Laluan Kemuliaan dari Helat Seni

(Catatan Festival Seni Pelajar Bengkalis, 2010)
Musa Ismail*
http://www.riaupos.com/

Helat Seni Menjunjung Negeri, Festival Seni Pelajar merupakan suatu tema inspiratif. ??Kenduri seni?? Kabupaten Bengkalis 2010 ini merupakan kegiatan tahun kelima dan tahun pertama setelah Meranti memisahkan diri.

Acara yang berlangsung sejak tanggal 17?21 Aprail 2010 ini, menyimpan mimpi tersendiri dalam merepih jalan kemuliaan, jalan kesenian. Hidangan yang disajikan dalam talam ??kenduri seni?? ini di antaranya zapin kreasi, zapin tradisi, sayembara penulisan puisi, kaligrafi, bersyair, jual-beli pantun, sandiwara klasik, berlanggam Melayu, mendongeng, vokal grup, busana Melayu, melukis, dan kompang. Semuanya dikemas dalam roh Melayu untuk tingkat SMA/MA/SMK se-Kabupaten Bengkalis. Dalam pandangan saya, pelaksanaan tahun 2010 ini bernilai lebih ranggi daripada sebelumnya. Hal ini dikarenakan ada suatu kejutan yang memuliakan derajat seniman/budayawan/sastrawan.

Beberapa seniman/budayawan/sastrawan yang ikut serta dalam kenduri ini di antaranya Asrizal Nur, Syaukani Al Karim, Hang Kafrawi, Musrial Mustafa, Riza Pahlevi, Usman, Harry Kumbara, Suhaimi, Jefry Al Malay (dan beberapa nama besar lain yang tergabung dalam Sanggar Tasik Bengkalis serta nama-nama lain yang tak bisa disebutkan satu per satu), termasuk kru AKMR (Akademi Kesenian Melayu Riau). Bengkalis jadi begitu mulia karena telah bertahun-tahun menetas jalan kemuliaan berkesenian dengan begitu konsisten.
Bukan menyanjung-sanjung. Apalagi mengada-ada. Helat Seni Menjunjung Negeri ini adalah suatu pembelajaran yang sangat luas.

Nilai-nilai kesejatian diri sebagai anak bangsa ?sadar atau tidak? bagaikan aurora yang begitu mempesona terpancar di lengkungan kehidupan berkesenian Bengkalis sebagai Negeri Junjungan. Kabupaten ini masih bisa mencabar secara konsekuen bahwa para penggiat seni di negeri ini mampu melestarikan aktivitas seni secara berkesinambungan. Paling tidak, melalui kegiatan ini, akan membangun karakter penerus bangsa yang kaya akan nilai-nilai kemulian dari suatu kesenian. Mungkin bagi daerah lain di Riau, apa yang telah dilakukan penggiat seni di Bengkalis merupakan refleksi yang patut dijadikan sandaran dan teladan. Daerah mana lagi di Riau ini yang mampu secara bersinambungan melaksanakan ??kenduri seni?? seperti ini? Ini suatu cabaran terhadap dunia kesenian di Riau.

Untuk sebagian yang buta dan tuli, kegiatan seperti ini mereka anggap menghambur-hamburkan kekayaan negeri. Namun, kalau mereka telisik, Helat Seni ini telah melahirkan generasi-generasi seniman. Beberapa nama di antaranya aktif di beberapa sanggar di Pekanbaru. Sebut saja nama Syarifuddin dan Ridwan (aktif teater di Pekanbaru). Rido, Ayu, dan Ardhi (aktif sebagai musisi di Pekanbaru), dan Susi Lunetta (perempuan penyair muda Riau yang bermastautin di Batam, sebelumnya siswa SMAN 3 Bengkalis). Lahirnya generasi-generasi seni tersebut memberikan suatu bukti bahwa ??kenduri seni?? ini begitu bergizi tinggi, begitu tangguh, bahkan begitu mulia. Untuk kesekian kalinya, inilah suatu pembelajaran berharga.

Pembelajaran berikutnya bahwa Helat Seni turut membangunkan para pendidik untuk bergegas berkarya, membimbing, memotivasi, dan mengilhami peserta didiknya untuk menjadi batu mulia. Secara tidak langsung, telah terjadi pergeseran sikap dan pemikiran bahwa suatu kesenian itu patut dibentangkan dan dihidangkan kepada siapa saja. Gembok-gembok pikiran yang selalu berkata bahwa kesenian hanya untuk ??orang gila dan tak punya kerjaan?? patut terkikis secara sporadis, bukan perlahan-lahan. Bangsa dan negara ini akan menjadi benar-benar gila jika pemerintah dan rakyatnya sama sekali tidak peduli dengan kesenian. Bukankah tidak peduli dengan kesenian, berarti tidak peduli dengan kemuliaan?

Pembelajaran seperti inilah merupakan proses sebenarnya. Para peserta didik sebagai generasi dihadapkan pada suatu kenyataan hidup. Kenyataan hidup tersebut membungkus akhlak/budi pekerti luhur, kreativitas, karya, kehidupan sosial, komunikasi, toleransi, berjiwa besar, dan berlaksa nilai kemuliaan lainnya. Peserta didik bagai berada pada suatu tamasya yang berbeda daripada di lingkungan sekolah. Pembelajaran berkesenian seperti ini menjadikan kehidupan mereka lebih berarti, berharga, dan merasa lebih menghargai keluhuran Melayu.

Keluruhan Melayu yang dibungkus dalam kegiatan seperti ini merupakan kejeniusan etnik/lokal. Keluruhan tersebut bisa dikebat lebih rapi lagi sehingga membentuk kekuatan-kekuatan budi pekerti yang selama ini semakin terkikis. Selain itu, muatan lokal yang menjadi inti tersebut patut mendapat tempat tinggi dalam khazanah dunia pendidikan kita. Nilai-nilai muatan lokal inilah yang patut terus kita pacakkan sebagai tiang seri untuk menyangga dari kerapuhan.

Kekuatan seni dan budaya sebagai produk di suatu daerah merupakan inti dari kekuatan bangsa. Pengetahuan dan kepemilikan seni dan budaya mencerminkan sikap kita dalam mengarungi interaksi mengikuti modernisasi dan tata pergaulan antarbangsa. Suatu negara (negeri) tidak akan berarti jika pemimpinnya tidak menghargai seni(man), sastra(wan), atau budaya(wan). Dari sinilah bermula, helat seni tahun ini agak berbeda. Malam Selasa (19/4), terasa bagai gemuruh, datang tiba-tiba. Bupati Bengkalis, H Syamsurizal, memberikan kejutan penghargaan kepada tiga penggiat seni di Bengkalis, yaitu Musrial Mustafa (memperoleh uang Rp15 juta + plakat), Usman (memperoleh uang Rp15 juta + plakat), dan Ketua Sanggar Tasik yang diwakili Harry Kumbara (memperoleh uang Rp20 juta + plakat).

Semoga saja ini suatu bukti penghargaan yang begitu ikhlas sehingga menjadi program berkelanjutan bagi bupati terpilih yang akan datang. Semoga laluan kemuliaan di negeri ini tak lagi ditumbuhi semak-samun atau sampah-sampah tak berguna. Semoga pemimpin-pemimpinnya bukan semak-samun atau sampah-sampah yang saya maksudkan itu. Jangan tersinggung pulak!***

*) Guru SMAN 3 Bengkalis. Penulis cerpen, esai budaya/sastra, novel, dan puisi. Novelnya yang baru terbit berjudul Lautan Rindu (Bandung: Mujahid Press, 2010).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *