. Sebab, memuluskan perjanjian ekstradisi dengan Singapura saja kita gagal. Kita tak bisa berbuat apa-apa terhadap para koruptor yang melarikan uang curian mereka ke negeri mungil tersebut.

Menyangkut hubungan panas-dingin dengan Malaysia, masalah utama tampaknya bukanlah karena mereka merasa lebih kuat. Saya kira lebih tepat karena kita sendiri yang telah membikin diri sendiri patut diperlakukan seperti itu. Kita telanjur menjadi bangsa penurut. Tabiat semacam itu membuat tulang-belulang kita menjadi lunak dan suara kita tak didengar.

Malaysia tentu saja perlu terus-menerus memupuk kepercayaan diri. Anda tahu, mereka tidak memiliki masa lalu sekaya negeri ini. Tentang hal tersebut, Anda bisa melacak dari betapa miskin kajian sejarah yang dilakukan oleh para sarjana tentang negeri mereka. Tetapi, Anda tahu, masa lalu adalah sesuatu yang tertinggal di belakang sana. Ia menjadi sangat berarti ketika pada masa sekarang kita tegak menjulang. Pada masa lalu kita lebih jaya, pada masa sekarang mereka lebih kaya. Ketika didera krisis ekonomi, mereka cepat memulihkan diri. Sedangkan kita terus tersengal-sengal hingga sekarang. Saya kira mereka pantas merasa lebih unggul dariapada Indonesia. Sesuai dengan lagu Koes Plus, yang lebih melarat memang patut dihina. Bukankah terbukti bahwa tidak ada risiko apa pun ketika mereka melakukan tindakan seperti itu?

Sekarang, untuk menjawab pertanyaan kenapa Malaysia bisa berlaku congkak terhadap kita, saya memikirkan beberapa hal tentang itu. Pertama, mereka tahu bahwa mereka bisa berbuat apa saja dan kita tak bisa apa-apa. Bahkan, pemerintah kita juga tak bisa apa-apa ketika ada pembantu rumah tangga dari desa-desa kita disetrika di Malaysia. Kedua, Malaysia merasa tidak masalah saat melakukan tindakan itu kepada kita. Siapa yang akan marah kepada Malaysia? Rakyat? Rakyat bukan pembuat keputusan. Yang bisa dilakukan oleh rakyat paling-paling memamerkan kedigdayaan dengan atraksi makan beling seperti yang ditunjukkan relawan ganyang Malaysia beberapa waktu lalu. Pembuat keputusan adalah pemerintah.

Namun, pemerintah kesulitan untuk membuat keputusan. Negeri ini tak mampu memelihara rakyat sendiri. Nafkah sulit dicari di negeri sendiri karena sudah dikeruk oleh orang-orang macam Gayus dan sebagainya. Jumlah orang semacam Gayus banyak sekali di sini -dengan berbagai variasi manuver. Kekayaan negeri ini (konon negeri ini kaya) tidak sanggup menyejahterakan rakyat yang tinggal di dalamnya. Dalam situasi seperti itu, tampaknya, musykil bagi kita mendesak pemerintah untuk bersikap lebih tegas.

*) A.S. Laksana, beralamat di aslaksana@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *